Ihwana Mustafa, Merayakan Perubahan-Perubahan Kecil yang Baik

Selasa 23 Februari 2021
Setelah belasan tahun berpindah-pindah kerja di Nusa Tenggara, Jawa, dan Sumatera, Ihwana Mustafa akhirnya mendapat kesempatan bekerja untuk anak-anak di Makassar, kota kelahirannya. Selama tiga tahun program, Wana dan rekan-rekannya berjuang membantu anak-anak dan keluarga di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam hal perlindungan anak, pelatihan ketrampilan remaja dan bisnis, serta pengelolaan keuangan keluarga.

Nama programnya BRIGHT, singkatan dari Bring and Give Hope Outside of Trash. Program Save the Children ini berjalan sejak tahun 2017 hingga 2020. Sebagaimana harapan ditumbuhkan dari anak-anak dan keluarga pemulung, banyak harapan perubahan tersemat untuk program yang dijalankan oleh Wana dan tim. Bahkan mungkin terlampau besar.

"Ketika kami sudah masuk, banyak harapan yang orang berikan untuk kami melakukan banyak perubahan, tetapi kan kita bukan superhero untuk menyelesaikan segala persoalan. Itu tantangannya, banyak sekali persoalan di sana, sangat kompleks," ungkap Wana.

Meski begitu, tetap ada perubahan-perubahan yang bisa dicatat dan dirayakan. Sesuatu yang disebut Wana bisa "membuat kita terus termotivasi untuk terus melakukan sesuatu menjadi lebih baik".

Wana bergabung dengan Save the Children pertama kali pada 2016 untuk Program BRIGHT. Sebelumnya, dia telah bekerja selama 13 tahun di dua LSM dengan berganti-ganti posisi, antara lain sebagai fasilitator lapangan, koordinator, manajer, dan spesialis gender. Isu-isu yang dikerjakan termasuk pembangunan dan kemanusiaan, anak-anak dan kaum muda, pendampingan komunitas, gender, serta pengurangan risiko bencana.

Ketertarikan bekerja di bidang sosial dan kemasyarakatan tumbuh setidaknya sejak kuliah. Wana, yang belajar jurusan keguruan di Makassar, terlibat aktif dalam organisasi politik kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa, termasuk pecinta alam. Melalui komunitas mahasiswa itu, Wana dan kawan-kawan juga melakukan bakti sosial di sejumlah daerah sekitar Makassar dan menjadi relawan di organisasi kebudayaan lokal.

"Rasanya kok mengasyikkan ya, bekerja dan bertemu dengan masyarakat, melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan, sosial, dan termasuk yang berhubungan dengan lingkungan," ucap Wana.

Setelah lulus, Wana bekerja di sebuah LSM internasional. Sementara itu, kedua orang tua memintanya untuk mendaftar sebagai guru PNS. Permintaan ayah ibunya pun disanggupi, bahkan dalam dua kesempatan seleksi, meskipun akhirnya tetap tidak lolos. Menurut Wana, orang tuanya masih menganut prinsip bahwa "yang dihitung bekerja itu ya PNS".

"Meskipun begitu, orang tua tetap mendukung pekerjaan saya (di LSM). Luar biasa dukungan mereka," kenangnya.

20210223-Web-CeritaStaf-IhwanaMustafa-1-(1).jpg

Setelah 16 tahun berpindah-pindah posisi dan lokasi kerja, Wana bergabung ke Save the Children sebagai manajer untuk Program BRIGHT. Secara kebetulan, kesempatan kerja ini datang justru ketika dia hendak berhenti sejenak dari kerja-kerja LSM. Dia pernah ditawari kontrak kerja permanen di Jakarta, tetapi akhirnya tidak mengambil tawaran itu – setelah proses pertimbangan panjang – karena memilih kembali ke Makassar demi kedua anak.

Kesempatan bekerja di Makassar juga menjadi jawaban atas kerinduan lama Wana untuk betul-betul berkontribusi bagi daerah kelahirannya. Menurut Wana, dia kadang diledek sebagai "orang Sulawesi tapi tidak pernah bekerja di sini". Pasalnya, dia sering berbagi pengalaman kerja di luar Sulawesi kepada orang-orang di tempat asalnya, termasuk pemerintah setempat, tetapi belum pernah bekerja langsung di sana.

Selain itu, program ini juga mengantarkan Wana kembali pada kerja-kerja sosial yang fokusnya ke anak-anak. Pekerjaan dia beberapa tahun sebelumnya tidak lepas dari intervensi dengan anak-anak, yaitu edukasi pengurangan risiko bencana di sekolah.

"Akhirnya saya merasa ada ruang lagi untuk benar-benar fokus, berkontribusi untuk program-program pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan anak. Apalagi, itu kota sendiri," ungkap Wana.

Ketika bercerita tentang Program BRIGHT, "kompleks" adalah kata yang paling sering diucapkan Wana. "Amat sangat kompleks, persoalannya sangat banyak," ujarnya.

Menurut Wana, TPA telah menjadi lahan yang bisa menghasilkan uang dengan relatif cepat dan mudah, tetapi ini sekaligus menjadi tempat terburuk bagi anak. Berbekal tenaga dan kantong untuk mencari beragam sampah plastik, lalu angkut ke ke pengepul, timbang, rupiah pun dikantongi.

Namun di sisi lain, anak-anak yang ikut orang tua mereka ke tempat ini menghadapi risiko besar yang mengancam kesehatan, pendidikan, bahkan keselamatan mereka. Hal buruk yang pernah terjadi di Makassar, ada anak-anak yang meninggal setelah terjatuh dari truk sampah. Salah satu risiko keselamatan lain misalnya kebakaran karena gas dari sampah yang terjadi hampir setiap tahun setiap musim kemarau.

"TPA sebenarnya tidak boleh diakses oleh manusia. Jangankan oleh anak, orang dewasa sekalipun sebenarnya tidak boleh mengakses (TPA). Tetapi kan ada persoalan lain lagi, misalnya sistem pengelolaan sampah kita di Indonesia yang dirimu tahu ya seperti apa," tutur Wana, mengimplikasikan sistem pengelolaan yang masih buruk.

"Pemerintah sendiri seharusnya menjaga pintu itu supaya tidak boleh diakses oleh manusia karena persoalan kesehatan, keselamatan, dan segala macam; tetapi pemerintah juga tidak berdaya," lanjutnya.

Kemudahan mendapatkan uang dari sampah di TPA Makassar telah menjadi semacam magnet yang menarik orang-orang dari luar kota untuk datang, tinggal, dan memulung rupiah. Profil penduduk sekitar TPA yang sebagian besar pendatang, apalagi sangat mungkin orang-orangnya bertambah atau keluar-masuk, membuat intervensi program BRIGHT semakin kompleks.

"Misalnya kami bisa menarik sekian orang anak yang sudah kami data, menghubungkan mereka dengan bantuan sosial supaya bisa tetap sekolah; tetapi setelah itu, ada anak-anak lain lagi, itu bagaimana, siapa yang bisa menjamin?  Memang ada peluang di situ, ada ruang yang bisa membuat mereka masuk TPA sepanjang sistem pengelolaan sampah kita tidak dibenarkan," tutur Wana.

Belum lagi persoalan minat belajar anak-anak yang bisa hilang setelah mereka merasakan "mudahnya" mencari uang di TPA, persoalan narkoba, serta persoalan tempat tinggal anak-anak yang tidak jelas karena ikut orang tua bolak-balik kampung setiap pergantian musim tanam.

"Persoalannya sangat kompleks, makanya di refleksi kami, program seperti BRIGHT itu enggak cukup kalau hanya tiga tahun. Kalau kami mau membuat model itu nggak cukup karena banyak piranti yang harus dibangun, mulai dari soal kebijakan hingga bagaimana bekerja antar kota dan kabupaten terkait isu pendatang," tutur Wana.

Meskipun waktu program relatif pendek dan cakupan area kerja terbatas, perubahan-perubahan baik tetap terjadi. Wana bercerita setidaknya mereka telah berkontribusi membangun sistem perlindungan anak-anak yang bisa diakses oleh warga di lingkungan TPA. Jika ada persoalan atau kasus yang berhubungan dengan anak-anak, orang-orang bisa dengan cepat terlayani karena ada sistem di tengah mereka.

Bagi Wana, secara umum ada empat capaian kunci BRIGHT yang membanggakan. Pertama adalah keberadaan sistem perlindungan anak di lingkungan TPA, yang mengadopsi model Community Based Child Protection (CBCP) atau Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), lalu diberi nama "shelter warga".

Melalui komite shelter warga yang kini dikelola swadaya, warga yang butuh layanan akta kelahiran atau bantuan terkait sekolah anak misalnya, bisa dihubungkan ke pihak berkepentingan yang bisa membantu.  Bahkan ada tiga shelter warga dampingan Save the Children yang sering menjadi model percontohan bagi pemerintah Makassar.

20210223-Web-CeritaStaf-IhwanaMustafa-2.jpg

Kedua adalah keberadaan kelompok simpan pinjam warga yang memakai konsep Village Savings and Loan Association (VSLA). Sebagian warga sekitar TPA setempat, yang cenderung konsumtif dan sering bergantung pada rentenir, kini bisa menabung dengan mudah di VSLA. Warga juga bisa meminjam uang tanpa bunga dari VSLA, tidak lagi dari rentenir yang biasanya memasang bunga pinjaman cukup tinggi. Selain itu, warga juga bisa belajar literasi keuangan, pengasuhan, dan informasi kesehatan lewat VSLA ini. Salah satu tujuannya tidak lain supaya anak-anak bisa mendapatkan dukungan pendidikan dan pengasuhan yang lebih baik.

Ketiga adalah keberadaan pusat kegiatan anak-anak. Di sini, anak-anak pemulung bisa bermain dan belajar dengan lebih aman. Wana bercerita bahwa ada sekelompok warga yang melihat bahwa pusat kegiatan ini baik, lalu mereka berinisiatif membuat sendiri untuk lingkungan pemukiman mereka. Sampai sekarang, pusat kegiatan ini masih berjejaring dengan relawan-relawan mahasiswa yang bisa datang untuk mengajar anak-anak.

"Apalagi pada masa pandemi, ketika anak-anak belajar daring (online), terbayang enggak orangtua yang hanya tamat SD, harus mengajar anak mereka? Dengan adanya pusat kegiatan anak ini, yang terhubung dengan shelter warga, banyak anak khususnya dari keluarga pemulung jadi terbantu belajar," ujar Wana.

Keempat adalah hasil dari pelatihan ketrampilan kerja. Selama masa program, Wana dan tim mendampingi orang dewasa dan remaja dengan kegiatan pelatihan ini. Sampai kini, sudah ada beberapa orang dari keluarga pemulung yang membangun usaha lain, misalnya penatu (laundry), potong rambut, perbaikan AC, dan berdagang beras.

"Hal-hal semacam itu membanggakan bagi saya secara personal dan sebagai bagian dari tim program, meskipun banyak tantangan, apalagi kemarin kami ditempa pandemi Covid-19 – yang harusnya capaian itu sudah bisa sekian, tetapi jadi terpengaruh."

"Saya selalu bilang begini, 'Sekecil apapun itu, kita harus merayakan dan menghargai apapun bentuk yg sudah kita hasilkan karena itu akan membuat kita terus termotivasi untuk terus melakukan sesuatu menjadi lebih baik.' Sekecil apapun, itu harus dihargai, apalagi kerja teman-teman sudah luar biasa," ungkap Wana.

20210223-Web-CeritaStaf-IhwanaMustafa-3.jpg

Setelah program selesai, Wana tetap menjalin komunikasi dengan warga-warga penerima manfaat Program BRIGHT. Kadang ada warga yang bertanya atau meminta bantuan teknis dan Wana membantu mereka, meskipun dukungan terbatas karena program sudah tutup.

"Saya berpikir, selama masih ada Save the Children di situ, saya mau berkomitmen untuk tetap menjadi bagian dari mereka, menjadi teman untuk berbagi cerita. Kemudian, saya juga sebagai orang Makassar, saya nggak ke mana-mana, ada ikatan emosi. Program-program lain saya yang sudah selesai bertahun-tahun lalu saja masih punya komunikasi, apalagi ini saya masih di sini," tuturnya.

Kini, Wana bekerja sebagai manajer untuk area program Sulawesi dan mendampingi anak-anak serta keluarga di sektor kakao. Tantangan tentu berbeda lagi dan perjalanan masih panjang. Namun dua hal yang selalu dia pegang adalah bagaimana dirinya bisa "bekerja dengan hati" untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bagaimana dirinya harus bisa berempati ketika memahami situasi masyarakat.

"Mungkin kita sudah sering dengar dari banyak orang. Dalam bekerja di sini, bekerjalah dengan hati," kata Wana. "Pekerjaan seperti kita ini, kita harus melampaui batas, nggak ada lagi bilang sekian persen atau misalnya pekerjaan utama saya hanya ini. Ketika kita sudah bekerja di masyarakat, mereka melihat kita seperti seseorang yang akan menjadi tempat mereka bertanya dan berbagi. Kita harus siap dengan semua itu." •


––
Artikel: Purba Wirastama
Foto-foto: Dok. pribadi Ihwana Mustafa