Tapi di Menit Itu ada Suara Tukang Ember Lewat

Rabu 16 September 2020

Hilman Musanna: Tapi di Menit Itu ada Suara Tukang Ember Lewat


Bagi Achmad Hilman Musanna (30), mendengarkan dan mengedit materi audio yang jumlahnya berjam-jam harus dilakoninya di Program TRANSISI. Sekian jam audio itu adalah materi pengajaran ibu-ibu guru PAUD, yang kemudian diolah menjadi delapan episode berdurasi masing-masing satu jam untuk disiarkan di dua radio lokal Lombok Utara.

Hilman sudah bekerja di Save the Children Indonesia sejak tahun 2014. Mengedit materi audio ini mengingatkan dia pada masa lalu saat pernah terlibat dalam komunitas pecinta dan pembuat film amatir di Bandung, Jawa Barat. Perangkat editing yang ideal, menurut Hilman, adalah sebuah aplikasi komputer yang biasanya digunakan ketika ia mengedit film.

“Karena harus membayar, saya cari yang open source. Pada awalnya, harus adaptasi. Ibaratnya, saya seperti supir tembak. Biasa bawa becak, sekarang bawa angkot,” kata Hilman sambil terkekeh.

Yang unik, penamaan program radio ini sengaja dibuat sama dengan singkatan nama kabupaten tempat program ini dijalankan.

“Sengaja dibuat begitu biar orang paham K-L-U itu bisa bermakna Kabupaten Lombok Utara dan Kelas Lintas Udara. Gampang orang ingatnya,” ungkap Harun Anggo, Manajer di Save the Children untuk area Nusa Tenggara Barat.

Menggarap konten audio dengan guru-guru, yang mana tidak punya pengalaman merekam suara sendiri, jadi tantangan yang Hilman rasakan perbaikannya dari episode pertama hingga episode terakhir.

“Kami terus belajar supaya para guru ini nyaman dan lebih baik hasilnya agar para pendengar paham apa yang diajarkan,” lanjut Hilman.

Awalnya, tantangan produksi beragam. Misalnya, guru kesulitan untuk fokus mengajar tanpa murid, terburu-buru berbicara sehingga tidak jelas apa yang disampaikan, kehilangan arah pembicaraan di tengah-tengah, atau beberapa guru tidak paham akan latar belakang suara (ambience) rekaman yang berisik.

Dari sisi Hilman sendiri, tantangan awal saat dia mengedit materi rekaman ini adalah membuat pendengar yang ditargetkan (anak-anak dan orang tua) memahami konten. Itu termasuk "membersihkan" ucapan kata seru seperti "ya" atau "eh" yang berlebihan. Salah satu pengalaman lucunya, ia ingin mengambil kata "jadi" dari menit pertama untuk disalin dan disematkan di menit ketujuh.

"Tapi di menit pertama itu, ada suara pedagang ember lewat rumah ibu guru. Suara teriakannya cukup jelas, jadi nggak bisa saya ambil," ujar Hilman terbahak.

Istilah "building ship while sailing" tidak salah diterapkan untuk program Kelas Lintas Udara (KLU) yang digawangi Hilman. Ia mengakui sulit menemukan panduan untuk membuat materi pengajaran PAUD dalam bentuk siaran radio. Akhirnya, ini adalah sebuah  proses belajar sambil praktek.

Ketika para guru diminta untuk membuat skenario agar tidak hilang fokus dan materi pembicaraan, mereka panik dan keberatan. Namun ketika disebutkan bahwa skenario yang dimaksud tidak lain adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru-guru ini merasa senang dan lebih bersemangat untuk membuat materi lebih baik lagi.

"Sejak saat itu, guru-guru ini lebih terstruktur. Ada pembukaan yang berupa sapa, salam, kisi-kisi materi, penjelasan soal COVID-19 dengan bahasa yang dipahami anak, menjelaskan tema, recalling atau mengulang inti materi dan penutup," ungkapnya.

Hilman, yang mengaku buta nada, mencoba untuk memasukan efek suara dan lagu dalam materi KLU agar bervariasi. Namun kendalanya adalah sedikit sekali lagu-lagu anak berbahasa Indonesia yang bebas dari hak cipta.

"Beda dengan lagu-lagu berbahasa Inggris yang tinggal comot tanpa khawatir kena copyright strike dari Youtube," jelas Hilman lagi.

Untuk mengisi kekosongan tersebut, kontribusi staf di kantor Save the Children Lombok sangat berarti. Mereka menyanyi dan bermain musik dengan situasi seadanya. Ke depan, Hilman menyarankan agar Save the Children Indonesia memiliki bank atau database lagu anak-anak yang bebas hak cipta karena pasti akan digunakan oleh program-program lain.

Ketika ditanya apakah lebih efektif memberikan radio transistor atau hygiene kits untuk warga Lombok Utara, Hilman mengaku tidak tahu apakah TRANSISI akan ada untuk tahun-tahun mendatang.

"Yang pasti, dengan program di radio ini, warga jadi lebih kenal dengan Save the Children, terutama dengan Cici (Pretty Hamividya). Suara dia didengar setiap hari menjelang imsak dan buka puasa, menjelaskan soal COVID-19," kata Hilman.

Jelas radio bisa mengirim pesan apa saja, mulai dari materi pelajaran, pesan kesehatan, pengumuman partisipasi warga, diskusi, bahkan ceramah agama. Yang pasti, untuk Hilman, pengalaman membuat konten audio ini tidak lagi membuatnya khawatir ada suara latar tukang ember lain ketika guru PAUD menjelaskan materi ajar bagi murid-muridnya.

Web-2020-09-Cerita-Staf-Hilman-Musanna-1.jpg


--
Artikel ditulis oleh Ria Ernunsari
Diedit oleh Purba Wirastama
Foto dari dokumentasi pribadi Hilman Musanna