Henda Gandamanah, Kerja Keras 3 Tahun Akhirnya Terbayar

Jumat 27 November 2020
Banyak aktivitas program lapangan terhambat sejak pandemi. Tak terkecuali bagi Henda Gandamanah, Koordinator Program Selamat Save the Children di Jakarta Utara. Namun pada tahun 2020 ini pula, Henda merasakan hasil yang membahagiakan: kajian infrastruktur Zona Selamat Sekolah (ZoSS) buatan timnya digunakan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebagai salah satu sumber perencanaan anggaran pemerintah tahun 2021.

"Pas dengar kayak gitu, gue rasanya, yang selama ini kami lakukan, tahun 2018 ketok-ketok pintu (instansi pemerintah) dan gue disuruh pulang lagi, itu terbayar. Semua yang sudah kami lakukan itu akhirnya mereka akui dan justru mereka yang minta," ungkap Henda.

Kajian Pembuatan Peta Infrastruktur Zona Selamat Sekolah (selanjutnya disebut "kajian infrastruktur") adalah kajian yang diinisiasi oleh Program Selamat sebagai bagian dari kegiatan advokasi. Kajian dilakukan bersama New Future Disaster Management Center (NFDMC) dan beberapa instansi terkait, termasuk Dishub DKI Jakarta, di 20 sekolah dampingan program.

CeritaStaf-20201127-HendaGandamanah-Image-2.jpg

Kepuasan yang dirasakan Henda tidak bisa lepas dari relasi dan kepercayaan yang mereka bangun di program sejak tahun 2018. Dia bercerita, pekan demi pekan pada tahun pertama itu, mereka sering diremehkan. Namun setelah upaya pendekatan selama setahun, kini Henda dan timnya memiliki relasi solid antara lain dengan sekolah dampingan, kementerian dan dinas perhubungan, dan kepolisian.

"Sampai sekarang, mereka merasa Program Selamat ini milik mereka juga," ujar Henda.

Program Selamat (Sosialiasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas) adalah program implementasi pertama yang ditangani Henda sejak bergabung dengan Save the Children pada 2014. Awal mulanya, Henda pernah menjadi bagian dari departemen yang menangani kampanye penggalangan dana. Tahun itu, kegiatan galang dana baru saja diterapkan di kantor Save the Children di Indonesia.

Setelah satu tahun di tim kampanye galang dana, Henda masuk ke tim advokasi nasional. Ini adalah program kampanye yang diturunkan dari kampanye global Save the Children. Pada tahun 2014 misalnya, ada kampanye bertajuk Every One yang merespons persoalan tingginya tingkat kematian balita. Lalu pada 2015, ada kampanye bertajuk Every Last Child yang merespons persoalan anak-anak yang tertinggal dalam hal kesejahteraan sosial, terutama kesehatan dan pendidikan.

Pada 2017, Henda rehat sejenak karena harus menemani istrinya tinggal di Norwegia. Sekitar satu tahun kemudian, Henda kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Save the Children untuk Program Selamat. Saat itu, Program Selamat sudah pernah berjalan di Bandung dan membutuhkan tim untuk melaksanakan program serupa di Jakarta.

Namun, program ini belum punya desain atau perencanaan kegiatan yang rinci untuk wilayah Jakarta. Bahkan, belum ada instansi atau pemangku kepentingan lain yang sudah menjalin relasi dengan Save the Children. Henda menyebut bahwa ini adalah tantangan besar pertama yang dia hadapi di Program Selamat.

"Gue belajar banget bagaimana mendesain program dari awal. Program Selamat memang sudah ada di Bandung, tetapi di Jakarta desainnnya benar-benar beda karena kota dan konteksnya beda. Kita juga belum punya stakeholders yang sudah pernah dilibatkan. Instansi terkait perhubungan, dari level kementerian sampai suku dinas, kami nggak kenal siapa-siapa. Kepolisian juga. Ini kan instansi yang tegas satu arah. Tanpa mereka, program ini nggak bisa jalan karena mereka yang punya kewenangan lalu lintas," tutur Henda.

Tahun pertama Selamat, yaitu tahun 2018, akhirnya difokuskan untuk membangun kemitraan dengan pihak-pihak terkait. Namun ini juga tidak mudah. Henda masih ingat bagaimana mereka diremehkan, baik oleh orang-orang perhubungan, kepolisian, maupun sekolah. Pada masa awal, dia sering mendapat pertanyaan kritis tentang program ini dari guru-guru fasilitator, tetapi yang maksudnya sekadar menguji atau meledek.

Situasi ini bisa dipahami karena pesan keselamatan berlalu lintas bukanlah pengetahuan baru, semua orang sudah tahu.

"Semua orang sudah tahu harus pakai helm, nyebrang di zebra cross, karena aturan-aturan ini enggak pernah berubah (...). Ngapain ngomongin keselamatan lalu lintas? Kita sudah tahu. Polisi sudah datang (untuk memberi kampanye keselamatan lalu lintas)," ujar Henda.

"Namun, konsep pendampingan, itu belum pernah ada di Jakarta. Itu cuma Save the Children yang punya. Jadi waktu itu, gue menghabiskan banyak waktu buat menjelaskan itu dan meyakinkan bahwa ini benar-benar perlu," lanjutnya.

CeritaStaf-20201127-HendaGandamanah-Image-1.jpg

Setelah satu tahun intens meyakinkan instansi pemerintah, kepolisian, dan sekolah, Program Selamat kemudian berjalan lancar hingga tahun ketiga ini. Bahkan menurut Henda, rasanya program ini telah menjadi milik bersama. Salah satu contohnya adalah kepercayaan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang menggunakan dokumen hasil kajian infrastruktur sebagai rujukan perencanaan anggaran 2021 dan rencana pembuatan ZoSS pada tahun 2022.

"Mereka mau menerima kajian kami, yang mana itu memang target advokasi kami. Terlepas nanti mau jadi atau enggak Zona Selamat Sekolah-nya, kita sudah punya referensi yang sudah diakui oleh pemerintah," kata Henda.

Contoh lain adalah ikatan erat dari 20 guru fasilitator yang kini telah menjadi mitra strategis dari sekolah. Selama pandemi ini, kegiatan-kegiatan sosialisasi dilakukan secara online. Pada awalnya, ada keraguan apakah anak-anak sekolah bisa mengikuti ini secara online. Ternyata, antusiasme kegiatan tetap tinggi.

"Dalam satu sesi pelatihan online aja, pesertanya bisa lebih dari 600 orang dari 20 sekolah karena itu digerakkan oleh fasilitator guru dan orang tua," ujarnya.

Bagi Henda kini, membangun relasi adalah prinsip penting dalam kerja-kerja di lembaga non-pemerintah (NGO) seperti Save the Children. Menurut dia, pekerja NGO harus bisa berkomunikasi dengan semua pihak, baik eksternal maupun internal.

"Kerja di NGO itu bukan pekerjaan yang bisa kita lakukan sendiri. Biarpun kita punya dana besar misalnya, kalau pemerintah nggak dukung, kita mau apa? Atau beneficiaries kita nggak terima, kita mau apa? Buat gue sebagai koordinator, kerja di NGO itu paling penting adalah komunikasi internal dan eksternal. Ini bakal membantu pekerjaan banget. Pekerjaan bisa sama sekali nggak jalan karena salah di komunikasi," ungkapnya. •

CeritaStaf-20201127-HendaGandamanah-Image-4.jpg

--
Teks oleh: Purba Wirastama
Foto: Dok. Save the Children