Cerita Staf: Sederhana Saja

Rabu 13 Desember 2017
Dari murid justru kami belajar

Enung tampak berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Namun, apa daya emosi semakin kuat mendorong air matanya. “Dari murid justru kami belajar. Kunci menjadi guru adalah berhati bersih, menerima apapun kondisi anak didik. Karena anak merupakan bagian dari diri kita. Sehingga guru harus menerima anak dengan hati yang bersih” Jelas Neli sambil mengusap air matanya.

“Satu ketika tiba-tiba saya dipeluk dari belakang oleh salah satu murid. Sambil menangis dia berkata bahwa dia sayang dan tidak ingin saya sakit sehingga tidak bisa mengajar” peristiwa itulah yang selalu mengingatkan Enung alasan kenapa dia menjadi seorang guru.


Alfin memeluk erat Enung sambil menangis karena kehilangan dirinya yang harus berisitirahat mengajar beberapa hari karena sakit. Alfin merupakan satu dari empat anak dengan disabilitas yang belajar di SDN Ngamplang 2, Garut. Dengan bantuan dari program IDEAL Yayasan Sayangi Tunas Cilik, SDN Ngamplang 2 menerapkan perinsip sekolah inklusif sehingga anak-anak seperti Alfin dapat belajar dalam satu lingkungan belajar yang sama dengan anak lainnya.

“Itulah yang menjadi penyemangat bagi saya. Kekuatan untuk saya terus mengajar dan menjadi guru” tutur Enung sambil menahan air matanya. Ketulusan hati murid yang membuat Enung menyadari bahwa dia justru belajar dari Alfin dan murid lainnya.
Menjadi guru dan membantu anak-anak seperti Alfin. Itulah panggilan jiwanya.

Satu juta setengah

“Kami cukup dibayar satu juta setengah. Kami tidak minta dibayar mahal. Cukup satu juta setengah. Iya satu juta setengah, sabar, jujur, tawakal sampai terengah-engah” Jelas wanita yang mengenakan rompi itu penuh semangat dengan aksen sunda yang kental. Gelak tawa pecah memenuhi ruang pertemuan pagi itu.

Neli biasa mengenakan rompi kebanggaannya saat bekerja. Pada bagian depan tertulis Pekerja Sosial Masyarakat Kabupaten Bandung. Neli adalah seorang pekerja sosial yang tergabung dalam program Sistem Layanan Rujukan Terpadu atau SLRT . Program ini dibuat oleh Kementrian Sosial untuk meningkatkan pelayanan akses sosial kepada warga tidak mampu

Neli adalah satu dari sekian relawan SLRT yang dibayar satu juta setengah. Ya, satu juta setengah atau sabar, jujur, tawakal sampai terengah-engah. “Kami bekerja karena ingin membantu tetangga kami, orang-orang yang kami kenal dan warga kabupaten Bandung yang membutuhkan bantuan. Tidak pernah terpikir apapun selain itu” jelas Neli tulus.


Para relawan ini bertugas untuk membantu warga Kabupaten Bandung yang membutuhkan bantuan SLRT. Misalnya jika ada anak yang tidak dapat akses pelayanan kesehatan untuk pengobatan maka melalui SLRT akan membantu. Melalui program IDEAL, YSTC bekerjasama dengan SLRT dalam menangai isu sosial yang dihadapi oleh anak dengan disabilitas di Kabupaten Bandung.

Dengan penuh kebanggaan Neli menjelaskan jika dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai relawan. Meski hanya dibayar satu juta setengah.

“Saya dan teman-teman tidak mencari apapun selain ingin membantu. Tetapi kami bersyukur dengan satu juta setengah (sabar, jujur, tawakal sampai terengah-engah). Apalagi kita juga dapat Honda. Honor dari Allah” tutup Neli penuh kebanggan. Itulah panggilan jiwanya.


Sederhana Saja.

Perjalanan ke Kabupaten Bandung dan Garut membawa saya bertemu dengan Neli, Enung dan beberapa orang-orang hebat lainnya. Bertemu orang-orang seperti Neli dan Enung sungguh menyadarkan saya bahwa masih banyak orang baik. Orang baik yang benar-benar baik.

Begitu tulus membantu tanpa berpikir rumit. Karena memang itulah yang harus dilakukan. Hanya membantu. Hanya itu. Sederhana saja. Tidak perlu berpikir selfie pencitraan, tidak perlu berpikir postingan dengan kata-kata menginspirasi, tidak perlu berpikir apa kata orang, dan tidak perlu berpikir apa untungnya. Intinya tidak perlu repot ini itu. Mereka orang-orang hebat yang bekerja dalam sepi. Tanpa hingar bingar dan pujian dari orang lain. Tetapi bukan itu yang mereka cari. Semuanya berangkat dari ketulusan.

Pertemuan itu juga menyadarkan saya jika selama ini saya berpikir terlalu rumit. Sebenarnya sederhana saja, berbuat baik itu sungguh sederhana. Seperti Neli dan Enung serta orang-orang hebat lain yang terlibat dalam program kita di seluruh Indonesia. Melakukan sepenuh hati dari dalam jiwa. Tidak berpikir macam-macam yang seringkali sebenarnya tidak perlu dipikirkan.

Orang-orang seperti Neli dan Enung yang selalu membuat saya menikmati perjalanan ke wilayah kerja YSTC. Pesan berharga yang saya bawa pulang. Lakukan saja apa yang menjadi panggilan dalam hati, tidak perlu rumit berpikir. ‘Lentera Jiwa’, begitu Nugie menyebutnya dalam lagu yang ia nyanyikan.

---
Fandi Yusuf