Cerita Staf : Marni Silalahi

Jumat 17 Februari 2017
Di penghujung tahun 2016, saya merasa mendapatkan pengalaman luar biasa ketika mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Aceh Eathquake Response Team.
Menyusul gempa sebesar 6.4 SR yang melanda Aceh pada tanggal 7 Desember2016, Bang Ronald dari humanitarian team segera menuju lokasi sehari setelahnya, disusul saya dan Pak Zubedy yang menyusul di tanggal 9 untuk memulai asesmen kebutuhan dan melakukan koordinasi untuk sektor pendidikan dan perlindungan anak.

Sebelumnya, di bulan Oktober 2016, saya berkesempatan mengikuti pelatihan Education in Emergency yang diadakan oleh Asia Regional Office.  Melalui respon Aceh ini, saya melihat sebuah kondisi nyata di lapangan tentang kebutuhan dan tantangan-tantangan pendidikan di masa darurat, dan sebuah kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dan latihan yang saya peroleh waktu itu.

Save the Children adalah co-lead untuk Education in Emergency, bersama Unicef, STC akan mendampingi Kemendikbud untuk mengorganisir klaster pendidikan.  Itulah salah satu hal yang menjadi tugas staf yang dikirim di tahap awal respon. Ketika berada di Pidie Jaya, kabupaten yang paling terdampak oleh bencana ini, saya baru merasakan tantangan untuk melaksanakan tugas di tahap pertama ini.

Saat itu, klaster pengungsian dan perlindungan anak  (PP) sudah aktif, dengan dukungan dari klaster nasional yang juga berada di lapangan. Walaupun Mendikbud sudah mengunjungi lokasi sebelumnya,  klaster pendidikan saat itu belum aktif.  Data-data tentang dampak di sektor pendidikan masih kurang dan program kerja para penggiat pendidikan belum terkoordinasi, sehingga tim pendidikan YSTC (saat itu baru ada saya dan Imran) menginisiasi pertemuan koordinasi untuk sektor pendidikan yang pertama.  Selain itu,  YSTC turut menyampaikan kebutuhan aktivasi klaster pendidikan di tingkat kabupaten dan respon cepat dari tim Kemendikud pun tiba, menyusul kedatangan Menteri Pendidikan dan tim yang terdiri dari tim direktorat PKLK (Pendidikan Khusus dan layanan Khusus) Dikdasmen, dan PAUD Dikmas.  Senang sekali, pos klaster pendidikan didirikan di tanggal 17 Desember 2016. 

Beberapa kegiatan untuk respon pendidikan pun dipersiapkan untuk hari masuk sekolah kembali yang ditetapkan di tanggal 27 Desember. Bersama Fandi-communication CO, kami meminta persetujuan Pak mendikbud untuk media KIE kampanye kembali ke sekolah. Beliau setuju, bahkan menyarankan agar himbauan kembali ke sekolah disampaikan atas nama presiden. Koordinasi rutin dan kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag pun berlanjut untuk mengadakan Joint Education Need Assessment di 150 SD dan lembaga PAUD. 



Bersama Sofwan-MEAL coordinator, kami mendesain instrumen dan mengadakan pelatihan untuk enumerator. Kolaborasi dengan dinas pendidikan, UNICEF dan teman2 NGO (WVI, MDMC, Dompet Dhuafa, dll) untuk mengkampanyekan kembali ke sekolah dilakukan melalui kegiatan CFS/ Ruang Ramah Anak dan talkshow di radio.  Tidak kalah penting tentunya, YSTC mendirikan tenda-tenda untuk sekolah darurat, sebagai ruang belajar siswa sebelum Ruang Kelas Sementara yang dibangun oleh Kemen PU selesai.  Sebagai puncaknya, perayaan Kampanye Kembali ke Sekolah dilakukan di hari resmi kembali ke sekolah sesuai kalender akademik Pidie Jaya di tanggal 27 Desember. Bertempat di salah satu sekolah terdampak di Jiem jiem, dihadiri oleh Bupati, Kemendikbud, BNPB, Dinas Pendidikan, dan anggota klaster pendidikan lainnya. 

Pengalaman ini  membuat saya lebih menjiwai dual mandate untuk kerja development dan humanitarian, melihat isu-isu pendidikan secara lebih luas lagi dan saling terkait, sungguh merupakan kebanggaan menjadi bagian dari  tim yang selalu semangat dan kompak. Terima kasih untuk dukungan dari CO dan sukses Aceh Response Team!