Cerita Staf : I Putu Agus

Rabu 7 Maret 2018
Kemendikbud pada tahun 2015 menyatakan hanya 10 persen anak disabilitas yang terlayani pendidikannya. Hak anak dengan disabilitas (AdD) untuk mendapat pendidikan yang sama sebenarnya sudah ditegaskan dalam Undang-undang Perlindungan Anak no. 23 tahun 2002, namun nyatanya masih banyak sekolah yang belum mau menerima AdD.

Diskriminasi terhadap AdD tidak hanya dalam hal pendidikan. Menurut Wiwied Trisnadi, Project Manager Save the Children, AdD juga rawan mengalami kekerasan, berupa perundungan (bullying), baik secara verbal atau nonverbal. Tak sedikit anak yang mengejek atau bahkan melakukan perbuatan fisik pada AdD sehingga orangtua mereka tidak jadi menyekolahkan AdD ini.

Mengetahui kondisi tersebut, hati seorang I Putu Agus Sumiarta  terenyuh. Ia berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang bisa ia lakukan untuk membantu adik-adik tersebut. Secara finansial, ia tak merasa sanggup membantu. Ia kemudian berpikir bahwa pemberdayaan adalah bidang yang tepat baginya untuk berbagi.

Saat ini Putu mengabdikan dirinya sebagai seorang case worker di project IDEAL, sebuah proyek yang digagas oleh Save the Children-Indonesia untuk kesejahteraan dan pendidikan inklusi bagi anak penyandang disabilitas.

Fakta di lapangan tak dapat terelakkan bahwa anak dengan disabilitas rentan terhadap berbagai diskriminasi. Sebagai seorang case worker, ia bertanggung jawab untuk membangun jejaring tentang isu perlindungan anak, khususnya anak dengan disabilitas. Sistem jejaring ini dibangun mulai dari scoop yang paling rendah.


 
Tiga Dunia
“Saya bisa merasakan tiga dunia…”

Begitulah tutur I Putu Agus Sumiarta. Pria yang akrab disapa Putu ini merupakan seorang penyandang tunanetra. Ia bukan merupakan tunanetra sejak lahir. Penglihatannya perlahan menghilang sejak usianya 22 tahun. “Saya bisa merasakan tiga dunia; melihat dengan jelas, low vision, dan total blind.”

Sebelum akhirnya bergabung dengan Save the Children, Putu sudah aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Perhimpunan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) Kota Bandung. Ia juga menyalurkan bakat di bidang olahraga dengan tampil sebagai atlet Tolak Peluru dalam sebuah olimpiade olahraga yang ditujukan khusus untuk para penyandang tunanetra.

Diawali dengan berkarier di bidang teknik, Putu kemudian tidak lagi bisa melanjutkannya karena keterbatasan penglihatan pasca kecelakaan. “Waktu itu saya bawa motor saat sedang dinas subuh di salah satu hotel di Tanah Lot, Bali. Di jalan ternyata ada galian tanpa dipasang tanda hati-hati. Saya kemudian jatuh ke galian itu dan helm saya lepas.”

Benturan keras di kepalanya pada tahun 1999 rupanya baru terasa dampaknya tiga tahun kemudian. Masih lekat dalam ingatannya, hari itu 5 Februari 2002, ia merasakan silau saat melihat, kemudian ia perlu melirik untuk melihat sesuatu, hingga akhirnya total blind.“Awalnya sempat ada penolakan dulu ya. Kenapa saya? Saya juga menyalahkan orangtua, menyalahkan kenapa harus saya.”

Tekad yang sangat kuat untuk dapat melihat dengan normal lagi membuat Putu memutuskan untuk melakukan operasi pada matanya. Namun malang, operasi yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Operasi tersebut gagal dan membuat matanya mengalami kebutaan total. Momen pasca operasi justru menjadi titik balik dalam hidup Putu. Mengalami kebutaan total (total blind) akhirnya menyadarkan ia bahwa memang kondisi ini sudah digariskan oleh Tuhan untuknya. Ia kemudian meyakini Tuhan pasti memiliki rencana yang sangat indah untuknya.
 
Pindah Haluan

Tidak lagi dapat bekerja sebagai seorang teknisi, mau tidak mau Putu harus berpindah haluan. Terlintas dalam pikirannya bahwa ia dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan menjadi seorang guru. Universitas Pendidikan Indonesia merupakan kampus yang semula ia impikan untuk menimba ilmu. Namun sayang, di usianya yang sudah lebih dari 20 tahun tak memungkinkan untuk menjadi seorang mahasiswa baru di sana. Setelah mencari informasi, ia kemudian mendapat saran untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) di Bandung. Keputusannya untuk bersekolah di sana karena ia yakin bahwa setelah lulus dari sana, ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk berbagi dengan yang lain, khususnya di bidang sosial kepada para penyandang disabilitas.

Disabilitas menjadi sebuah fokus yang diberdayakan oleh Putu. “Karena saya juga merupakan penyandang disabilitas, saya tahu bagaimana rasanya. Saya kemudian termotivasi, apa yang bisa saya lakukan untuk mereka”, begitu ujarnya.

Selama menjadi pekerja sosial, ia pernah satu kali merasa amat terharu saat bisa membantu seorang anak tuna daksa untuk bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak itu merupakan seseorang yang dahulunya lahir premature, dengan berat yang tak lebih dari 9 ons. Karena premature, ia diharuskan untuk disinar dalam inkubator. Sayang, kaki kanannya justru menjadi melepuh dan akhirnya lepas dengan sendirinya saat ia disinar di inkubator. Putu kemudian berusaha mencarikan kaki palsu untuk anak tersebut, agar anak tersebut dapat lebih mudah mobilisasinya dan dapat bersekolah.

Impian Putu bagi disabilitas tidak muluk-muluk. Hanya dua harapan besarnya. Satu, kepedulian. Ia berharap masyarakat memahami bahwa semua orang memiliki perbedaan. Jadikanlah perbedaan itu sebagai keunikan, bukan suatu hal yang dianggap aneh. Dua, kepercayaan. Ia mengharapkan agar penyandang disabilitas dipercaya kapabilitasnya, tidak hanya kekurangannya saja yang dilihat. Para penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk terlibat dalam pembangunan, baik di tingkat daerah, atau di tingkat nasional.