Cerita Staf : Henda Gandamanah

Jumat 17 Februari 2017
“Kita akan pergi ke 3 kota. Ketemu anak-anak disana untuk dengar langsung dari mereka gimana caranya supaya kekerasan yang pernah mereka alami ga terjadi lagi”.
Kalimat itu adalah instruksi pertama yang saya dapatkan dari atasan di awal tahun 2016. Isu kekerasan selalu terasa sangat emosional. Selalu berat untuk membayangkan bagaimana seorang anak harus bertahan untuk melindungi dirinya sendiri ketika mengalami tindak kekerasan. Kekerasan fisik maupun psikis yang dialami oleh anak tentu saja membekas dengan tingkat traumatis yang tinggi, seperti kata pepatah, ingatan masa kecil bagaikan ukiran di atas batu.

Yogyakarta menjadi kota pertama yang saya kunjungi untuk bertemu dengan beberapa anak yang tinggal di Panti Asuhan. Hidup tanpa sentuhan kasih sayang dan pengasuhan langsung dari keluarga membuat mereka, terpaksa, membenamkan rasa dan cita sendirian. Mereka bilang, terpaksa beberapa kali terlibat perkelahian dengan sesama anak didalam panti atau menyaksikan temannya mendapat perlakuan kekerasan dari pengurus panti. Mereka bilang, “Tidak akan ada yang tahu saat saya sedang menjadi korban bullying dari anak yang lebih kuat”. Siapa yang dapat menolong?


Bandung. Kota yang cantik dengan gemerlap hedon bagi banyak orang ternyata menyimpan sudut kelam bagi anak-anak penyandang disabilitas. Diskriminasi di dalam rumah oleh anggota keluarga sendiri ternyata berlanjut ketika mereka sedang beraktivitas di sekolah. “Guru saya meminta saya diganti dari kepengurusan OSIS dengan teman saya yang lain karena saya punya down syndrome”. Salah satu anak berbicara dengan bergetar, masih tidak percaya bahwa omongan tersebut keluar dari mulut gurunya sendiri. Bagaimana perlakuan yang di dapat anak disabilitas lain dari teman-temannya di sekolah? Saya melihat semua fasilitator di sesi konsultasi anak saat itu tertegun menahan napas.

Pesawat mendarat hampir larut malam di Ibukota Nusa Tenggara Timur. Udara pantai mulai terasa ketika mobil yang menjemput memasuki pusat kota. Keramahan dan gaya bercerita penuh semangat khas driver dari kantor Kupang selalu menjadi salam pembuka setiap saya berkunjung kesana.

Diujung rotan ada emas. Pribahasa lokal itu diamini kabanyakan masyarakat dalam kurun waktu yang lama. Ungkapan kekerasan fisik berungkali kami dengar dari anak-anak selama sesi konsultasi berlangsung. Bahkan dalam sesi diskusi kelompok pun beberapa kali saya melihat anak-anak yang saling memukul kepala karena tangannya tidak sengaja terdorong oleh anak lain ketika sedang menggambar. Prilaku kekerasan mungkin berawal dari kebiasaan pola asuh yang salah. Seorang teman pernah menceritakan pengalamannya ketika sedang bertamu ke rumah warga setempat. Sang tuan rumah tidak merasa segan untuk berteriak serta melakukan pemukulan pada anaknya di depan dia.


Hasil konsultasi anak di 3 kota ini berkontribusi dalam laporan Global Partnership to End Violence Against Children yang merupakan kemitraan dari negara-negara anggota PBB. Kelompok kerja ini fokus menjalankan misi untuk mencapai point SDGs 16.2 (Mengakhiri pelecehan, eksploitasi, perdagangan dan segala macam bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak). Indonesia merupakan salah satu negara yang menginisiasi pembentukan kemitraan global ini dan tentu saja Save the Children harus terus hadir untuk menyuarakan suara anak-anak yang tidak terdengar terkait kekerasan yang mereka alami.

Akhir tahun 2016 kami mengundang perwakilan anak yang pernah terlibat dalam kegiatan konsultasi  sebelumnya untuk hadir di Jakarta. Kami memfasilitasi pertemuan dengan anggota Komisi VIII DPR-RI agar mereka dapat berdialog, memberikan saran dan bercerita tentang kisah mereka langsung kepada wakil rakyat.

Usaha untuk menghentikan kekerasan terhadap anak tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Menjadi bagian kecil dari pekerjaan besar ini setidaknya mengingatkan saya bahwa dunia anak-anak adalah hal yang patut untuk diperjuangkan. Karena dimasa yang akan datang bukan tidak mungkin jika anak cucu kita yang terperangkap di dalam situasi tersebut. Berinteraksi langsung dengan anak-anak dari berbagai daerah yang saya temui tahun lalu membuat saya merasa harus terus berjuang bersama teman-teman di Save the Children, karena anak Indonesia dalam bahaya.