Tas Siaga Bencana Ibu Nepi

Selasa 14 April 2020

Nepiyani tidak langsung menyerah, ketika niatnya berbagi pengetahuan bencana ternyata diremehkan oleh keluarga sendiri.

Nepi tahu upaya itu tidak akan berakhir sia-sia. Dia tetap bercerita betapa pentingnya kesiapsiagaan bencana, termasuk menyiapkan tas siaga bencana dan jalur evakuasi, sebagai antisipasi jika suatu saat terjadi banjir atau kebakaran. Namun, suami dan ayah Nepi tampak belum peduli.

“Awalnya memang agak susah jelaskan ini ke mereka,” cerita Nepi.

“Misalnya saat jelaskan ke orang tua saya. Mereka jawab, ‘Kalau udah banjir ya banjir aja! Ngapain aneh-aneh?! Sudah makanan sehari-hari!’ Begitu katanya,” lanjutnya.

Nepi, ibu dari dua anak berusia 7 dan 2 tahun, adalah guru pembantu di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cahaya Prima, Jakarta Barat. Dia juga dipercaya menjadi ketua komite sekolah. Selama Program SINERGI dari Save the Children datang dan mengadakan rangkaian aktivitas di sana, Nepi antusias dan terlibat aktif. Dia juga menjadi anggota Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bersama 14 orang guru dan wali murid lain.

SINERGI, akronim bebas dari Supporting Disaster Preparedness of Government and Community, adalah program dari Save the Children bersama USAID, WVI, CARE, dan CRS. Tujuan besarnya adalah memastikan sejumlah sekolah di Jakarta dan Bogor punya mekanisme kesiapsiagaan bencana memadai dan kebijakan sekolah aman.

Salah satu caranya, membantu anggota komunitas sekolah untuk memahami bencana lebih dalam lewat kelas materi dan simulasi. PAUD Cahaya Prima adalah salah satu sekolah dampingan program dan Nepiyani tergabung dalam kegiatan tersebut. Jika program pendampingan serupa umumnya menyasar sekolah dasar atau menengah, SINERGI juga menyasar sekolah-sekolah untuk anak usia dini.

Nepi setidaknya sudah ikut tiga kelas materi bersama Save the Children, termasuk saat simulasi bencana gempa dan kebakaran di komplek PAUD yang berada di pemukiman padat penduduk Kelurahan Kapuk. Baginya, manfaat program terasa sangat relevan di sana karena risiko bencana yang cukup tinggi.

“Kami sering mengalami banjir. Lalu pernah ada kejadian kebakaran. Lalu pernah juga kejadian angin puting beliung sampai kubah masjid di tempat kami roboh,” kata Nepi.

Soal banjir Jakarta, kata Nepi, bencana ini seolah sudah menjadi “makanan tiap hari” karena lokasi PAUD dan pemukiman berdekatan dengan kali apung. Dulu, jika terjadi banjir, sekolah langsung diliburkan dan manajemen informasi belum berjalan baik. Namun kini, setelah mereka mendapat wawasan baru, Nepi menilai penanganan situasi menjadi lebih teratur. Bahkan mereka sudah punya kesepakatan titik kumpul dan jalur evakuasi yang didukung oleh Ketua RT dan RW.

“Warga kami sudah dikasih tahu, kalau ada kebakaran, mereka harus ke sini,” ujar Nepi.


Nepi juga belajar pentingnya manajemen panik ketika menghadapi situasi darurat seperti bencana. Dia tahu betul bahwa kepanikan akan membuat keadaan bertambah buruk.

“Dulu, kalau kebakaran misalnya, ya warga ke mana-mana. Kalau sekarang sudah tertata,” ungkap Nepi. “Itu juga satu pelajaran banget. Jangan panik. Soalnya kalau kita panik, anak-anak juga bingung. Malah berantakan, nanti anak-anak ada yang jatuh, terbentur,” sambungnya.

Dari sekian pelajaran baru tentang kebencanaan, hal paling berkesan bagi Nepi adalah persiapan tas siaga bencana. Bahkan dia mengembangkan pengertian “tas” menjadi lebih luas, tidak hanya tas punggung atau semacamnya, tetapi juga kotak kontainer. Informasi ini sering dia bagikan ulang kepada keluarga, kendati awalnya disambut dengan nada sumbang.

Ketika Nepi mengajak untuk membuat persediaan darurat, suami dan ayahnya meledek sambil meremehkan. Menurut mereka, banjir rutin di Jakarta tidak perlu dijadikan masalah serius. Nepi bercerita pada mereka, bahwa jika sudah punya stok makanan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat, mereka tidak perlu lagi repot-repot seperti dulu: turun dari rumah dan menyusuri banjir untuk mencari bantuan.

Menurut Nepi, pernah juga terjadi pembicaraan yang meremehkan hidup dan mati. Dia pernah mendapat jawaban begini, “Ya kalau sudah banjir, ya banjir aja. Kalau udah gempa, ya gempa aja, mungkin tertimpa tembok.” Nepi dengan sabar menjelaskan bahwa tindakan meremehkan berawal dari ketidaktahuan dan sikap tak mau tahu.

“Ya, lumayan sulit karena sudah kebiasaan, dari zaman dulu begitu. Nah, setelah dijelaskan beberapa kali, dan saya sering ikut latihan, sampai dikasih brosur, akhirnya mereka mulai mau,” ungkap Nepi.

“Itu kejadian tanggal 27 Oktober 2019 kalau enggak salah. Jelasin susah payah, akhirnya suami dan orang tua saya nurut. Akhirnya dia mengambil tas dia, tanya apa yang dibutuhkan. Kami cari masing-masing punya barang apa. Selimut dan handuk juga dimasukkan ke kontainer. Siapa tahu nanti berguna, jangan yang susah diambil. Akhirnya, dia taruh di rak dekat tangga. Nanti sewaktu-waktu kalau butuh, kita tinggal ambil di situ. ‘Iya,’ kata suami saya,” tutur Nepi.

Suami Nepi, yang sehari-hari biasa berdagang minuman di daerah Pantai Indah Kapuk, menjadi lebih suportif. Dia sempat diajak Nepi ikut pelatihan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Melati supaya mendapat kenalan dan pengetahuan baru, termasuk pentingnya hal-hal sederhana seperti cuci tangan pakai sabun.

Dua bulan berselang.

Tas siaga bencana dan kontainer persediaan keluarga Nepi masih tersimpan di tempat masing-masing. Hingga akhirnya pada malam tahun baru 2020, Nepi dan keluarganya tahu bahwa hari berikutnya, mereka akan sangat butuh persediaan darurat itu.

Pada 31 Desember 2019, mereka sebetulnya sudah akan berangkat piknik ke sebuah pantai di Tangerang. Namun hari itu hujan deras mengguyur Jakarta. Lama menunggu tetapi hujan tak kunjung reda, mereka batal pergi dan makan bersama di rumah. Semakin malam, hujan masih deras, Nepi pun mengecek ketinggian air sungai. Ternyata sudah tinggi, pertanda bakal banjir. Tak butuh waktu lama, mereka bergegas memindahkan barang-barang ke lantai 2 rumah dan mengisi batere tiga lampu darurat.

“Malam itu listrik mati, tapi untung kami sempat nge-charge lampu darurat. Kami sudah amankan barang-barang yang ada di bawah,” kata Nepi.

Lalu datanglah momen itu, saat air masuk ke dalam rumah, sementara mereka sudah mengamankan diri di lantai atas.

“Bapak minta maaf. Omonglah dia, minta maaf,” ungkap Nepi.

“Akhirnya kami semua tidur di atas. Kalau di bawah, banjirnya setinggi betis. Kalau di luar rumah, di atas lutut sekitar 10 centimeter," sambungnya.

Selama beberapa hari kemudian, mereka memasak bahan makanan yang tersedia, seperti mie instan dan telur, serta yang kebetulan masih ada, sayuran hijau dan daging ayam. Setelah banjir awal tahun itu berakhir, Nepi gembira karena kebiasaan baru mereka tetap ada. Bahkan setelah Nepi dan suaminya pindah ke rumah baru tak jauh dari situ, tas siaga bencana selalu tersedia di lantai atas.

“Jadi itu pelajarannya. Ada lucunya, ada kesalnya ketika pengalaman kita enggak dihargai orang tua sendiri,” pungkasnya. •


––
Penulis: Purba Wirastama (Dept. Komunikasi)
Foto: Dokumentasi pribadi Nepiyani