Perjuangan di Tengah Pandemi

Rabu 20 Mei 2020
“Saya sangat takut dengan virus ini. Sempat terlintas di benak saya,
bila saya tertular virus, bagaimana nasib kedua anak saya...”


Selama pandemi ini, sehari-hari Lutsia hanya mampu memasak satu belek (kaleng) beras untuk dijadikan bubur, tanpa tambahan sayur ataupun lauk pauk lainnya. Itulah yang ia dan kedua anaknya santap tiap hari, termasuk bayinya yang masih berusia sembilan bulan.

“Saya sadar anak-anak saya butuh asupan tambahan untuk gizi seperti sayur dan ikan. Tapi saya tidak mampu menghidangkan itu semua dalam satu piring,” jelas Lutsia dengan kesedihan di matanya.

Lutsia tinggal di Desa Manimbaya, Donggala, Sulawesi Tengah. Sebelum pandemi terjadi, ia biasa bekerja sebagai pemaras (pemangkas) cengkeh dengan upah Rp 50.000 per hari. Namun saat ini ia tidak lagi bisa bekerja karena pandemi.

“Suami saya sudah mencoba mencari pekerjaan di kampung lain, namun sama saja, di sana juga sulit mendapat pekerjaan,” ungkap Lutsia menjelaskan kondisinya.

Desa tempat Lutsia tinggal sebenarnya telah menganggarkan dana bantuan untuk orang-orang seperti Lutsia. Dana bantuan ini diambil dari dana desa, dengan jumlah sebesar Rp 600.000 untuk tiap orangnya.

Namun Lutsia tidak masuk dalam kategori penerima bantuan dari desa. Hal ini disebabkan karena salah satu syarat untuk bisa mendapat bantuan adalah tidak berstatus sebagai PNS, perangkat desa, ataupun penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

“Saya tidak masuk dalam kategori penerima bantuan karena saya adalah kader Posyandu yang digaji oleh desa. Gaji saya sebagai kader sebesar Rp 300.000 per bulan. Gaji yang dibayar tiap tiga bulan sekali ini tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari,” jelas Lutsia.

Lutsia merasa kecewa dan ingin menagis. Namun dia sadar semua itu tak ada gunanya. Akhirnya ia pun terpaksa meminjam uang pada orang tuanya.

“Selama suami mencari pekerjaan, saya sering minta bantuan pada orang tua. Kadang saya minta beras dan gula. Namun karena ekonomi orang tua saya juga pas-pasan, saya pun segan untuk terus-terusan meminta,” ungkap Lutsia.

Di tengah segala keterbatasannya, Lutsia masih tetap bersyukur karena pertumbuhan anaknya tetap terjaga. “Alhamdulillah, meski di tengah keterbatasan seperti ini, berat badan anak saya saat terakhir ditimbang adalah sembilan kilogram. Ia juga telah mendapatkan imunisasi campak,” ungkapnya sembari memperlihatkan buku KIA anaknya.

“Saya hanya bisa berdoa agar virus corona ini cepat berlalu. Saya sangat takut dengan virus ini. Sempat terlintas di benak saya, bila saya tertular virus, bagaimana nasib kedua anak saya...” ungkap Lutsia berharap sembari menutup perbincangan.
 

Lutsia menggendong anaknya di pintu rumah yang terbuat dari kayu
Lutsia, perempuan dari desa Manimbaya, Donggala, menggendong anak bungsunya yang berusia sembilan bulan di depan rumah. Selama krisis pandemi COVID-19, Lutsia dan suami kesulitan mencari pekerjaan sehingga kebutuhan harian dipenuhi dengan sangat terbatas.


__
Cerita dan foto oleh Rofika Santri
Diedit oleh Thomas Gustafian