Makanan Sehat untuk Anak-Anak Ibu Dwi

Selasa 14 April 2020

Hampir tiga bulan berselang, Dwi (41) masih mengingat dengan jelas warna dan aroma sampel makanan yang membuat dia mual.

Dia ingat momen ketika Zainul, salah satu anggota tim respons Save the Children, mencampur sejumlah jajanan kemasan ke dalam gelas, menuangkan air panas, lalu mengaduk-aduknya. Warna campuran makanan itu berubah menjadi merah, jingga, kuning yang cerah tetapi tidak tampak segar. Aroma aneh menguar. Terbayang bagaimana jika makanan seperti itu masuk ke perutnya.

"Saya menghirup makanan itu, baunya kayak orang muntah. Saya ingat itu. Berarti lambung anak saya, kalau kemasukan makanan dicampur kayak gitu, di dalam lambung pasti jadi kayak gitu," ungkap Dwi.

Bagi Dwi, pengalaman itu menjadi momen pencerahan. Dia menyebut dirinya tidak akan lagi membiarkan kedua anaknya menyantap jajanan kemasan sembarangan yang biasa dijual di warung. Sebisa mungkin dia memasak sendiri makanan untuk keluarga.

Dwi tinggal di kelurahan Rawa Buaya bersama suami serta dua anak mereka yang berkebutuhan khusus. Sebelum kebijakan pembatasan sosial skala besar di Jakarta karena krisis pandemi Covid-19, suaminya bekerja sebagai pekerja konstruksi lepasan.

Anak pertama mereka berusia 18 tahun, punya kondisi tuli serta pengapuran otak, dan kini bersekolah di salah satu SMK di Jakarta jurusan tata boga. Anak kedua berusia 7 tahun, sempat mengalami gizi buruk, punya kondisi pertumbuhan fisik tertunda, dan kini belajar di PAUD As-Shofa. PAUD ini adalah salah satu sekolah dampingan Save the Children lewat program SINERGI dan di situlah awal perkenalan Dwi dengan Save the Children. Di PAUD ini, Dwi menjadi ketua komite sekolah dan anggota Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

SINERGI, akronim bebas dari Supporting Disaster Preparedness of Government and Community, adalah program dari Save the Children bersama USAID, WVI, CARE, dan CRS. Tujuan besarnya adalah memastikan sejumlah sekolah di Jakarta dan Bogor punya mekanisme kesiapsiagaan bencana memadai dan kebijakan sekolah aman.

Menurut Dwi, sebisa mungkin dia mengikuti berbagai aktivitas pendidikan tentang kebencanaan yang diadakan oleh program SINERGI. Namun ini hanya jika acara berlangsung di dekat rumah mereka di Rawa Buaya. Dia tidak bisa pergi dan terpisah jauh dari dua anaknya yang berkebutuhan khusus.

Kendati begitu, ketika ada kesempatan bergabung secara penuh dalam sesi aktivitas bersama SINERGI, Dwi mengambil manfaatnya dengan baik.

Ini terjadi pasca bencana banjir 2020 yang pertama kali melanda Jakarta pada awal tahun. Saat itu, tim respons Save the Children menjangkau beberapa sekolah dan kelurahan terdampak. Tim mendistribusikan bantuan non makanan dan memberikan dukungan psikososial terpadu tentang hal-hal mendasar, termasuk kesehatan dan nutrisi. PAUD AsShofa, sebagai salah satu sekolah dampingan SINERGI, juga dijangkau oleh tim respons dan kali ini, Dwi bisa bergabung secara penuh.

Dalam sesi dukungan psikososial terpadu, tim respons membagikan berbagai pengetahuan tentang kebencanaan dalam beberapa kategori, termasuk perlindungan anak, pendidikan, kesehatan dan gizi, serta kesiapsiagaan. Targetnya adalah anak-anak sekolah dasar dan PAUD, tenaga pengajar, aktivis muda, serta orang tua seperti Dwi.

Dwi terkesan ketika tim respons menunjukkan lewat visual dan aroma, betapa tidak sehatnya jajanan kemasan yang sering dijual di toko dan dikonsumsi anak-anak. Save the Children menyebut aktivitas ini dengan istilah "Emo Demo". Caranya adalah dengan mencampurkan beberapa jajanan kemasan yang mengandung pewarna dan pengawet buatan, menuanginya dengan air panas, mengaduk-aduknya, lalu menunggu campuran itu bereaksi beberapa saat sembari melakukan permainan bersama.

"Waktu itu Pak Zainul yang ngajarin, jajanan anak mana yang bagus dan nggak bagus. Makanannya kan diaduk-aduk gitu. Eh, bener, bau makanannya jadi kayak muntahan gitu. Jadi, nggak bagus di lambung," tutur Dwi.

"Sejak saat itu, saya bikin makanan sendiri semampu saya. Pak Zainul omong, 'Pokoknya masakan ibu itu masakan paling bergizi, mau enak atau enggak enak, pasti itu yang bagus buat anak-anaknya,'" lanjutnya.

Sejumlah kudapan yang pernah disediakan Dwi antara lain agar-agar, makanan bernama Telur Kodok (bubur sagu bersantan khas Betawi), atau buah-buahan setiap dua atau tiga hari sekali. Makanan besar buatan dia sendiri antara lain sayur lodeh, tumis kangkung, masakan ayam, telur, atau telur, dan kadang daging-dagingan jika anaknya mendapat bantuan uang tunai lewat program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Dwi juga sudah tidak membelikan minuman kemasan seperti teh gelas. Dia membuat sendiri minuman manis ini atau cukup menyediakan air mineral saja.

Dwi mengatur jam makan kedua anaknya. Selain sarapan yang sudah menjadi hal wajib, dia juga selalu menyiapkan makan siang sebelum jam 12. Makan menjadi lebih banyak, jajan pun berkurang. Pengaturan ini ternyata membawa manfaat lain. Anak bungsunya, yang pertumbuhan fisiknya tertunda, kini sudah mengalami penambahan berat badan sekitar 2 kg.

"Sekarang (berat badannya) sudah 19 kg. Dulu 17 kg, mau tambah ke 18 kg saja susah. Setelah berhenti jajan, malah naik dan porsi makannya makin banyak," ungkapnya.

Upaya Dwi bukan tanpa hambatan.

Pada masa awal dia mengubah kebiasaan makan keluarga, anak-anaknya sempat rewel minta jajanan yang dilarang. Beberapa tetangga juga menyebut Dwi sebagai ibu yang pelit karena tidak menuruti permintaan anak-anak. Menurut Dwi, dia sudah menganggap ini sebagai komentar biasa saja karena dia lebih peduli kondisi kesehatan anak-anak. Masih terbayang bagaimana jika jajanan kemasan itu tercampur di dalam lambung.

Satu hal lain yang membuat Dwi terkesan adalah tentang kesiapsiagaan bencana untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Dia ingat cara praktis mendeteksi potensi banjir besar ketika muncul genangan tinggi dari sungai.

Sebelum rumah mereka kebanjiran, Dwi melihat genangan air sudah setinggi mata kaki orang dewasa. Dia tahu ini pertanda bakal ada banjir, tetapi kondisinya masih aman untuk menyelamatkan diri dan sejumlah barang penting. Dia pun mengungsikan kedua anaknya serta surat-surat penting ke rumah saudara. Setelah itu, dia kembali ke rumah untuk membereskan barang-barang di dalam rumah sebisanya agar tidak hanyut atau tenggelam. Hal yang lebih menggembirakan, anak-anak Dwi kini juga sudah tahu tanda peringatan bencana.

Sejak penghujung tahun 2019, Dwi menjadi kader Posyandu untuk mengamati anak-anak dengan perkembangan kurang. Ibu Ketua RT merekrut Dwi karena tahu pengalaman dia selama 10 tahun, berjuang dari rumah sakit ke rumah sakit, untuk menyembuhkan kedua anak, yang kondisinya sudah lebih baik dan bisa bersekolah. Kini dia memakai beragam pengalaman itu untuk membantu orang-orang di sekitarnya.

Dwi menuturkan, seandainya dia bisa ikut kegiatan Save the Children sejak awal, tentu bakal lebih banyak lagi pengetahuan yang dia bisa bagikan ulang.

"Lingkungan saya itu kan, maaf, kumuh dan padat penduduk. Kalau dapat ilmu, saya kasih ke orang-orang karena sebenarnya, saya punya jiwa agak sosial sedikit. Saya juga kader Posyandu. Misalnya soal bencana, saya tahu ini aman atau enggak aman. Lalu saya juga berbagi soal menyiapkan tas siaga bencana," kata Dwi.  

"Dulu saya juga ditolong oleh (bantuan) sosial, sekarang saya juga (aktif di kegiatan) sosial," ungkapnya. •


––
Penulis: Purba Wirastama (Dept. Komunikasi)
Foto: Dokumentasi pribadi Dwi