Lukman Hakim, Memastikan Anak-Anak PAUD Belajar Saat Pandemi

Jumat 2 Oktober 2020
"Saya hanya mau memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak-hak mereka selama pandemi. Jadi, saya dan guru-guru berkunjung ke rumah mereka dua kali sepekan untuk memastikan mereka belajar di rumah atau kampung," kata Lukman Hakim, Kepala Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Arrohman di Kabupaten Lombok Utara.

Warga Lombok Utara merasakan tekanan luar biasa setelah gempa 2018 yang merusak banyak bangunan dan melumpuhkan aktivitas masyarakat. Save the Children hadir ke sana untuk membantu pemulihan dengan fokus pada penyediaan ruang ramah anak. Ini termasuk membangun ulang infrastruktur PAUD.

Namun selama masa pemulihan tahun 2020, warga Lombok Utara terdampak oleh bencana lain, yaitu pandemi COVID-19 yang menyebabkan krisis multisektor, termasuk pendidikan. Untuk membatasi kegiatan tatap muka, Pemerintah Lombok Utara menutup gedung sekolah dan mewajibkan sekolah untuk melakukan kegiatan belajar jarak jauh dari rumah.

Karena "kegiatan sekolah" berlangsung di rumah, peran langsung guru menjadi berkurang, digantikan oleh orangtua. Bagi praktisi PAUD seperti Lukman, kelas jarak jauh adalah pengalaman baru karena biasanya anak-anak berkumpul di sekolah yang sudah punya materi dan peralatan lengkap.

Save the Children, melalui Program TRANSISI, mendukung sekolah-sekolah sasaran di Lombok Utara, termasuk PAUD Arrohman, dengan menyediakan bantuan non makanan, yaitu paket kebersihan dan materi pembelajaran untuk anak-anak.
 
202009CeritaBenefTransisiLukmanHakimImage1.jpg
Lukman Hakim, Kepala PAUD Arrohman di Kabupaten Lombok Utara. Terinspirasi oleh bantuan learning kits dari Save the Children, Lukman mengusahakan agar sekolahnya juga bisa memberi dukungan serupa dan berkelanjutan kepada anak-anak PAUD dampingan selama masa pandemi.
(Rafael Gomes / Save the Children)


Materi pembelajaran ini, yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan belajar anak di rumah, ternyata menginspirasi Lukman dan para praktisi PAUD untuk menyediakan materi pembelajaran serupa dengan dana operasional PAUD.

Untuk kebutuhan itu, Lukman mengalokasikan Rp3,4 juta untuk pengadaan materi pembelajaran seperti krayon, pensil, lem, kertas, dan materi belajar tertulis. Anggaran juga digunakan untuk menyediakan perlengkapan kebersihan seperti masker, sabun cuci tangan, dan sabun mandi bagi 43 anak-anak PAUD.

"Kami tidak pernah memikirkan dan melakukan model pembelajaran seperti ini sebelumnya. Namun, anak-anak tetap harus menerima dukungan pembelajaran. Jadi, kami secara internal menyiapkan lembar kerja siswa, yang disertai panduan sederhana dan dibagikan kepada semua orangtua," kata Lukman.

Lukman dan guru-guru PAUD juga berkunjung ke rumah anak-anak dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Mereka mendistribusikan kartu kegiatan atau lembar kerja anak PAUD dan menjelaskan panduan pemakaian materinya kepada orangtua secara sederhana. Setiap pekan, para guru mengumpulkan lembar kerja untuk evaluasi dan memberi materi baru.

Kegiatan tersebut tidak selalu berjalan lancar karena ada anak-anak yang tidak mendapat dukungan optimal, entah karena tidak tinggal bersama kedua orangtua atau karena pendamping mereka tidak pernah mengenyam sekolah formal. Menghadapi situasi ini, para guru sepakat untuk mengunjungi anak-anak ini dua kali sepekan dan menyediakan dukungan khusus.
 
202009CeritaBenefTransisiLukmanHakimImage2.jpg
Seorang ayah sedang belajar dan bermain bersama anaknya menggunakan materi pembelajaran yang didapatkan dari PAUD Arrohman.
(Rafael Gomes / Save the Children)

Awalnya, banyak orangtua kesulitan dan menganggap ini beban tambahan. Mereka sulit meluangkan waktu dan merasa tidak mampu membantu anak-anak belajar. Namun, setelah kunjungan rumah oleh para guru, perubahan muncul. Beberapa ayah meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak begitu pulang bekerja atau berkebun.
    
"Saya tidak punya kemampuan untuk bermain dengan anak-anak seperti yang biasa dilakukan guru, tetapi setelah membaca instruksi di kartu kegiatan, saya mulai memahami cara bermain dengan anak saya. Permainan yang diberikan sangat sederhana dan kami selalu memainkan itu," ungkap Hendra, salah satu ayah dari anak PAUD.

Demi memastikan semua PAUD menyediakan dukungan serupa dan terstruktur, Save the Children bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat untuk mengembangkan prosedur standar kegiatan belajar di rumah. Prosedur ini mengatur tanggung jawab setiap pihak terlibat, termasuk dinas pendidikan, pengelola dan guru PAUD, orangtua, serta anak-anak. Harapannya, semua PAUD melakukan kegiatan serupa selama program belajar dari rumah.

--
Artikel cerita ditulis oleh Rafael Gomes
Diedit dan diterjemahkan oleh Purba Wirastama