Fatma, Sang Bidan Keliling di Desa Rano

Rabu 13 Mei 2020

Rano adalah sebuah desa di Kecamatan Balaesang Tanjung yang terkenal akan keindahan alamnya. Dari ibukota Kabupaten Donggala, desa ini berjarak sekitar 150 kilometer ke arah utara lewat Kota Palu dan terpisahkan oleh beberapa pegunungan. Akses jalan ke Desa Rano belum memadai, bahkan daya listrik untuk penerangan jalan juga belum ada sampai saat ini. Untungnya, jaringan listrik di desa sudah mulai dibangun.

Hampir seluruh area Balaesang Tanjung, sesuai namanya, terletak di sebuah semenanjung yang menjorok ke Selat Makassar. Desa Rano terletak di tengah semenanjung ini, mengitari sebuah cekungan air tawar seluas 260 hektar dan sedalam 80 meter bernama Danau Rano. Roda ekonomi masyarakat berputar dari mata pencaharian mereka sebagai nelayan ikan mujair dan petani perkebunan.

Seorang bidan perempuan bernama Fatmawati, yang akrab disapa Bidan Fatma, sudah tujuh tahun tinggal di Rano. Selama tujuh tahun itu pula, dia mengabdi kepada masyarakat dan merasakan bahwa Rano memang desa pelosok. Namun, Fatma menikmati pengalaman penuh suka duka ini.

"Saya bertugas di sini sejak tahun 2013 sampai sekarang. Saya sangat menikmati dengan kondisi yang serba terbatas, tidak seperti di desa lain," ungkap Fatma.

 

Beberapa warga dan anak mereka berkunjung ke Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) Rano. Foto ini diambil sebelum masa krisis pandemi COVID-19 tahun 2020.

Sejumlah warga bersama anak tampak berkunjung ke Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) Rano sebelum masa krisis pandemi COVID-19 tahun 2020.

(Foto: dok. pribadi Fatmawati)


Sejak 2018, tepatnya setelah bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu-Donggala, Fatma menjadi salah satu bidan dampingan Save the Children lewat program kemanusiaan di lokasi bencana. Berbagai aktivitas program terkait kesehatan dan nutrisi telah dilakukan bersama Fatma dan bidan-bidan lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka.

Sejumlah aktivitas itu meliputi pengenalan seluk beluk Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), serta rangkaian lokakarya bernama "Emo Demo". Dalam lokakarya ini, fasilitator melakukan peragaan atau demonstrasi yang bertujuan menggugah emosi dan mengubah perilaku spesifik peserta. Misalnya, terkait jajanan tidak sehat, pemberian ASI, dan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Terakhir kali, aktivitas ini dilakukan pada Maret 2020 sebelum krisis pandemi COVID-19.

Bagi Fatma, pandemi COVID-19 ini juga membuat dia harus mengubah bentuk pelayanan kesehatan kepada warga desa. Dia bercerita, pelayanan kesehatan di Rano hingga awal tahun berjalan dengan sangat lancar, seperti pemeriksaan ibu hamil, pertolongan persalinan, dan imunisasi. Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) Rano sering dikunjungi warga yang membutuhkan pelayanan tersebut.

Namun, pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Aktivitas pelayanan kesehatan yang sifatnya mengumpulkan warga ditiadakan sementara untuk memutus mata rantai penularan virus penyebab COVID-19.

Kendati begitu, Fatma menilai bahwa pelayanan kesehatan tidak bisa dihentikan seluruhnya. Itu termasuk imunisasi dasar untuk bayi berusia 0-9 bulan.

"Pemberian imunisasi dasar sangat penting untuk tetap dilaksanakan. Imunisasi dasar menjaga kekebalan tubuh atau imunitas yang spesifik terhadap PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) pada anak. Bahkan kelompok rentan terinfeksi virus COVID-19 adalah bayi," tutur Fatma.

Supaya pemberian imunisasi dasar tetap berjalan, Fatma akhirnya melakukan imunisasi keliling atau kunjungan langsung ke rumah-rumah warga. Namun ini tidak mudah. Selain karena keterbatasan tenaga medis – hanya Fatma dan seorang rekan di Puskesdes, jarak antara satu rumah ke rumah warga sasaran lain relatif tidak dekat. Misalnya, ada dua rumah berjarak 8 kilometer dengan kondisi jalan kurang memadai. Padahal ada lebih dari 20 bayi yang harus mendapatkan imunisasi.

Jika biasanya imunisasi 20-an bayi bisa dilakukan dalam waktu sehari, imunisasi keliling Fatma hanya bisa menjangkau kurang dari 10 bayi setiap hari. Waktu pelayanan pun menjadi dua sampai tiga hari. Fatma juga menyebut bahwa alat perlindungan diri (APD) yang dia gunakan masih "sangat standard".
 

Bidan Fatma sedang memberikan imunisasi pada seorang bayi di rumah keluarga sang bayi pada bulan Mei 2020. Selama krisis pandemi COVID-19, Fatma melakukan program imunisasi keliling agar hak kesehatan anak tetap terpenuhi.

Seorang bayi sedang diberi imunisasi di rumahnya oleh Bidan Fatma pada suatu hari di bulan Mei 2020. Selama krisis pandemi COVID-19, Fatma melakukan program imunisasi keliling agar hak kesehatan anak tetap terpenuhi.

(Foto: dok. pribadi Fatmawati)

 

Apa yang membuat Fatma lega adalah respons warga yang dikunjungi. "Meskipun kami tinggal di desa terpencil, masyarakat sudah paham pentingnya imunisasi sehingga mereka sangat senang saat kami melakukan kunjungan ke rumah mereka. Menurut salah ibu yang kami kunjungi, dia sangat senang karena tidak perlu terlalu takut untuk keluar rumah lagi di tengah pandemi ini," ujar Fatma.


Bidan Fatma juga menjelaskan bahwa pelayanan imunisasi keliling tetap dilakukan secara reguler. Dia bersyukur pelayanan ini sangat didukung oleh atasannya. Dukungan ini termasuk rencana pembiayaan transportasi dengan anggaran dana BOK Puskesmas Balaesang Tanjung.

Hal lain yang dia syukuri adalah partisipasi warga desa dalam menghadapi COVID-19. Menurut Fatma, mereka telah mulai memahami cara penularan dan pencegahan COVID-19.

Upaya dia dan rekan-rekan dalam memberi penjelasan kepada masyarakat juga didukung oleh Save the Children. Sejak beberapa pekan terakhir, Save the Children bersama dengan Puskesmas, pemerintah Balaesang Tanjung, dan kepolisian lokal menyebarkan informasi tentang COVID-19 melalui selebaran dan sosialisasi mobil keliling. Harapannya, warga yang sebelumnya sulit mengerti, dengan sendirinya akan paham bahaya penyakit pandemik ini. •

* Fatmawati adalah salah satu bidan dampingan Save the Children lewat program kemanusiaan di Donggala


__
Cerita ditulis oleh Rofika Santri dan Purba Wirastama
Wawancara oleh Rofika Santri
Foto-foto dokumentasi pribadi Fatmawati