Berguru di Sindangkerta, Merawat Bumi yang Mulai Renta

Selasa 23 Februari 2021
"We do not inherit nature from our ancestors, we borrow it from our children."
– Pepatah kuno suku Indian

"Kamu tahu kenapa warga Sindangkerta tidak takut dengan ombak besar?" kata Wak Dudul suatu hari di tepi pantai ketika Sopia dan tim Save the Children mengunjunginya untuk pembuatan film pendek.

"Para tetua kami dulu mengajarkan untuk tidak merusak kakayon," kata beliau sambil menunjuk hamparan hutan hijau yang membentang di sepanjang bibir pantai.

"Hutan ini pagar desa, jika ombak besar datang, ia akan dipecah oleh barisan karang, lalu dipecah lagi oleh sabuk hijau kakayon, sehingga tidak sampai ke pemukiman warga. Jika hutan ditebang dan karang dirusak, benteng kami ambruk."

Sudah tiga hari Sopia di Sindangkerta, belajar bersama Save the Children mengenai betapa dekatnya hubungan alam dengan bencana. Wak Dulia yang sering dipanggil anak-anak dengan nama Wak Dudul menjadi salah satu sumber belajarnya selama di sini. Tokoh adat Saung Budaya Tatar Karang itu sesekali mengajaknya berjalan menikmati pinggiran pantai. Membaui aroma garam yang disuguhkan angin untuk kedua lubang hidungnya. Warna biru lautan di sisi bahu kanan Sopia kontras dengan hijau dedaunan di sebelah kirinya. Wak Dudul mengajak Sopia menyusuri garis pantai yang memisahkan keduanya, berjalan kaki di hamparan pasir, merunuti urat laut.

Desa Sindangkerta yang berlokasi di Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya bukan daerah yang sepenuhnya aman dari bencana. Lokasinya tepat bersisihan dengan lautan. Jika pasang datang, ombak bergulungan naik ke daratan, tapi kearifan lokal yang sederhana dari Sindangkerta dalam menjaga lingkungan di mana mereka tinggal membuat warga di sana jauh dari amukan alam.

Sopia teringat kampungnya sendiri di Cipasung. Bukan hamparan pantai melainkan dataran tinggi. Kaki Gunung Galunggung berdiri gagah membentengi tempat tinggalnya. Dulu waktu pertama kali pindah ke Cipasung, Sopia berharap bisa sering-sering camping atau main air di sungai. Sayang, harapan indah Sopia dikotori polusi setiap kali menjelang pergantian hari. Suara truk-truk pengangkut pasir berlalu lalang menandai malam hadir di desanya. Mengeruk dan mengangkut berkubik-kubik pasir untuk dijual. Menyisakan tebing terjal dan kubangan raksasa yang makin lama makin dalam seperti jurang.

"Pengerukan itu sudah terjadi sejak Gunung Galunggung meletus tahun 82, kamu terbayang kan berapa kubik pasir yang sudah dikeruk dari sana?" cerita bapaknya suatu hari.

Sopia prihatin dengan ulah manusia yang seperti tidak mau peduli. Alam habis digasak tangan-tangan rakus tiada henti, mengeruk keuntungan untuk diri sendiri. Sejak belajar mengenai pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim bersama Save the Children, Sopia semakin sadar betapa perilaku kita saat ini menentukan keselamatan atau kehancuran seluruh bumi.

Awalnya dulu Sopia sangat peduli dengan bidang literasi. Ia memang memiliki ketertarikan yang kuat tentang semangat baca tulis anak-anak negeri. Kepeduliannya membuat ia dinobatkan menjadi duta baca Jawa Barat saat SMP, melalui ajang West Java Reading Leadear Challenge yang dibesut oleh Kemendikbud. Seiring bergulirnya waktu, Sopia semakin mengerti. Bukan hanya buku yang perlu dipahami.

"Ada yang tidak kalah penting untuk dibaca selain buku," kata Sopia. "Lingkungan alam di mana kita menumpang hidup, juga tidak boleh sekedar dipahami sambil lalu."

Alam di mana kita tinggal juga butuh untuk dipelajari dan dimengerti. Sopia sangat ingin mengajarkan kepedulian lingkungan kepada teman-teman sebayanya dan anak-anak Indonesia lainnya. Semua hanya gemuruh gelisah di lautan hati Sopia, sampai suatu ketika keterlibatan aktifnya di Forum Anak Daerah Jawa Barat mempertemukannya dengan Save the Children. Sopia diajak untuk belajar dan ikut beraksi bersama dalam program Kesiapsiagaan Bencana untuk Kota dan Masyarakat Tangguh Bencana bersama Save the Children dan Google.

20210223-Web-CeritaLapangan-BerguruDiSindangkerta-2.jpg

Bersama Save the Children, Sopia melakukan lawatan ke Sindangkerta. Di sana ia belajar bahwa mempelajari kesiapsiagaan bencana dan adaptasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Beberapa daerah seperti Sindangkerta memiliki kearifan lokal dan permainan tradisional untuk digali dan dilestarikan. Para tetua mereka telah terbiasa berkawan dengan alam. Mereka menjaga alam selayaknya keluarga, lalu meneruskan ajaran ini kepada anak cucunya melalui dongeng dan permainan-permainan.

“Kalian lari kencang sekali!” teriak Sopia pada anak-anak yang berlarian di tepi pantai mengejar mobilnya. Anak-anak di Sindangkerta berkejaran sambil tertawa-tawa bahagia. Telapak kaki mereka sudah paham bagaimana bersahabat dengan pasir yang kembang kempis dimainkan nafas ombak.

Suatu sore Sopia menyaksikan Wak Dudul dan anak-anak bermain Mumundingan dan Papancuhan di tepi pantai. Seru sekali, mereka berlari sekencang mungkin membawa mumundingan. Ada waktunya mereka berlomba naik ke atas sebatang kayu ketika ombak datang menyapu jejak kaki mereka di pasir. Ketangkasan memanjat, kecepatan berlari, menjauh dari air dan menuju ke tempat yang lebih tinggi, anak-anak tidak sadar Wak Dudul bukan sekedar mengajak bermain, tapi sedang membekali mereka dengan keterampilan menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu karang dan hutan kakayon tidak mampu membendung ombak dari lautan.

Lawatan ke Sindangkerta memberi pelajaran berharga untuk Sopia. Setibanya di rumah, gagasan di kepalanya tak berhenti berloncatan. Mungkin ia bisa mulai melakukan hal yang sama. Mengajarkan pendidikan lingkungan dan pengurangan risiko bencana secara kreatif melalui kegiatan yang menyenangkan.

Perayaan hari kemerdekaan tiba. Sopia melihat kesempatan mengajarkan kepedulian lingkungan dan pengurangan risiko bencana pada anak-anak dan teman sebayanya. Bersama teman-teman Forum Anak Daerah Provinsi Jawa Barat, ia menggagas penyelenggaraan tantangan permainan di media sosial. Lomba twibbon dan poster untuk barudak Jabar dengan caption menarik seputar kemerdekaan, pandemi covid-19, dan kesiapsiagaan bencana. Beberapa kuis juga diadakan dengan menyuguhkan soal-soal seputar tema yang sama. Sopia memilih sarana edukasi yang tepat. Apa yang lebih dekat dengan anak-anak milenial seusianya jika bukan media sosial?

Banyak soal tantangan buatan Sopia diambil dari aplikasi bernama Bumi Kita. Sebuah aplikasi untuk mengajarkan kesiapsiagaan bencana hasil rakitan Save the Children dan Google yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Aplikasi ini memang jempolan. Hanya dengan meng-install di handphone, kita dapat memanfaatkan banyak fitur menarik untuk belajar mengenai kesiapsiagaan bencana dan memperoleh informasi terkini mengenai bencana yang terjadi. Bukan hanya anak-anak, bahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, sangat menyukai aplikasi kebencanaan yang dihadiahkan Save the Children untuk masyarakat Indonesia ini.

"Saya sangat mengapresiasi kerja kolaborasi antara Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Lembaga Usaha, seperti Save the Children Indonesia dan Google, yang telah mengembangkan aplikasi android Bumi Kita," kata Doni dalam salah satu pidato saat peluncuran aplikasi Bumi Kita, Desember 2020.

"Dengan Bumi Kita sebagai aplikasi edukatif, interaktif dan partisipatif serta ramah anak, aplikasi ini akan menjadi pelengkap aplikasi Ina Risk yang telah dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan teknologi informasi digital dalam era saat ini dapat mendukung upaya-upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana," lanjutnya.

Kesadaran mengenai pentingnya pendidikan lingkungan juga Sopia tularkan ke sekolahnya. Memulai dengan langkah kecil yang ia bisa, bersama teman-teman sekolahnya di MAN 2 Tasikmalaya, Sopia menggagas gerakan bank sampah di sekolah. Keprihatinannya berangkat dari banyaknya jumlah sampah yang diproduksi sekolah dari hari ke hari. Sampah yang dibuang ke sungai oleh para santri mencapai 12 gerobak setiap harinya.

"Mengapa tempat tolabul ilmi seperti sekolah kita ini mengotori masyarakat yang tinggal di sekitarnya ya, Bu?" katas Sopia suatu hari saat menghadiri audiensi yang diadakan kepala sekolah. "Buat apa kita belajar matematika dan IPA kalau masalah lingkungan yang dekat saja kita tidak bisa tangani. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin peduli."

"Kamu ada usul apa?" tanya kepala sekolah.

"Bagaimana kalau kami coba membuat bank sampah?"

Bersama teman-teman seangkatan, gagasan ini berhasil diwujudkan. Setiap pulang sekolah, Sopia berjaga di sekretariat bank sampah sekolah, menerima setoran tabungan sampah dari semua kelas. Anak-anak menyetor sampah dari kelas mereka masing-masing setiap selesai piket. Dalam satu bulan, rata-rata sampah yang disetor oleh masing-masing kelas mencapai 1-6 ons.

Dengan adanya bank sampah ini, setiap kelas jadi punya penghasilan. Sopia dan teman-teman memilah dan mengolah kembali sampah yang mereka terima, salah satunya mereka olah menjadi ecobrick untuk bahan membuat kerajinan.

Apa yang dilakukan Sopia dan teman-temannya jauh dari kata sia-sia. Koar-koar mengenai pentingnya menjaga lingkungan yang dilakukan melalui aksi nyata menstimulasi aksi yang lebih besar. Sekolah menyambut baik gagasan kepedulian lingkungan ini dengan mengeluarkan anggaran untuk membeli banyak pot bunga, membuat kolam, membuat miniatur hutan, dan green house di sekolah.

"Pak, Sopia mau tanam ini di sekolah boleh?" tanya Sopia kepada bapaknya yang sehari-hari memang bekerja di kantor pertanian desa.

"Boleh. Mau bikin apa, Neng, di sekolah?"

"Sopia mau bikin kebun rumah tangga di sekolah," katanya sambil membenahi bibit bawang daun, seledri, lengkuas, dan beberapa bibit tanaman yang tersedia di rumah untuk dibawa ke sekolah.

Ia ingin tanaman di sekolahnya semakin beragam, selain agar teman-teman santri yang tinggal di asrama bisa ikut menikmati hasilnya secara gratis jika tanaman-tanaman itu berbuah.

Usaha Sopia dan teman-teman di sekolahnya mendapat ganjaran sepadan. Beberapa kali sekolah memperoleh kunjungan dari Kementerian Agama, hingga akhirnya dinobatkan sebagai Sekolah Ramah Lingkungan. Ini kali kedua sekolah Sopia memperoleh penghargaan, setelah sebelumnya MAN 2 Tasikmalaya juga pernah dinobatkan sebagai Sekolah Ramah Anak. Ini semua hasil dari kebiasaan baik yang dikembangkan sekolah.

Kepala sekolah sering mengadakan audiensi bersama guru dan siswa-siswa di sekolah untuk menampung aspirasi baik dari seluruh warga sekolah. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan positif di luar sekolah diminta untuk berbagi ilmu yang mereka dapat kepada warga sekolah lainnya, salah satunya adalah kegiatan Sopia di Forum Anak.

Kepada kepala sekolah, Sopia juga menceritakan apa yang ia pelajari dan kerjakan bersama Save the Children di Sindangkerta. Kepedulian terhadap lingkungan berkembang menyentuh kewaspadaan terhadap bencana. Keduanya memang tidak seharusnya dipisahkan.

Sopia teringat suatu kali di 2019 gempa pernah terjadi saat ia dan teman-temannya sedang berganti baju di kelas selepas mengikuti pelajaran olahraga. Dalam kondisi panik, Sopia berlari dan mencoba mendorong pintu kelas berkali-kali agar ia dan teman-temannya dapat keluar. Usahanya gagal hingga nyaris pingsan. Sopia lupa pintu kelasnya dibuka dengan menarik tuas ke arah dalam bukan didorong ke luar. Pengalaman ini memberinya pelajaran berharga, bahwa jika sekolah tidak disiapkan, bencana dapat menimbulkan banyak korban.

Sekolah mendengarkan aspirasinya dan perlahan mulai berbenah. Tanda-tanda jalur evakuasi dipasang, penunjuk arah ditempel di dinding dan tangga-tangga, jumlah tangga juga ditambah agar anak-anak tidak berdesakan jika sewaktu-waktu harus mengevakuasi diri dari bencana. Tak lupa, titik kumpul disepakati dan diberi tanda. Menurut Sopia, kepedulian sekolah terhadap keselamatan anak-anak ini mencerminkan kesadaran yang semakin baik terhadap kesiapsiagaan bencana di sekolah. Ia berharap suatu saat sekolahnya dapat memenuhi persyaratan sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

20210223-Web-CeritaLapangan-BerguruDiSindangkerta-1.jpg

"Kakak-kakak di Save the Children sangat menginspirasi. Suatu saat aku ingin seperti kalian, membuat perubahan-perubahan yang berarti untuk kehidupan," kata Sopia saat berbincang dengan para pembimbingnya di Save the Children.

"Apa yang pengen kamu perjuangkan?" tanya Dewi, salah seorang fasilitator Save the Children yang menangani program kesiapsiagaan bencana.

"Aku ingin anak-anak doyan membaca, bukan cuma buku tapi juga alam di sekitarnya."

Sopia membuka telapak tangan, memberi jalan tukik di genggamannya meluncur memijak pantai. Tukik itu mengayuh kaki-kaki kecilnya sekuat tenaga mendorong tubuhnya bergerak melintasi pasir. Semangatnya besar tapi jangkauan kakinya masih pendek. Matanya menatap asing deburan ombak yang ada di depannya, ini pertemuan pertamanya dengan lautan.

"Kamu tahu, tukik merekam ingatan di mana kakinya pertama kali menyentuh pasir," kata David John Schaap sore itu saat menemani anak-anak Sindangkerta melepaskan Tukik di pantai. "Kalau tukik ini sudah jadi penyu dewasa, mereka akan kembali ke pantai asalnya di mana pertama kali ia dilepaskan."

Sopia juga berharap manusia ingat akan asalnya. Dampak perubahan iklim bukan hanya dirasakan saat ini saja, tapi juga anak cicit di kemudian hari. Itu mengapa menjaga alam seharusnya menjadi tanggung jawab setiap generasi. Dengan cara yang kita bisa, semua lapisan usia harus ikut berkontribusi, menyumbang ide, pemikiran, gagasan, tenaga atau apa pun untuk menyelamatkan bumi di mana kaki manusia pertama kali berpijak menyentuh kehidupan.


––
Artikel dan foto: Tim program Google for Disaster Resilient Cities and Communities
Editor: Purba Wirastama