Situasi anak dan keluarga selama 3 bulan COVID-19

Rabu 28 Oktober 2020
Situasi Anak dan Keluarga Selama 3 Bulan COVID-19:
Anak-anak dari Rumah Tangga Miskin dan Terpinggirkan Kesulitan Mengakses Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Sehari-hari, dan Beban Kerja Domestik Menghambat Pendidikan Anak Perempuan  
 
Save the Children melakukan penelitian global terbesar dengan 31.683 responden orang tua/pengasuh dan 13.477 responden anak usia 11-17 tahun dari 46 negara. Hasil analisis dari jawaban responden di Indonesia menunjukkan pandemi COVID-19 membuat banyak keluarga kehilangan mata pencaharian dan kesulitan mengakses layanan kesehatan. Isu-isu ini sudah diprediksi pada saat COVID-19 baru diumumkan sebagai pandemi. Melalui penelitian ini, Save the Children Indonesia mendapatkan data bahwa kesulitan keuangan dan akses layanan kesehatan, bahkan membeli kebutuhan sehari-hari (masker, hand sanitizer, pangan) masih terjadi setelah 3 bulan pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia. Tentunya masalah yang dialami keluarga di Indonesia juga berdampak pada anak-anak.
Temuan dari survei orang tua dan anak dari kelompok terpinggirkan di Indonesia secara umum:
  • 86% orang tua merasakan semakin sulit mengakses layanan kesehatan fisik dan mental serta mendapatkan kebutuhan sehari-hari (termasuk produk kebersihan menstruasi), pangan dan obat-obatan;
  • 74% orang tua kehilangan pendapatannya sejak COVID-19 menjadi pandemi dan 35% dari seluruh responden bahkan kehilangan lebih dari setengah pendapatannya. Hanya 9% dari responden orang tua yang tidak merasakan kesulitan membeli atau membayar kebutuhan pokok;
  • 82% responden orang tua mengatakan anak-anak mereka menunjukkan tanda-tanda khawatir, cemas, sedih dan takut. 75% responden orang tua juga merasa lebih kesepian, khawatir, gugup, putus asa, gelisah, tidak berharga, bahkan depresi dan berpikir semuanya serba sulit;
  • kebutuhan yang paling banyak diminta oleh anak-anak, tepatnya 79% responden anak, adalah materi belajar;
  • hanya 24% anak Indonesia yang mengatakan keluarganya mendengarkan mereka sementara secara global hampir setengah atau 46% responden anak yang merasakan demikian, serta hanya 1 dari 7 anak yang dimintai pendapatnya dan 1 dari 10 anak yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan rumah tangga.
Responden survei di Indonesia mencapai 4.568 orang tua (60% perempuan dan 40% laki-laki) dan 2.232 anak berusia 11-17 tahun (53% perempuan dan 47% laki-laki) dari 30 provinsi. Data yang disampaikan di artikel ini merupakan hasil analisis dari jawaban 1.887 orang tua (61% perempuan dan 39% laki-laki) dan 854 anak (50% perempuan dan laki-laki) peserta program Save the Children, serta 1.925 orang tua (58% perempuan dan 42% laki-laki) dan 1.182 anak (53% perempuan dan 47% laki-laki) non-peserta Save the Children tapi dari wilayah tertinggal, terdepan, terluar dan rawan bencana.

Selain itu, pandemi COVID-19 juga memperlebar kesenjangan sosial. Beban kerja rumah tangga 52% anak perempuan meningkat (sementara hanya 42% anak laki-laki yang melaporkan demikian). 17% anak perempuan, dibandingkan 14% anak laki-laki merasa terhambat belajar karena terlalu banyak pekerjaan domestik. Selain itu, 34% anak perempuan merasa beban kerja pengasuhan meningkat, sementara hanya 27% responden anak laki-laki yang melaporkan demikian. Tidaklah mengherankan jika kemudian anak perempuan merasa lebih tidak bahagia (16%) dibanding anak laki-laki (13%), lebih cemas (45%) daripada anak laki-laki (36%), lebih sedih (30%) dibanding anak laki-laki (23%) dan lebih tidak aman (19%) dibanding anak laki-laki (17%).

Rumah tangga yang dikepalai perempuan cenderung lebih banyak melaporkan kesulitan ekonomi, seperti hilangnya pendapatan dan sumber penghasilan. Kelompok responden ini cenderung kehilangan penghasilan lebih banyak dari keluarga lain, terlihat dari laporan kehilangan seluruh atau sebagian pendapatan paling banyak didapatkan dari kelompok ini. Rumah tangga yang dikepalai keluarga juga cenderung lebih kesulitan membeli/membayar kebutuhan sehari-hari (termasuk pangan dan hand sanitizer) dan layanan kesehatan, dibanding keluarga yang anggota dewasanya semua laki-laki atau campuran perempuan dan laki-laki.
Keluarga dari kelompok minoritas dan yang tidak mengidentifikasi diri (sebagai kelompok minoritas/tidak) pun paling banyak melaporkan kehilangan sumber pendapatan dan seluruh pemasukan. Sama seperti rumah tangga yang dikepalai perempuan, kelompok responden ini lebih mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan dan membeli/membayar kebutuhan sehari-hari. Anak-anak dari kelompok minoritas dan yang tidak mengidentifikasi diri lebih banyak yang tidak memiliki bahan belajar sama sekali dan cenderung berpotensi putus sekolah.

Kesulitan orang tua dan anak mengakses layanan dan perawatan kesehatan yang dibuktikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa memperlonggar pembatasan sosial sekala besar (PSBB) atau membuka kembali sekolah tanpa protokol kesehatan sesuai dengan rekomendasi World Health Organization bukanlah solusi.
Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa situasi yang tertangkap dalam analisis kebutuhan cepat atau Rapid Needs Asssessment (RNA) COVID-19 Indonesia kami pada bulan Maret 2020 belum berubah. Berdasarkan temuan-temuan di atas dan rekomendasi yang Save the Children sampaikan kepada pemerintah di seluruh dunia dalam risalah COVID-19 Pandemic Lessons from Asia Pacific, solusi yang kami ajukan adalah:
  1. melakukan langkah-langkah untuk menghentikan penyebaran virus Corona dan wabah COVID-19 secara efektif, seperti memperluas tracing dan memperbanyak testing terutama untuk kelompok masyarakat termarjinalkan (seperti anak dan keluarga di lingkungan padat), mempromosikan pengaturan jarak fisik (physical distancing) dan penggunaan masker, dan memastikan vaksin atau obat COVID-19 akan tersedia secara gratis bagi kelompok termarjinalkan;
  2. memastikan jejaring pengaman sosial yang sudah diperluas oleh pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH), program sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), santunan kematian, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Padat Karya Tunai (PKT), kartu prakerja, subsidi listrik diterima oleh perempuan kepala keluarga, kelompok minoritas, serta orang dengan disabilitas;
  3. memastikan layanan kesehatan mental Sejiwa dan layanan untuk korban kekerasan (termasuk domestik dan anak) dapat digunakan oleh orang-orang miskin atau yang kehilangan pendapatan selama pandemi COVID-19 juga anak-anak;
  4. menjalankan program-program belajar yang inovatif disertai distribusi materi/bahan belajar dan pemerataan fasilitas seperti koneksi internet dan gawai;
  5. mempromosikan pengasuhan anak yang positif kepada para orang tua;
  6. mempercepat tercapainya kesetaraan gender sesuai dengan Sustainable Development Goals No. 5 untuk mengatasi norma gender yang memiskinkan perempuan dan keluarga, menimbulkan masalah kekerasan di masyarakat, serta menghambat pendidikan anak.
Hasil lengkap pengumpulan data dapat dibaca di laporan penelitian global Protect a Generation: The impact of COVID-19 on children’s lives dan laporan survei di Indonesia Dampak Tersembunyi dari COVID-19: Ringkasan Eksekutif Penelitian Global Kesehatan dan Nutrisi, Pendidikan, Perlindungan dan Hak Anak Selama Pandemi COVID-19. Kami juga menyiapkan risalah kebijakan dari hasil penelitian ini.
 
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:
Tata Sudrajat (Deputy Chief of Program Impact and Policy)
[email protected]
Jl. Bangka IX No. 40 AB Kel. Pela Mampang, Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan 12720
+62 (21) 7824415