Kolaborasi Desa dan Sekolah Lewat Guru Kunjung

Senin 27 Juli 2020

Studi Kasus:

Kolaborasi Desa dan Sekolah Lewat Guru Kunjung

DONGGALA – Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang beradaptasi dalam situasi krisis yang kompleks. Ini termasuk anak-anak didik dan guru yang harus belajar dan mengajar jarak jauh dari rumah karena gedung sekolah ditutup.

Dalam situasi seperti ini, aktivitas belajar mengajar jarak jauh tidak bisa selalu berjalan. Tidak setiap keluarga atau tempat punya gawai, akses internet, dan bahkan jaringan siaran radio dan televisi nasional. Anak-anak di rumah bisa lupa dengan belajar. Kecamatan Balaesang Tanjung di Kabupaten Donggala adalah salah satu wilayah yang mengalami masalah demikian.

"Kami khawatir anak-anak tidak belajar selama pandemi," cerita Nur Arif Jaya, staf Save the Children di kantor Sulawesi Tengah.

"Mereka asyik dengan bermain dan lupa dengan belajar. Apalagi kemampuan orangtua dalam memberikan motivasi dan materi pembelajaran itu terbatas. Di sini, daripada anak-anak libur tanpa kegiatan, mereka diajak orangtua melaut atau mengumpulkan kelapa," lanjutnya.
 
2020-Donggala_Aktivitas-Guru-Kunjung-1.jpg

Nur Arif dan rekan-rekan tim Save the Children di Sulawesi Tengah mengupayakan sejumlah cara untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar dalam situasi krisis tersebut. Upaya pertama adalah bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) untuk menerapkan aturan Jam Belajar Masyarakat (JBM) pagi dan sore. Ini berlaku di Desa Malei dan Desa Rano di Balaesang Tanjung; dua desa tersebut telah menjadi dampingan program Save the Children sejak bencana alam 2018 di Sulawesi.

Dalam rentang jam belajar itu, selama satu hingga dua jam, anak-anak diarahkan untuk belajar apa saja di rumah, misalnya bahasa, berhitung, atau menggambar. Fokusnya adalah bagaimana orangtua dan komunitas desa mendukung anak-anak belajar setiap hari, serta menjaga kondisi psikologis mereka selama pandemi.

Bagaimana peran guru sekolah dalam situasi ini? Sejak Maret 2020, Dinas Pendidikan Donggala sudah mengeluarkan arahan agar guru-guru sekolah mengunjungi siswa mereka dari pintu ke pintu, terutama mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi cukup untuk belajar jarak jauh. Tetapi pada awalnya, sebagian besar kunjungan ini sebatas mengantarkan tugas tertulis atau lembar ujian, dan bukan mengadakan aktivitas belajar bersama. Terlebih lagi, tidak semua guru bisa melakukan kunjungan selama pandemi.

Bersama PATBM dan pemerintah desa, tim Save the Children melakukan upaya kedua: membuat sinergi antara JBM dengan kebijakan dari dinas pendidikan terkait kunjungan guru. Mereka telah mengajak guru-guru di desa untuk berkunjung ke rumah-rumah siswa dan melakukan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok kecil. Satu kelompok berisi maksimal empat siswa yang rumahnya berdekatan.
2020-Donggala_Aktivitas-Guru-Kunjung-3.jpg
 
Karena rumah siswa-siswa di Balaesang Tanjung biasanya tidak jauh dari sekolah, cara ini masih aman dilakukan. Rumah guru-guru mereka juga tidak jauh dari sekolah. Desa memastikan setiap keluarga siswa siap menerima kunjungan guru dengan "pintu terbuka". Ini adalah aktivitas program yang kemudian kita sebut dengan Guru Kunjung.

"Akhirnya semua pintu terbuka untuk tamu datang, khususnya untuk guru. Ketika guru mengajar di rumah siswa, dia juga sudah tidak canggung lagi," kata Nur Arif. "Guru merasa didukung sehingga jadi semangat. Guru pasti akan menggunakan metode belajar yang biasa dia lakukan."

Menurut Nur Arif, program Guru Kunjung di Malei dan Rano masih akan berlangsung setidaknya hingga Oktober tahun ini. Meskipun dua desa ini punya status zona hijau pandemi COVID-19, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah risiko penularan virus korona.

Berikutnya, tim Save the Children di Donggala bersama pemerintah setempat berencana menawarkan konsep program Guru Kunjung kepada desa-desa di kecamatan lain. Tujuannya masih sama: memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi selama pandemi, serta membuat kolaborasi erat antara sekolah, guru, desa, dan masyarakat untuk pendidikan anak.
__

Ditulis oleh Purba Wirastama
Diceritakan oleh Nur Arif Jaya
Foto-foto oleh Rizky K Wijaya dan Indra S Kurnia