Dampak COVID-19, Pendidikan Anak Usia Dini Terancam.

Senin 21 September 2020

Dampak COVID-19, Pendidikan Anak Usia Dini Terancam.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting bagi perkembangan anak balita. Pengembangan kemampuan belajar, sosial, pemantauan kesehatan, dan pengembangan karakter. Semua aspek pertumbuhan tersebut bisa dipantau dan berkembang melalui Pendidikan Anak Usia Dini. Kokoh atau rapuhnya perkembangan otak anak sangat bergantung kepada semua hal yang dialaminya di usia dini.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan penutupan lambaga Pendidikan termasuk PAUD. Dapat dipastikan PAUD tahun ajaran baru 2020/2021 sepi dari peminat.

Melihat kondisi di lapangan, proses pembelajaran PAUD pada akhir tahun pelajaran 2019/2020 beralih dari belajar di sekolah ke belajar di rumah. Dengan situasi yang masih rawan hingga akhir tahun ini, kemungkinan besar tahun pelajaran 2020/2021 belum dapat dijalankan dengan normal. Proses pembelajaran PAUD kemungkinan akan tetap tanpa proses belajar tatap muka antara guru dengan peserta didik.

Terlepas dengan adanya revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang memperbolehkan sekolah di zona kuning untuk kembali beraktivitas tatap muka, tingkat kerawanan bagi anak usia dini tertular tetap tinggi. Hal ini mengakibatkan banyak orangtua yang masih enggan menyekolahkan anaknya terlalu cepat.

Tantangan dan ujian bagi kelangsungan proses pembelajaran maupun eksistensi PAUD tidaklah mudah. Peserta didik PAUD belum mampu atau belum saatnya mengoperasikan gawai sebagai alat pembelajaran jarak jauh. Proses pembelajaran PAUD yang penuh dengan kegembiraan, keakraban, kasih sayang, dan keharmonisan lainnya, lenyap ditelan wabah Covid-19.

Semua manfaat PAUD bagi perkembangan anak usia dini tidak boleh hilang karena pandemi Covid-19. Di sinilah pentingnya peran orangtua dalam berkomunikasi dengan para guru untuk memastikan aktivitas belajar mengajar bagi anak usia dini tetap berjalan dengan baik di rumah sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Orang tua membimbing berbagai aktivitas anak di rumah dan mengamati  segala hal yang dilakukan anak, seperti: apa yang diucapkan anak, termasuk ekspresi wajah, gerakan, proses belajar dan hasil karya anak, di setiap sudut ruang baik di dalam maupun di luar rumah. Selain tentunya, orang tua juga perlu mengamati pertumbuhan fisik dan kondisi psikologis anak, dengan berkonsultasi kembali pada para ahlinya segera setelah pandemi mereda dan fasilitas kesehatan dibuka.

Penilaian Kebutuhan Cepat (Rapid Need Assessment) yang dilakukan Save the Children Indonesia pada April 2020 menunjukkan bahwa 25 persen orang tua tidak memiliki alat dan bahan ajar yang memadai, 40 persen orang tua melihat motivasi anak menurun, dan hampir 30 persen guru membutuhkan materi pembelajaran jarak jauh. Kemungkinan kondisi asli di lapangan jauh lebih besar dari persentase kajian ini mengingat keterbatasan kajian yang memilih kelompok masyarakat pengguna telepon pintar sebagai responden.

Dengan adanya wabah Covid-19, Save The Children Indonesia melakukan berbagai kegiatan untuk memastikan anak-anak usia dini tetap belajar dari rumah. Mulai dengan mensosialisasikan dan mendukung kampanye pemerintah untuk selalu menggunakan masker dan sering mencuci tangan, menyediakan ribuan masker dan paket kesehatan (hygiene kit) untuk para guru dan murid, hingga kampanye Belajar Di Rumah (BDR). Program BDR ini didukung dengan menyediakan ribuan bahan dan peralatan belajar, mulai dari buku bacaan, buku cerita, alat tulis dan menggambar.
 
Childsurvivor-Kia.jpg

Save the Children melakukan berbagai upaya untuk mendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para guru dan murid PAUD yang menggunakan metode belajar luar jaringan (luring) terutama di wilayah timur Indonesia atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Diantaranya seperti yang Save the Children lakukan di Lombok Utara dengan menyelenggarakan siaran rutin melalui radio untuk membantu para Guru PAUD menyebarkan ilmunya kepada para Orangtua dan Anak yang belajar mandiri di rumah. Seluruh upaya dalam mendukung program BDR ini ini tentunya tidak hanya untuk memotivasi anak tetap bersemangat belajar di rumah bersama orangtua, namun juga memotivasi orangtua agar dapat selalu berinovasi dan berkoordinasi bersama para Guru PAUD dalam memberikan pembelajaran yang terbaik bagi anak.

Upaya lain yang dilakukan oleh Save the Children dalam mendukung proses PJJ adalah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat untuk menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS), dengan memanfaatkan berbagai bahan dan alat yang tersedia di rumah dan sekitarnya, dan atau lembar kerja yang bisa disediakan oleh sekolah dengan bantuan para guru untuk menyiapkan dan mengirimkannya ke rumah anak untuk keperluan pembelajaran periode tertentu. Terlampir beberapa contohnya.
 
q.png
w.png


Sebagai bagian dari kampanye global Save The Children: #ProtectAGeneration, Save The Children  Indonesia menyelenggarakan kampanye Pulih Bersama untuk mengajak masyarakat membantu anak-anak dan keluarga agar bisa bertahan di situasi sulit selama masa pandemi dan mampu melalui segala tantangan sehingga bisa terus bertumbuh dan menemukan peluang baru.

Melalui kampanye ini, Save the Children mengangkat tujuh risiko yang dihadapi oleh anak dan keluarga mereka akibat dari pandemic Covid-19. Ketujuh risiko tersebut adalah 1) Anak yang kehilangan orang tua karena COVID-19, 2) Orangtua yang kehilangan pekerjaan, 3) Anak yang sulit mengakses layanan pendidikan, 4) Anak rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi, 5) Anak sulit mengakses layanan kesehatan dasar dan gizi, 6) Anak yang  tinggal di kawasan bencana dan rawan bencana, dan 7) Anak dengan disabilitas mengalami risiko yang lebih berat.
 
Save-the-Children-staff-handing-out-books-to-the-children-at-a-Save-the-Children-reading-camp.jpg

Pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis multi-dimensi tidak terkecuali sector Pendidikan sebagai salah satu sektor yang paling parah terdampak. Saat ini diperkirakan 60 juta murid dari semua jenjang pendidikan PAUD hingga SMA/SMK di Indonesia belajar dari rumah dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Proses belajar tanpa kehadiran guru dan murid di kelas, berpotensi mengurangi kualitas pendidikan. Orang tua tidak sama dengan guru. Orang tua tidak dapat mendampingi sepenuhnya  dan mengajari anak dalam berbagai mata pelajaran.
Sementara proses belajar dalam jaringan memaksa berkurangnya interaksi langsung antara guru dan murid. Hal ini diperburuk dengan kurangnya fasilitas pendukung seperti jaringan listrik, internet, dan kemampuan orang tua dalam menyediakan paket data serta tidak memiliki telepon pintar.

Akibatnya, Save the Children Indonesia melihat jika anak-anak tarancam mengalami penurunan kemampuan literasi dan numerasi, putus sekolah bahkan kekerasan terhadap anak. Masalah perkawinan anak juga mengintip di ujung jalan. Peningkatan pekerja anak pun menjadi hal yang harus diperhatikan semua pihak.
Peran semua pihak, tidak hanya pemerintah dan sekolah, namun juga orangtua, masyarakat, baik komunitas maupun pihak swasta sangatlah diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang saat ini dihadapi serta potensi bahaya yang mungkin terjadi dengan adanya pandemi yang mengakibatkan anak sulit mendapatkan akses pendidikan.
Children-reading-books-at-a-Save-the-Children-reading-camp-,-a-programme-that-aims-to-boost-literacy-rates-(2).jpg

Anak Indonesia harus tetap mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, dan karenanya harus terus kita perjuangkan agar seluruh lembaga PAUD tetap bisa eksis dan menjalankan tugas dan  fungsinya dalam memberikan pengajaran secara optimal. Agar tetap dapat memberikan kontribusi yang maksimal kepada anak usia dini dan orangtua yang mendampinginya di rumah.

Save the Children membuka diri dan mendorong berbagai kolaborasi  inisiatif baik dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas maupun pelaku usaha untuk bekerja bersama memastikan hak-hak dasar anak, termasuk hak untuk belajar, mengembangkan diri dan mempersiapkan masa depannya tetap ada dan terjamin. Pandemi COVID-19 ini telah mengajarkan bahwa investasi pada sumber daya, sistem dan akses mutlak dilakukan, dan pendidikan anak usia dini adalah investasi bangsa yang tidak dapat menunggu.  Mari gotong royong, memastikan hak anak Indonesia terus terjaga!

Jika Anda adalah perusahaan/ entitas swasta yang tertarik untuk berkolaborasi dengan Save the Children Indonesia dalam mewujudkan dan menjaga hak-hak anak Indonesia di sektor pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, aksi kemanusiaan dan perubahan iklim, Anda dapat menghubungi [email protected].