Bencana Urusan Anak: Para penjaga Alam Semesta

Rabu 29 Januari 2020
“Kita jaga alam, Alam jaga kita” (Doni Monardo, Kepala BNPB)
              Viralnya Aeshnina Azzahra atau dipanggil Nina, siswi SMP Negeri 12 Gresik setelah bertemu dengan Duta Besar Jerman dan Australia untuk urusan sampah adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Nina menjadi duta anak untuk dunia yang lebih baik. Untuk Indonesia kita sangat berbahagia karena ada seorang anak yang bisa melakukan apa yang sama dengan diperjuangkan Greta Thunberg dalam berbagai forum pertemuan di dunia. Mereka adalah anak-anak hebat yang prihatin akan merusaknya bumi dan alam yang mereka tempati sekarang dan pada masa yang akan datang.
              Dengan suara anak anak mereka yang kerap tidak didengar oleh para pembesar dan orang-orang tua, mereka menyadarkan bahwa dunia kita ini sudah menjadi lautan sampah dan sumber bencana bagi semua. Mereka adalah representasi pejuang yang memiliki gairah untuk menobatkan semua yang berkontribusi merusak, dunia, alam semesta dan bumi yang kita diami bersama. Tidak berlebihan kalau kita menjuluki mereka sebagai anak penjaga alam semesta (Anjas) dan anak yang cinta alam dan bumi (Cintami)
              Mendiami lingkungan yang rapuh terhadap berbagai ancaman (hazard) bencana, anak-anak itu telah menyadarkan bahwa apa yang disebut antroposen, alias aktifitas manusia yang berlebihan dan akibatnya merusak bumi, sudah, sedang dialami dan akan memburuk. Mau tidak mau manusialah yang menyebabkan bencana baik secara langsung ataupun tidak. Dengan kerakusan dan kedigdayaan mengatur alam, manusia menjadi pelaku-pelaku yang menambah terjadinya risiko bencana dimana mana. Manusialah aktor utama hancurnya alam dan membesarnya magnitude risiko bencana yang kita alami.
              Nina dan Greta dengan “passion” yang mereka miliki sudah menjadi prototype Anak Jaga Semesta (Anjas) dan Cinta Alam dan Bumi (Cintami). Anjas dan Cintami harusnya bisa lebih banyak difasilitasi oleh semua pihak ketika bicara tentang isu keberlanjutan, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Berbagai acara besar secara global, nasional bahkan sampai ke tingkat lokal dan desa telah dilaksanakan oleh berbagai pihak dalam dekade dekade terakhir ini untuk menyasar isu-isu besar keberlanjutan, iklim dan bencana, namun masih sangat disayangkan belum memberikan peran berarti pada anak-anak untuk didengar.
              Anak-anak sudah seharusnya diintegrasikan dalam meranang masa depan lingkungan mereka. Bagian pertama yang sering dislogankan dalam pengurangan risiko bencana adalah kenali ancaman bencana (hazard) di sekitarmu. Sudah saatnya Anjas dan Cintami dibuat memahami apa ancaman bencana yang ada di rumah, sekolah dan tempat bermain mereka. Mereka harus bisa membuat perencanaan kalau gempa bumi terjadi, atau banjir dan atau kekeringan. Lingkungan mereka harus dibuat setangguh mungkin agar ancaman bencana tidak menghilangnkan masa depan mereka.
              Anak-anak juga harus bisa hidup dan mengenal risiko apa yang bisa terjadi yang berkaitan dengan ancaman bencana disekitarnya. Risiko adalah sebuah kondisi dimana bisa dilakukan rekayasa baik secara individual maupun komunal. Risiko bencana akan membesar bila secara pribadi maupun komunitas tidak melakukan upaya kesiapsiagaan dan atau mitigasi bencana yang benar. Anak-anak perlu mengetahui rute evakuasi, perlu juga tinggal di rumah yang aman dari gempa atauu banjir, dan sangat perlu untuk memiliki gedung sekolah yang kokoh. Anjas dan Cintami bisa dibuat paham untuk hal-hal ini dan memperbesarnya dalam lingkup keluarga, sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. Anak-anak bisa dan mampu mengurangi risiko bencana yang ada di sekitar mereka.

The-Expert-from-various-organization-institution-as-well-as-children-group-developing-the-campaign-planning.jpeg
             
Sudah tentu semua upaya mengenali ancaman dan mengurangi risiko bencana bertujuan agar setiap anak dan invidu dapat menjadi siap untuk selamat. Keselamatan adalah tolok ukur yang paling bisa ditunjukkan ketika sebuah kejadian bencana terjadi. Untuk itu bukan saja anak-anak diharapkan mengetahui ancaman dan risiko bencana yang ada, tetapi  mereka juga perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan aksi untuk selamat. Berbagai pelatihan, simulasi dan upaya upaya untuk penyelamatan diri, keluarga dan masyarakat sudah harus dibudayakan sejak anak-anak. Mulai dari yang sederhana seperti perlengkapan peralatan tas siaga bencana, sampai kepada upaya berlindung terhadap ancaman bencana yang ada perlu disiapkan, disiagakan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak.

Youth-Children-are-discussing-about-how-application-can-be-inclusive-for-disability-people-including-children.jpeg
             
Anjas dan Cintami bukanlah harapan kosong, sebagaimana kiprah yang sudah dilakukan Nina dan Greta. Sebuah baseline study, yang baru baru ini dilaksanakan di tiga kabupaten rawan bencana di Jawa Barat terdapat temuan bahwa kendati ada ketertarikan anak-anak sekolah sampai 80% untuk isu Pengurangan Risiko Bencana, tapi ironisnya ada 56% dari antara mereka yang tidak pernah sama sekali melakukan simulasi kebencanaan untuk ancaman bencana apapun juga. Potensi anak-anak untuk menjadi Anjas dan Cintami yang cukup tinggi dengan ketertarikan terhadap isu kebencanaan belumlah difasilitasi oleh para pengambil keputusan dan penggiat perngurangan risiko bencana.
              Slogan “Kenali Ancaman, Kurangi Risiko dan Siap Untuk Selamat” harus terus menerus dipaparkan kepada semua anak-anak di tanah air tercinta yang rawan bencana ini. Kita bersyukur semua bencana besar, Tsunami Aceh 2004, Gempa Yogya 2006, Gempa Padang  dan Tasik 2009, Tsunami Palu 2017 dan yang termutakhir Banjir Jabodatabek 2020, tidaklah terjadi pada jam persekolahan. Apa yang akan terjadi bila bencana menghantam gedung-gedung sekolah ketika anak-anak sedang melakukan aktifitasnya, pastilah jumlah korban akan semakin masif dan menakutkan. Peringatan itu sudah memberikan tanda bahaya agar kita harus melindungi anak-anak dalam situasi bencana. Saatnya kita bisa mengubah cara pandang yang menyatakan anak-anak hanyalah kelompok rentan dalam bencana. Mereka bisa memiliki kapasitas yang dapat menjadi pengaruh positif kepada keluarga, komunitas sekolah dan masyarakat umum untuk menghadirkan ketangguhan terhadap ancaman bencana yang dihadapi. Sama seperti mengubah konsepsi Indonesia sebagai daerah “supermarket bencana” menjadi negeri “laboratorium bencana”, maka anak-anak harus dimasukkan dalam laboratorium pengurangan risiko bencana yang menjadikan mereka sebagai “champion” ketangguhan kendati hidup di lokasi rawan bencana.
              Para penjaga alam semesta (Anjas) dan Cinta alam dan Bumi (Cintami) sudah siap memasuki gelanggang pengurangan risiko bencana di bumi pertiwi ini. Ada anak-anak laki gagah sebagai penjaga alam semesta dan ada pula anak-anak perempuan yang dalam kelembutannya mencintai alam dan bumi sebagai tempat tinggal bersama. Tugas semua pemangku kepentingan adalah menghidupkan mimpi-mimpi mereka untuk hidup aman dan Tangguh dalam medan bencana yang sekejam apapun ancamannya. Tugas kita juga untuk memberikan tongkat estafet agar bumi kita dan alam semesta menjadi tempat yang lebih baik untuk didiami para Anjas dan Cintami.
              Teruslah bersuara Nina dan Greta. Jangan bosan mengingatkan, dan jadilah pahlawan dalam ketulusan  dan keceriaan kalian. Hidupilah bumi dan warisi kebaikan dan jadilah Anjas dan Cintami.
Vox Puer, Vox Dei, Suara Anak, Suara Tuhan
 
Penulis: Victor Rembeth/ Project Director Pengurangan Risiko Bencana, Save The Children Indonesia