Laporan Situasi Indonesia

Laporan Situasi Indonesia saat ini dan tantangan yang dihadapi.
Laporan Situasi Indonesia Saat ini
Indonesia telah mengalami  kemajuan dalam  peningkatan  kesehatan ibu dan anak selama periode Millenium Development Goals (MDGs) yakni adanya penurunan kematian bayi baru lahir, anak dan balita dengan penurunan kematian balita yang paling signifikan. Indonesia berhasil mencapai target MDG 4  dengan mengurangi  kematian balita dari 85 per 1000 kelahiran hidup di tahun 1990 menjadi  27 di tahun 2015 dan mencapai target MDGs, namun pengurangan kematian neonatal belum mengalami banyak perubahan. Indonesia juga belum  mencapai target MDGs terkait kematian ibu. Diperkirakan sekitar 6.400 kematian ibu terjadi di tahun 2015; menurut  Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) kematian ibu kemungkinan mengalami peningkatan sejak SDKI  yang dilakukan di tahun 2007.
Tantangan yang dihadapi
Data dari SDKI 2012 mengungkapkan adanya kesenjangan yang substansial – baik pada akses layanan kesehatan ibu dan anak maupun kondisi kesehatan – berdasarkan pendapatan masyarakat, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal ( desa-kota dan daerah). Terdapat perbedaan signifikan dalam angka kematian anak antara kelompok sosial ekonomi. 
  • Kematian balita tiga kali lebih tinggi untuk anak-anak darikelompok termiskin dibanding mereka dari kelompok terkaya(70 berbanding 22).
  • Demikian juga kematian balita1.5 kali lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan (52 berbanding 34).
  • Kesenjangan terbesar pada kematian balita berhubungan dengan tingkat pendidikan.
  • Anak-anak yang ibunya berpendidikan rendah kemungkinan tiga kali lebih rentan untuk tidak bertahan hidup sebelum usia lima tahun dibandingkan dengan mereka yang ibunya berpendidikan hinga tingkat menengah.
  • Pendidikan juga berperan penting dalam intervensi reproduksi dan kesehatan ibu.
  • Kemungkinan wanita yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah untuk bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih tiga kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak bersekolah.
Indonesia telah berupaya mengatasi beberapa isu kesenjangan, misalya kesenjangan terkait kehadiran bidan yang terlatih antara wilayah pedesaan dan perkotaan, dimana pada tahun 1994 kemungkinan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih tiga kai lebih keci kemungkinanny disbanding than 2012 dimana rasionya berkurang menjadi 1.2 I tahun 2012. Hal ini adalah perkembangan yang positif. Namun, seiring dengan menurunnya angka kematian anak, pengurangan kematian neonatal masih berjalan lambat (lihat gambar 7).



KESENJANGAN GEOGRAFIS
 
Berdasarkan data DHS terbaru, terdapat kesenjangan wilayah yang cukup substansial dalam angka kematian anak. Angka kematian balita di Papua, misalnya, lebih dari 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan Riau dan lebih dari dua kali lipat di Nusa Tenggara Barat dan Gorontalo dibandingkan dengan DKI Jakarta (lihat Gambar 8).
 
Ada juga kesenjangan antar daerah yang cukup besar dalam akses ke pelayanan penting maternal dan bayi baru lahir (lihat Gambar 9).
 
 
INVESTASI PUBLIK YANG RENDAH PENGELUARAN PRIBADI YANG TINGGI
 
Tingkat pendanaan publik untuk kesehatan di Indonesia sangat rendah, sementara masyarakat harus membayar sendiri hampir separuh dari pengeluarannya untuk kesehatan mereka. Negara mengeluarkan hanya lebih dari 1% dari produk domestik bruto atau gross domestic product (GDP) untuk kesehatan di tahun 2014. Pembayaran pribadi atau pembayaran Out-of-pockets (OOP) merupakan bagian besar dari total pengeluaran kesehatan – 47% di tahun 2014.8
 
Pada tahun 2014, Indonesia memperkenalkan Skema Asuransi Kesehatan Nasional atau National Health Insurance Scheme (JKN) terbaru untuk memberikan perlindungan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia. Asuransi Kesehatan Sosial seharusnya bersifat wajib, dan  membentuk bagian dari peta jalan Indonesia menuju cakupan kesehatan universal atau universal health coverage (UHC).
 
Premi untuk kelompok termiskin sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah. Namun, hal ini tidak terjadi bagi mereka yang berada di atas ambang kemiskinan; secara kemiskinan bersifat dinamis dan kondisi masyarakat dapat berubah dengan sangat mudah, ada resiko pada beberapa orang termiskin dan kelompok pendapatan rendah lainnya yang mungkin tidak termasuk dalam skema tersebut. Paket manfaat termasuk perawatan kesehatan reproduksi, ibu dan anak, perencanaan keluarga, perawatan antenatal, perawatan kelahiran (termasuk operasi cesar), imunisasi masa kanak-kanak dan perawatan postnatal. Namun pada prakteknya tidak semua wilayah memiliki perlengkapan yang memadai untuk memberikan berbagai pelayanan ini. Pelayanan seharusnya gratis pada saat diperlukan untuk para peserta skema JKN.
 
Namun, penelitian Save the Children telah menyoroti beberapa tantangan untuk mengimplementasikannya.
 
Skema ini berpotensi untuk mengabaikan masyarakat yang tidak memiliki dokumen yang diperlukan, seperti mereka yang berstatus penduduk ‘ilegal’ di beberapa kota, masyarakat yang tinggal di pemukiman informal, tunawisma (termasuk anak-anak jalanan), masyarakat adat dan/atau nomaden, dan pekerja rumah tangga. Terjadi kesadaran dan pemahaman masyarakat yang rendah tentang skema ini (di wilayah desa dan kota); masyarakat miskin yang berpengetahuan terbatas tentang cara kerja, cakupan, hak mereka, dan sistem rujukan.
 
Beberapa hal yang dikemukakan dalam focus group discussions adalah kompleksitas pendaftaran dan prosedur rujukan dari program ini, terutama bagi wanita yang berpendidikan rendah dan tinggal di pedesaan.
 
Indonesia juga masih kekurangan fasilitas kesehatan dan jumlah pekerja kesehatan terampil belum  memadai. Rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan reproduksi, ibu, bayi baru lahir dan anak bagi mereka yang membutuhkan. Kekurangan fasilitas kesehatan dan staf medis tetap menjadi hambatan utama ketersediaan dan akses pelayanan.
 
Fasilitas kesehatan yang ada terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu dengan tingkat kesenjangan keersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan yang sangat tinggi antara daerah perkotaan Terlepas dari upaya pemerintah  untuk memberikan insentif kepada bidan dan dokter yang ditugaskan di daerah terpencil (termasuk pulau-pulau kecil), distribusi karyawan medis di daerah desa terpencil dan kota masih belum seimbang.
 

ANGKA KEMATIAN ANAK MENURUT PROPINSI DI INDONESIA, BERDASARKAN PADA DATA DARI PERIODE DEKADE SEBELUM SURVEI DHS 2012


                                      
GAMBAR 9 : AKSES UNTUK MEMILIH PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK MENURUT WILAYAH GEOGRAFIS

 
Countdown to 2015 Indonesia Country Profile, http://www.countdown2015mnch.org/documents/2015Report/Indonesia_2015.pdf  [Accessed24 April 2016]
Trends in Maternal Mortality: 1990 to 2015. Estimates by WHO,UNICEF, UNFPA, World Bank Group and the United Nations
Population Division, 2015
Indonesia Demographic and Health Survey 2012, Statistics Indonesia,National Population and Family Planning Board, Ministry of Health,Jakarta, Indonesia and MEASURE DHS, ICF International, Maryland,USA, 2013

Baca Juga

Berpihak Pada Anak

Berpihak Pada Anak

Mengacu pada kampanye global, Every Last Child, kami menyelenggarakan Kampanye Nasional "Berpihak Pada Anak"

Baca lebih banyak

Race For Survival

Race For Survival

Menyuarakan harapan, impian dan keinginan anak-anak di seluruh dunia kepada para pemimpin mereka.
 

Baca lebih banyak