Ringkasan Laporan

Sekitar 16.000 anak balita akan meninggal pada hari ini.  Terdapat sekitar 250 juta anak-anak usia sekolah dimana dua dari lima anak tersebut mengalami putus sekolah.
 
Ringkasan Laporan Global Every Last Child
 
ANAK YANG TERPINGGIRKAN
Sekitar 16.000 anak balita akan meninggal pada hari ini.  Terdapat sekitar 250 juta anak-anak usia sekolah dimana dua dari lima anak tersebut mengalami putus sekolah.
Baik anak-anak yang bertahan hidup ataupun meninggal, yang dapat mengenyam pendidikan ataupun tidak, hal tersebut bukanlah suatu kecelakaan atau ketidaksengajaan. Dampak tersebut dideterminasi dari pilihan-pilihan yang mengeksklusikan anak-anak secara struktural dari kesempatan-kesempatan tersebut.
Kita hidup di dunia di mana para pengungsi anak terdampar di pantai Eropa merasakan tubuhnya dihantam air garam, dan di mana seorang anak pribumi dapat kehilangan pelayanan kesehatan hanya karena asal budaya mereka. Ini adalah dunia di mana seorang gadis mengalami penolakan untuk mendapatkan akses pendidikan dan seluruh masa depannya suram hanya karena dia adalah anak perempuan dan bukan seorang laki-laki. Ini adalah dunia di mana jutaan anak-anak penyandang disabilitas kehilangan kesempatan pendidikan yang akan membebaskan mereka untuk membuat perubahan besar dalam hidup mereka.
Selama hampir satu abad, Save the Children telah berjuang untuk menyelamatkan anak-anak dari kemiskinan. Sekarang kami bertekad untuk mengalahkan musuh yang mematikan dan merusak: diskriminasi yang menyebabkan jutaan anak-anak meninggal sia-sia, penolakan kesempatan untuk belajar atau yang mengalami kekerasan, hanya karena siapa mereka.
Laporan ini bercerita tentang anak-anak yang dilupakan dan menetapkan apa yang diperlukan untuk menjangkau Every Last Child.
 
DUNIA HARUS DIPERBARUI UNTUK MELAWAN DISKRIMINASI
Saat ini dunia telah membuat kemajuan luar biasa dalam memerangi kemiskinan. Sejak tahun 1990, jumlah anak yang meninggal sebelum ulang tahun mereka yang kelima dari penyebab yang dapat dicegah telah berkurang menjadi setengahnya. Terjadi pengurangan anak-anak yang putus sekolah dasar sebesar 42% dibandingkan tahun 2000. Dan jumlah anak-anak yang terhambat akibat kekurangan gizi telah menurun lebih dari sepertiga.
Pencapaian luar biasa ini telah menyelamatkan dan mengubah jutaan jiwa, tapi kami belum memiliki kesuksesan yang sama dalam memerangi diskriminasi. Ini berarti bahwa kemajuan yang ada belum tersebar merata di antara semua anak-anak. Kemiskinan terus menjadi salah satu musuh utama, namun dalam hal ini jumlah anak-anak yang meninggal atau tidak mendapatkan akses pendidikan, tidak hanya anak-anak dengan kondisi miskin. Bisa saja mereka tinggal di negara kaya atau di salah satu negara termiskin di dunia, mereka cenderung mengalami kombinasi permasalahan atas kemiskinan dan diskriminasi. Dua ketidakadilan ini yang mendeterminasi mereka sehingga terus tereksklusikan.
 
APA YANG KAMI MAKSUD DENGAN ‘EKSKLUSI’?
Anak-anak yang terpinggirkan adalah mereka yang tereksklusi dalam mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dari proses kemajuan global dalam hal kesejahteraan social khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, akibat kompleksitas determinasi permasalahan kemiskinan dan diskriminasi. Diskriminasi yang mereka hadapi bisa disengaja atau akibat dari kelalaian atau pengawasan.
 
Mengalami kombinasi diskriminasi setiap perbedaan atau pembatasan berdasarkan siapa mereka, di mana mereka tinggal dan yang mencegah mereka menikmati hak-haknya –ditambah dengan kemiskinan yang akan berkontribusi besar untuk menjadikan mereka tereksklusi. Keadaan tereksklusi menghentikan jutaan anak-anak mendapatkan makanan, kesehatan dan pendidikan yang mereka butuhkan. Terlebih lagi, anak-anak ini dan komunitas mereka umumnya memiliki sedikit kekuatan untuk mengubah ini dan sedikit pengaruh atas keputusan yang menentukan hidup mereka.
Anak-anak yang tereksklusi terlihat jelas di setiap negara dan meliputi jutaan anak-anak:
  • 400 juta anak di seluruh dunia berasal dari kelompok etnis dan agama yang terdiskriminasi.
  • 1 dari 10 anak hidup di Negara yang tengah mengalami konflik.
  • 150 juta anak-anak diperkirakan hidup dengan disabilitas.
  • 400 juta anak di bawah usia 13 tahun hidup dengan kondisi yang sangat miskin.
  • Seperempat dari semua anak dari data yang kita miliki setara dengan 1,2 miliar anak di negara berkembang hidup di wilayah-wilayah tertinggal di Negara mereka.  
Anak-anak yang terekslusi merupakan anak-anak yang ditinggalkan
Mereka adalah anak-anak yang terpinggirkan, dan bagi kampanye kami, mereka adalah fokus sekaligus pahlawan. Kami berfokus pada anak-anak ini karena diskriminasi memakan banyak biaya dan menghancurkan terlalu banyak kehidupan:
  • Dua-pertiga keluarga yang mengalami kemiskinan dalam bidang kesehatan, gizi, dan pendidikan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah dipimpin oleh seseorang dari kelompok etnis minoritas.
  • Kelompok adat terdiri dari 5% populasi global tetapi 15% dari mereka hidup dalam kemiskinan.
  • 720 juta perempuan menikah sebelum mereka berusia 18 - dibandingkan dengan 156 juta laki-laki.
  • Anak perempuan di rumah tangga miskin memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk bersekolah dibandingkan anak laki-laki di rumah tangga miskin.
  • Hanya satu dari empat anak-anak pengungsi yang memasuki usia menengah dapat bersekolah.
  • Anak-anak penyandang disabilitas 3-4 kali lebih mungkin mengalami kekerasan fisik dan seksual serta mengalami penelantaran dibandingkan rekan-rekan mereka.
Sama halnya dengan menyakiti jutaan anak-anak, dampak ekonomi dan sosial dari bentuk-bentuk diskriminasi ini sangatlah besar. Eksklusi dapat merusak kepercayaan, kohesi masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan perdamaian.
 
TEMUAN BARU TERHADAP ANAK YANG TEREKSKLUSI
Indeks Perkembangan Anak atau Child Development Index (CDI) kami mengungkapkan adanya kesenjangan yang tinggi akan kesempatan hidup dialami oleh anak-anak di seluruh dunia hanya karena siapa mereka. Indeks ini mengukur indikator kunci dari kehidupan awal yang adil, memungkinkan kita untuk menentukan peringkat negara - dan, yang lebih penting, kelompok dalam negara - menurut kesempatan hidup anak-anak. Kesenjangan yang muncul sangat mencolok. Di Republik Kongo, kesenjangan antara kelompok etnis sama besarnya seperti perbedaan antara hasil rata-rata di Mesir dan Somalia. Di Peru, negara berpenghasilan menengah, anak-anak penduduk asli Quechua memiliki peluang hidup setara yang dengan rata-rata anak-anak di Gambia, sebuah negara miskin. Di Mozambik, kesenjangan sama besarnya seperti perbedaan antara hasil rata-rata anak-anak di Chad dan Indonesia.
Pada laporan ini, kami menggunakan data penghitungan etnisitas, wilayah dalam Negara, dan gender terbaru dari Group-based Inequality Database (GRID). Database ini berisi statistik pada hasil pembangunan manusia dihitung dari pengolahan data langsung dari 280 survei rumah tangga dan kompilasi besar sumber-sumber publik agregat. Kami menggunakan GRID untuk menghitung Indeks Pembangunan Anak dan untuk melakukan serangkaian analisis baru, termasuk bagaimana situasi berkembang dari waktu ke waktu. Kami menemukan bahwa lebih dari setengah negara-negara sampel kami melihat adanya peningkatan ketidaksetaraan dalam kesempatan hidup antara kelompok etnis dan wilayah dalam negara. Sayangnya, kurangnya data yang ada tetap menjadi salah satu tantangan pada kelompok yang tereksklusi, karena mereka tetap tidak terlihat dalam statistik. Analisis kami juga dilengkapi dengan estimasi berdasarkan data sekunder. Laporan ini juga dibantu dari analisis mendalam yang dilakukan di 28 negara tempat kami bekerja. Para ahli di Save the Children bekerja di lapangan dengan kelompok yang paling tereksklusi, menghasilkan serangkaian Negara sorotan, dengan bukti yang kaya yang membantu untuk memahami konteks negara tertentu dan pendorong ketidaksetaraan yang luas pada anak-anak. Bukti dari analisis mereka dilengkapi dengan studi kasus dari masing-masing anak dan orang tua yang didapatkan dari program-program Save the Children.
DI BANYAK NEGARA KONDISI SEMAKIN MEMBURUK
Mungkin kita dapat tergoda untuk mengabaikan beberapa masalah ini sebagai 'urusan yang belum selesai. Pada kenyataannya, dampak eksklusi pada kesempatan hidup menjadi semakin meningkat, tidak berkurang, dan penting.
Temuan kami, berdasarkan analisis data baru, menunjukkan bahwa ketidaksetaraan dalam kesempatan hidup antara kelompok etnis dan kelompok lain yang terekslusi terus memburuk di sebagian besar negara-negara yang datanya tersedia. Penelitian kami menemukan bahwa, lebih dari 20 tahun setelah berakhirnya apartheid dan lebih dari 60 tahun setelah lahirnya gerakan hak-hak sipil Amerika, etnisitas masih penting dalam menentukan hasil kehidupan di setiap sudut dunia.
Misalnya, anak-anak Quechua di Peru 1,6 kali lebih mungkin meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka dan lebih dari dua kali lebih mungkin untuk terhambat pertumbuhannya sebagai anak-anak dengan latar belakang bahasa Spanyol. Di Ghana, anak-anak Gruma sekitar dua kali lebih mungkin untuk terhambat pertumbuhannya sebagai kelompok yang lebih diuntungkan pada tahun 1998; kesenjangan ini telah berkembang menjadi hampir 3,5 lebih mungkin di tahun 2014. Di sebagian besar negara, ketidaksetaraan yang semakin parah dan kelompok etnis yang diekslusi semakin tertinggal. Analisis kami juga menunjukkan bahwa ketidaksetaraan kesempatan hidup antar wilayah dalam negara terus meningkat untuk sebagian besar kasus dengan data yang tersedia. Di mana anak hidup di suatu negara dapat menjadi sama pentingnya dengan di Negara mana mereka dilahirkan.
Misalnya, Indeks Perkembangan Anak atau Child Development Index (CDI) kami  menunjukkan bahwa anak Burkina Faso yang tinggal di wilayah Sahel memiliki kesempatan hidup yang lebih rendah daripada anak-anak yang tinggal di Chad (negara yang lebih miskin) - sedangkan anak-anak dari wilayah ibukota Ouagadougou setara dengan rata-rata anak-anak di Indonesia. Di sebagian besar negara, ketidaksetaraan pada kesempatan hidup semakin meningkat. Misalnya, di Benin anak-anak di wilayah Alibori menunjukan kemajuan yang lebih lambat dan justru turun jauh di belakang meskipun  telah ada perbaikan negara secara keseluruhan.
Pada saat yang sama, jumlah pengungsi anak terus meningkat, tahun 2014 merupakan jumlah tertinggi pengungsi anak lebih dari satu dekade terakhir. Pada tahun 2011, 46% dari pengungsi di seluruh dunia merupakan anak-anak; pada tahun 2014 angka ini naik menjadi 51%.18  Dan di tahun 2014, melihat jumlah tertinggi pengungsi pada catatan – 59.5 juta jiwa- 8,3 juta lebih pengungsi dibandingkan tahun 2013. Lebih dari setengah pengungsi tersebut adalah anak-anak.19 Hal ini tidak cukup apabila hanya  menyalahkan kesalahan pengelolaan atau nasib yang buruk. Sifat abadi dari perbedaan ini menandai adanya pengabaian dan diskriminasi yang mendalam.
 
 
KESEMPATAN YANG ADIL BAGI SELURUH ANAK
Meskipun hambatan yang dihadapi oleh anak-anak yang dieksklusi tinggi, hambatan ini tak berarti tidak dapat dihindarkan. Hambatan ini adalah hasil dari pilihan manusia, dan pilihan manusia dapat membantu meruntuhkannya. Untuk mengatasi hambatan keuangan, diskriminasi dan akuntabilitas untuk inklusi, kami meminta para pemimpin di seluruh dunia untuk membuat Tiga Jaminan bagi Seluruh Anak:
  1. Keuangan yang adil - pembiayaan berkelanjutan serta akses gratis ke layanan dasar
  2. nvestasi publik dalam layanan dasar yang berkualitas baik dan  adil harus ditingkatkan serta diperbaiki. Layanan yang universal akan membantu semua anak-anak, tetapi layanan ini akan paling membantu anak-anak yang terkesklusi
  3. Perlakuan yang sama - mengakhiri kebijakan, norma dan tingkah laku yang bersifat diskriminatif
  4. orma yang yang diskriminatif harus diubah, serta hambatan hukum dan kebijakan harus dihapus (misalnya, mereka yang mentolerir dan membiarkan kekerasan di sekolah dan pernikahan anak).
  5. Akuntabilitas Pembuat Keputusan - untuk anak-anak, keluarga dan masyarakat
    Partisipasi yang lebih besar dari kelompok yang tereksklusi - termasuk anak-anak - dalam pembuatan kebijakan dan alokasi anggaran harus dipastikan. Jaminan ini merupakan tuntutan yang kita buat untuk pengambil keputusan di mana saja atas nama semua anak di mana saja. Langkah-langkah kecil tidak akan mengakhiri kondisi tereksklusi: Jaminan ini harus disampaikan kepada Every Last Child.
 
KAMPANYE GLOBAL SAVE THE CHILDREN
Kita tahu apa yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal hanya karena mereka adalah anak perempuan, atau dari kelompok etnis yang terdiskriminasi, atau sebagai penyandang disabilitas, ataupun terlantar akibat tinggal di wilayah konflik. Laporan ini mengemukakan ambisi Save the Children untuk membantu mengakhiri keadaan tereksklusi yang dialami anak-anak—dan mendesak para pemimpin dari seluruh dunia untuk bergabung dengan kami dalam berusaha menjangkau every last child.
Selama tiga tahun ke depan Save the Children akan melakukan usaha  apa pun untuk membantu memastikan bahwa setiap anak dapat bertahan dan berkembang. Kami akan bekerja secara langsung dengan anak-anak yang tereksklusi, datang dengan solusi inovatif dan pendekatan program. Kami akan menantang hukum, norma-norma dan kebijakan yang telah memungkinkan kemiskinan dan diskriminasi untuk bertahan. Dan kami akan berkampanye dengan dan untuk anak-anak yang terlupakan di seluruh dunia.
Tidak ada yang lebih mendesak selain tugas ini. Kondisi tereksklusi saat ini bukanlah dunia yang harus kita pertahankan untuk anak-anak kita. Dengan bantuan Anda, kami dapat membangun dunia di mana kesempatan yang dimiliki anak tidak ditentukan oleh siapa mereka atau di mana mereka lahir. Bersama-sama kita bisa mengakhiri kondisi eksklusi ini.
Bersama-sama kita dapat menjangkau every last child.
 
CERITA DALAM ANGKA
400 juta anak-anak dari kelompok etnis dan agama mengalami diskriminasi menurut estimasi kami.
 
Seperempat dari semua anak dari data yang kita miliki—setara dengan 1,2 miliar anak di negara berkembang—hidup di wilayah-wilayan tertinggal di Negara mereka.
 
117 juta perempuan hilang dari populasi global pada 2010 sebagian besar disebabkan
pre-natal sex selection
 
720 juta perempuan menikah sebelum mereka berusia 18 - dibandingkan dengan 156 juta laki-laki.13
 
Hanya satu dari empat anak-anak pengungsi yang memasuki usia menengah bersekolah. 15
dibandingkan dengan 3 dari 4 anak di seluruh dunia.
 
5% dari populasi global adalah dari kelompok pribumi tetapi 15% dari mereka hidup dalam keadaan miskin
 
Ada 3-4 kali kemungkinan lebih besar bahwa anak-anak penyandang disabiilitas cenderung akan mengalami kekerasan fisik dan seksual dan penelantaran daripada rekan-rekan mereka.
Dan hal ini semakin memburuk
 
Lebih dari setengah dari negara-negara yang datanya tersedia telah melihat peningkatan ketidaksetaraan dalam kesempatan hidup antara kelompok etnis dan antar wilayah dalam negara sejak tahun 2000-an menurut penelitian terbaru.
 
Dua pertiga dari keluarga yang tidak dalam kondisi kesehatan yang baik dan kekurangan nutrisi, serta tidak mengenyam pendidikan adalah mereka yang merupakan kelompok etnis minoritas.
 
42.500 orang per hari meninggalkan rumah mereka pada tahun 2014 telah meningkat empat kali lipat disbanding tahun 2010
 
17 tahun: merupakan rata-rata durasi yang dialami pengungsi sejak ia meninggalkan rumah mereka
 
Namun beberapa hal dapat menjadi lebih baik
 
Peningkatan 30% dalam jumlah anak yang diimunisasi di wilayah Ayacucho Peru setelah menerima transfer uang tunai.
 
Lebih dari 90% penduduk Rwanda terjangkau oleh sistem asuransi kesehatan nasional di dekade pertama.
 
50% pengurangan ketidaksetaraan gender dalam kematian anak telah dicapai di Bangladesh dalam dua dekade terakhir.
 
91% dari perempuan di seluruh dunia menyelesaikan sekolah dasar pada 2013, naik dari 78% pada tahun 2000 dan mendekati tingkat penyelesaian anak laki-laki 'dari 93%.
 

Baca Juga