Anak yang Terpinggirkan

Penyebab umum anak-anak yang tereksklusi dari Kemajuan Global.
 
Dunia telah mengalami kemajuan yang cukup berarti dalam mengurangi kematian ibu dan anak. Tingkat kematian balita telah menurun lebih dari separuh sejak tahun 1990, sementara rasio kematian ibu secara global menurun hampir 44%. Kemajuan ini disebabkan karena adanya komitmen politik dan finansial yang berkelanjutan disertai langkah-langkah penting yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat sipil dan masyarakat internasional. Walaupun demikian, tujuan pembangunan milenium atau Millennium Development Goals (MDGs) 4 dan 5 untuk mengurangi angka kematian balita sebesar dua pertiga dan rasio kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun1990 dan 2015 tidak tercapai. Ini berarti bahwa kematian yang dapat dicegah pada bayi, anak-anak dan wanita selama kehamilan dan persalinan masih terus berlanjut di angka yang cukup tinggi di berbagai belahan dunia.
 
Kematian yang dapat dicegah ini terutama terjadi di kalangan masyarakat termiskin dan terpinggirkan dari populasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Kampanye terbaru baru Save the Children Every Last Child atau di Indonesia disebut Berpihak Pada Anak, fokus pada anak-anak yang tereksklusikan dari kemajuan global (termasuk layanan kesehatan) akibat  kemiskinan dan diskriminasi.
Sejauh ini kegagalan dalam memprioritaskan isu kesehatan perempuan, anak-anak dan remaja mencerminkan bahwa ketidaksetaraan gender dan toleransi yang tinggi terhadap kematian ibu dan anak masih terus berlanjut. Ketimpangan  ekstrim ini  menyebabkan  perempuan dan anak-anak terutama  mereka yang paling miskin dan kurang mampu, mereka yang tinggal di daerah terpencil atau daerah pedesaan, dan mereka yang berpendidikan rendah – tidak dapat mengakses layanan yang mereka butuhkan terutama   yang terkait kesehatan seksual, reproduksi, maternal, bayi baru lahir, anak dan kesehatan remajaHak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang mendasar masih hanya sebatas  mimpi  bagi banyak perempuan dan anak-anak, termasuk remaja.
 
Saat ini masih ditemukan  kesenjangan dalam mengakses layanan “continuum of care”secara terintegrasi  mulai dari r remaja, masa  kehamilan dan persalinan,  post partum  dan berlanjut hingga anak usia dini. Meskipun telah ada peningkatan  dalam beberapa aspek “continuum of care”– seperti imunisasi dan pengobatan penyakit pada anak  – namun aspek yang lainnya masih  terabaikan. Secara keseluruhan, upaya  mengurangi kematian neonatal dan maternal lebih lambat dibanding upaya untuk  mengurangi kematian balita. Hal ini menunjukan bahwa perawatan berkualitas selama 24   jam pada dan  segera setelah kelahiran, masih belum didapatkan oleh mereka yang  termiskin dan kurang mampu.
 
MDG mengukur rerata nasional sehingga tidak memunculkan aspek ketimpangan yang ada maupun yang semakin meningkat di beberapa negara. Laporan ini menunjukkan bagaimana kelompok sosial ekonomi tertentu, penduduk pedesaan, masyarakat wilayah geografis dan pinggiran masih ditinggalkan  melalui  analisa situasi di tiga negara foku  – Indonesia, Nigeria dan Etiopia,  untuk menggambarkan situasi ketimpangan tersebut, tantangan yang masih  dihadapi dan upaya-upaya  yang sedang dilakukan. Tantangan utama yang dihadapi diringkas sebagai berikut, yakni dalam hal:
  • menangani ketimpangan dan perkembangan yang lebih lambatdi beberapa bagian dari populasi, seringkali dilakukan berdasarkan pada aspekkesejahteraan, geografis, dan tingkat pendidikan
  • mengatasi ketimpangan dalam mengakses layanan terkait Kesehatanseksual, reproduksi, maternal , bayi baru lahir, anak dan kesehatan remaja selama periode “continuum of care”
  • mengamankan investasi politik dan finansial untuk membangun sistem kesehatan yang mengutamakan kualitas pelayanan kesehatan bagi perempuan, anak-anak dan remaja melalui cakupan kesehatan semestaatau Universal Health Coverage (UHC).
 
Untuk mengatasi ketimpangan  ini dan menjamin akses ke berbagai pelayanan yang dibutuhkan tanpa mengabaikan masyarakat miskin atau terpinggirkan, maka penataan sistem pelayanan kesehatan perlu dirubah. Pemerintah dan pejabat penting lainnya harus memastikan tersedianya pelayanan berkualitas  bagi semua warga negara, terutama bagi mereka yang beresiko tinggi, dengan dana yang memadai dan tanpa diskriminasi. Negara-negara yang telah mengimplementasi  UHC dan telah menyertakan layanan kesehatan seksual, reproduksi, maternal dan anak dalam paket pelayanan yang tersedia untuk penduduk mereka, menunjukan bagaimana manfaat dari  komitmen politik dan investasi finansial yang kuat terhadap hal ini.
 
Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals telah berkomitmen untuk tidak meninggalkan  siapapun, untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada ibu dan balita, dan menjamin akses universal ke pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi (Sexual and Reproductive Health – SRH). Pencapaian target ini akan bergantung pada komitmen terhadap  UHC sesuai  target 3.8 dari Sustainable Development Goals (SDGs), dan prinsip bahwa semua orang harus memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan tanpa menghadapi kesulitan finansial. 
 
Dalam laporan ini, Save the Children berpendapat bahwa mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada  ibu dan anak  membutuhkan UHC, dan bergantung pada akses terhadap “continuum of care” oleh semua bagian populasi, melalui penguatan layanan Kesehatan primer yang terhubung secara  efektif ke intervensi berbasis masyarakat dan sistem rujukan ke rumah sakit. Hal ini membutuhkan komitmen politik yang menjamin perawatan kesehatan esensi  bagi semua  perempuan, anak-anak dan remaja, tidak berbayar dan  peningkatan investasi masyarakat dalam sistem layanan kesehatan yang dapat memberikan perawatan berkualitas kepada setiap perempuan dan setiap anak.
 
Save the Children percaya bahwa agar  UHC  mendapatkan dukungan luas dari masyarakat, pembuat kebijakan dan masyarakat sipil maka UHC perlu difokuskan untuk memastikan setiap keluarga dan masyarakat  mendapatkan akses universal terhadap pelayanan dasar  yang mereka butuhkan. Hal ini berarti bahwa  pemerintah, dengan dukungan dari mitra pembangunan, perlu memastikan  bahwa ketersediaan  pelayanan kesehatan seksual, reproduksi, maternal, bayi baru lahir dan anak, yang  dapat diakses oleh semua perempuan, anak dan remaja, menjadi  landasan utama  UHC, dan bukan hanya  sekedar aspirasi. Mereka yang berada jauh dari jangkauan harus menjadi prioritas pertama, dan harus ada upaya khusus dan segera  untuk menjangkau mereka yang tertinggal.
 
Agar terciptanya t kemajuan yang nyata dalam menjangkau  setiap perempuan, anak dan remaja, maka para pemerhati dan dan praktisi kesehatan ibu dan anak harus terlibat dalam gerakan  globat untuk UHC yang saat ini sedang berkembang. GlobalStrategy for Womens, Childrens and Adolescents’ Health (2016–2030) yang diluncurkan oleh Sekretaris Umum PBB di bulan September 2015 – memuat  peta jalan baru untuk mengakhiri seluruh kematian yang dapat dicegah pada perempuan, anak-anak dan remaja, dan untuk mengamankan tidak hanya kelangsungan hidup mereka, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraannya.
 
Pada waktu yang sama, gerakan  UHC harus secara jelas memperjuangkan bahwa pelayanan esensi  yang diperlukan di setiap komunitas adalah prioritas utama dalam mengukur pencapaian UHC. Kepastian tersedianya  akses bagi kelompok yang terpinggirkan eterhadapa “continuum of care”  kesehatan perempuan, anak-anak dan remaja, tanpa diskriminasi, harus tercapai sebelum cakupan UHC diperluas  ke pelayanan lainnya.
 
Dalam laporan ini, kami berpendapat bahwa UHC adalah prinsip dimana pelayanan kesehatan harus didanai dan diorganisir untuk memberikan pelayanan penting ini kepada semua orang, dan kami mendukung penguatan pelayanan Kesehatan primer  agar dapat memberikan pelayanan ini dengan layak, dan tepat. Gerakan UHC harus memastikan bahwa  pembangunan pelayanan kesehatan primer  yang universal  adalah landasan dan prioritas.
 
UHC dan Strategi Global atau Global Strategy merupakan agenda bersama dan saling bergantung satu sama lain. Menggabungkan kedua kekuatan ini bersama-sama menciptakan peluang  yang penting terhadap pencapaian  akses universal terhadap kesehatan seksual, reproduksi, ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja untuk mengakhiri semua kematian yang dapat dicegah pada ibu dan anak di tahun 2030.
 
 
 
PESAN-PESAN PENTING
  • Walaupun terjadi kemajuan global dalam mengurangi kematian ibu dan anak, namun masihterdapat ketidaksetaraan dalam kondisi dan situasikesehatan perempuan dan anak-anak serta akses ke pelayanan esensi, baik secara global maupun nasional.
  • Dibandingkan dengan upayapengurangankematian balita, upaya pengurangan kematian ibu dan anak sangat lambat. Selain itu, jugamasih ditemukanpengabaian terhadap unsur-unsur ‘perawatan kontinum’ atau n
  • niversal health coverage (UHC) adalah kunci untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan esensi – continuum of care – tersedia bagi setiap keluarga dan komunitas yang memerlukan tanpa perlu membayar. Negara harus berupaya  untuk mencapai UHC dan  memprioritaskan pelayanan-pelayanan ini. Dibutuhkan kepemimpinan politik, komitmen dan investasi agar hal tersebut dapat dilaksanakan.
  • Untuk membangun hal ini, gerakan untuk UHC harus jelas, bahwa prioritas utama adalah cakupan pelayanan kesehatan seksual, reproduksi, ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja bagi semua wanita, anak-anak dan remaja pada pelayanan kesehatan primerdan melalui rujukan. Hal-hal ini sangat penting untuk mengatasi beban kesenjangan mortalitas dan morbiditas.
  • Upaya advokasi untuk kesehatan ibu dan anak serta advokasi untuk UHC – dan advokasi untuk pelayanankesehatan primer – sekarang harus bersatu sebisa mungkin, untuk memastikantidak ada i agenda yang bersaing tetapi saling memperkuat demi memastikansemua wanita, anak-anak dan remaja memiliki hak untuk bertahan hidup dan berkembang.
 
 RINGKASAN REKOMENDASI:
  • Upaya advokasi bagi kesehatan ibu, anak dan remaja perlu mempertegas bahwa membangun UHC untuk memampukan semua masyarakat mendapat akses terhadapa layanan esensi merupakan hal yang vital dalam meastikan semua perempuan dan anak dan bertahan hidup.
  • Gerakan UHC perlu memprioritaskan kesehatan sexual reproduksi, maternal, nayi baru lahir dan remaja sebagai bagian yang terintegrasi dari Continuum of care, tidak berbayar dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
  • Save the Children menyerukan agar pemerintah, lembaga donor, mitra pembangunan dan pemangku kepentingan lainnya :
    • Memastikan tersedianya paket layanan kesehatan sexual, reproduksi, maternal, beayi baruu lahir, anak dan remaja dalam upaya mencaai UHC, tidak berbayar dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
    • Memastikan tidak ada yang tertinggal, dengan menetapkan target dengan tenggat waktu untuk percepatan kemajuan bagi kelompok termiskin dan termarjinalkan
    • Meningkatkan belanja public untuk layanan kesehatan dengan meningkatan anggaran kesehatan sesuai batas minimum, meningkatkan pendapatan pajak atau bantuan pembangunan untuk bidang kesehatan
    • Memperbaiki kualitas pelayanan dan mempromosikan pelayanan yang bermartabat di fasilitas kesehatan
    • Mengintegrasikan intervensi gizi ke dalam continuum of care bagi kesehatan ibu, anak dan remaja serta mengatasi kebutuhan gizi remaja putri
 
 

Baca Juga