Waliku

Jumat 18 Januari 2019
Kealpaan dalam kegiatan belajar di sekolah merupakan salah satu penghambat pendidikan anak. Siswa yang kerap absen dari sekolah cenderung akan buruk dalam hal capaian belajar. Faktor kesehatan siswa menjadi isu penting di sini, sebab salah satu alasan dominan dari ketidakhadiran siswa di sekolah adalah karena sakit. Dan di wilayah-wilayah terpencil, persoalan kesehatan pada siswa bisa berakibat fatal jika tidak tertangani.
 
Antara tahun 2014 dan 2016 silam,  tujuh orang siswa sekolah dasar di Sumba Barat dilaporkan meninggal karena malaria dan diare. Ini hal yang menyesakkan kita karena sejatinya kedua penyakit ini bisa diatasi asal penderitanya segera mendapat penanganan kesehatan yang cepat. Namun, masalah akses membuat kondisi anak-anak tersebut lambat teridentifikasi sehingga berujung pada kematian.

Sekolah bisa sebenarnya bisa mendeteksi kondisi kesehatan siswanya melalui ketidakhadiran mereka. Hanya saja memang, selama ini mekanisme absensi di kelas belum digunakan untuk mendeteksi alasan ketidakhadiran siswa. Siswa yang sakit atau orangtuanya biasa mengirimkan surat atau menitipkan informasi melalui teman sekolah atau keluarganya kepada pihak sekolah tanpa menyertakan alasan ketidakhadiran.

Di Sumba Barat sendiri sebenarnya sudah ada kebijakan di beberapa sekolah bahwa guru akan mengecek siswa yang tidak hadir lebih dari dua hari. Namun mekanisme ini masih terkendala dengan waktu dan jarak, terlebih untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil. Kemudian, jikapun guru sudah mengetahui alasan di balik ketidakhadiran siswanya, belum ada satu mekanisme tindak lanjut untuk itu. Jika dia sakit, misalnya, apa yang mesti dilakukan? Padahal, mekanisme tindak lanjut inilah yang dibutuhkan, baik untuk penanganan secara cepat terhadap si anak, jika memang dia sakit, dan juga secara jangka panjang untuk mengidentifikasi dan menekan penyebab-penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah. 

Di tahun 2018 Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children mulai mengimplementasikan sebuah program yang bertujuan untuk menyediakan kebutuhan informasi yang lengkap tentang ketidakhadiran siswa sekolah dasar di Kabupaten Sumba Barat. Nama program yang berbasis teknologi informasi ini adalah WALIKU. Tidak hanya sekedar menyediakan informasi, peran WALIKU adalah menjembatani komunikasi antara pihak sekolah, orangtua, dan instiusi lain yang terkait dengan alasan ketidakhadiran anak seperti misalnya fasilitas kesehatan setempat.
 

Dalam pelaksanaannya, WALIKU menjadi sistem yang dioperasikan oleh pihak sekolah untuk mendata kehadiran siswa setiap hari seperti yang dilakukan selama ini. Tidak berhenti di situ, dia juga mengumpulkan informasi tentang alasan kenapa siswa tidak hadir. Lebih lanjut lagi, jika informasi yang diperoleh menyatakan bahwa siswa tersebut mesti alpa karena sakit, pihak sekolah bisa mencari tahu lebih lanjut sakit apa yang sedang dialami siswa dan tindakan apa yang mesti dilakukan.

Jika itu adalah gejala penyakit serius, maka pihak sekolah melalui sistem ini akan menghubungkan anak dengan tenaga kesehatan untuk segera diambil tindakan. Untuk membantu mengidentifikasi gejala dari suatu penyakit, WALIKU memberikan pembekalan tentang berbagai penyakit dan gejalanya pada para guru. Dengan begitu, diharapkan kasus-kasus kematian pada siswa karena terlambat ditangani sebagaimana yang pernah terjadi, bisa dihindari.

Para guru kelas di sekolah-sekolah tersebut mendapatkan pembekalan tentang penggunaan piranti lunak ini serta bagaimana menyediakan data yang dibutuhkan. Data dan informasi tentang absensi siswa kemudian dikumpulkan di dalam database komputer yang ada di tiap sekolah tersebut.

Program WALIKU ini diterima baik oleh para guru. Mereka dengan relatif cepat mampu menggunakan sistem berbasis teknologi smartphone ini. Menurut Bagus Wicaksono, Koordinator Program WALIKU, tidak ada masalah ketika piranti ini diperkenalkan kepada para guru di sekolah.

“Pekan kedua setelah kita melaksanakan pelatihan, dari pemantauan kami, mereka sudah mampu menyediakan data-data yang dibutuhkan melalui alat yang ada. Kami cukup terkejut sebenarnya sebab mereka bisa menggunakan ini lebih cepat dari yang kami bayangkan,” tutur Bagus.

Seorang guru dari SD Negeri Pogu Katoda menyambut dengan gembira keberadaan program ini. Menurutnya, dengan teknologi ini informasi dari sekolah bisa langsung sampai pada orangtua dan respon dari orangtua bisa langsung mereka dapat dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka bisa mengkomunikasikan ketidakhadiran siswanya dengan orangtua secara langsung. Dengan begitu, anak-anak akan berpikir panjang jika ingin bolos sekolah.

Pada awalnya, WALIKU dihadirkan sebagai respon atas sering terlambatnya penanganan kesehatan pada  siswa sekolah yang sakit hingga kemudian berakibat fatal. Namun dalam perjalananya, ternyata ada potensi untuk mengembangkan program WALIKU sehingga tidak hanya ditujukan untuk memberikan dukungan medis bagi siswa yang sakit. Saat ini, WALIKU juga bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi sebab-sebab ketidakhadiran siswa selain sakit dan kemudian mengambil tindakan atas itu.

Dari data-data yang bisa dikumpulkan melalui program WALIKU ini, nantinya bisa dipetakan isu atau permasalahan yang menjadi sebab siswa tidak hadir di sekolah dalam rentang waktu tertentu. Entah itu karena kegiatan adat atau ada isu sosial lainnya. Kesemuanya ini nantinya dapat menjadi bahan dan masukan berharga bagi pembuat kebijakan, baik pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan setempat. 

Jika persoalan ketidakhadiran ini sudah terpetakan, diharapkan solusi untuk hal tersebut akan mudah dicari. Kesemuanya ini nantinya diharapkan akan bermuara pada meningkatnya angka partisipasi siswa sekolah dasar di Kabupaten Sumba Barat.