Teman Baru untuk Chika

Kamis 9 Agustus 2018

Sebuah boneka yang diberikan oleh ayahnya menjadi ‘teman’ baru bagi Chika sejak dua hari lalu. Meski belum diberi nama, namun ia sangat menyukai boneka biru muda tersebut. Jika Chika sedang tidak bersama teman-teman lainnya di lokasi pengungsian, ia akan menghabiskan waktunya bermain dengan boneka itu.
 

Chika adalah seorang gadis berusia 9 tahun dari Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Saat ini ia tinggal di dalam tenda pengungsian bersama kedua orangtua dan seorang adik perempuannya setelah rumah yang ia tinggali runtuh usai gempa bumi melanda Minggu lalu. Tenda itu berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Dia telah tinggal di dalam tenda tersebut sejak Selasa lalu bersama dengan sekitar 16 keluarga lainnya.
 
Kondisi tenda tempat berlindung Chika dan keluarganya sangat memprihatinkan. Mereka menggunakan terpal yang telah bocor di beberapa bagian. Tenda itu begitu terbuka sehingga akan mudah dimasuki angin dan menjadi sangat dingin di malam hari. Di sekitarnya tidak ada toilet umum. Beberapa meter dari tenda mereka, terdapat kandang ternak milik salah satu keluarganya.
 
“Saat ini sedang terjadi banyak kasus pencurian. Mereka mencuri semuanya. Oleh karena itu, sapi di kandang tersebut tidak bisa dijauhkan dari pemiliknya yang tinggal di tenda ini. Meski itu membuat kami tidak nyaman, tetapi kami bisa memahami kondisinya,” kata Sinar, ibu Chika.
 

Chika dan keluarganya selamat dari gempa terakhir berkekuatan 7,0 SR karena saat itu terjadi mereka sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang berada di kantor desa bersiap untuk menerima bantuan dari pemerintah usai gempa 6,4 SR merusak rumah mereka minggu sebelumnya. Namun, gempa terakhir dengan kekuatan lebih besar tersebut kemudian membuat rumah mereka hancur total.


 

Gempa besar dan puluhan gempa susulan lain yang terjadi meninggalkan trauma tersendiri bagi Chika. “Saat terjadi gempa, Chika terlihat seperti lumpuh. Ia jadi pendiam dan tak bisa bicara. Selalu seperti itu. Ia tampak sangat tertekan dengan kondisi saat ini,” ungkap ibunya.

Hal itulah yang membuat ayah Chika memberinya boneka, ‘seorang teman’ yang diharapkan mampu sejenak menghibur dan mengalihkan perhatian putrinya dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Chika sangat suka dengan boneka tersebut. Ia meminjam pakaian adik perempuannya yang berumur sembilan bulan untuk dikenakan pada boneka itu. “Ukuran pakaian adik saya pas dengan boneka itu, jadi saya bisa memberinya pakaian yang berbeda tiap hari,” cerita Chika sambil tersenyum.

Selain Chika, masih terdapat banyak anak lainnya yang terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sebagian besar dari mereka memiliki usia dan belajar di sekolah yang sama dengan Chika. Mereka belum bisa kembali bersekolah karena sekolah mereka hancur akibat gempa.

Sampai hari ini, belum ada informasi dari sekolah kapan kegiatan pembelajaran dapat dimulai lagi. Hal ini membuat Chika sedih, karena baginya, belajar di tenda tidak senyaman di sekolah. “Siang hari tenda sangat panas. Sementara di malam hari, pencahayaan sangat terbatas. Membaca buku menjadi sangat sulit,” keluh Chika.

Sebagai respon atas gempa di Lombok, Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children akan mendirikan Ruang Ramah Anak. Ruang ini merupakan tempat bermain dan belajar yang dirancang untuk membantu anak-anak agar dapat pulih dari trauma usai bencana terjadi.

Dari reruntuhan rumah mereka, orangtua Chika berhasil menyelamatkan seragam sekolah dan buku-buku Chika. Ibunya telah mencuci seragamnya hingga bersih. Namun, Chika yang kerap menjadi juara kelas tidak tahu kapan dia akan memakainya lagi. Untuk saat ini, ia hanya bisa bermain dengan boneka yang diberikan oleh ayahnya.