Save the Children Pimpin Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak di NTT

Senin 16 Desember 2019
Kupang – Save the Children di Indonesia terus melakukan upaya untuk mengatasi isu kekerasan terhadap anak. Salah satu langkah terbaru adalah bergabung dan menjadi ketua presidium aliansi Penghapusan Kekerasan terhadap Anak (PKTA) di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Aliansi PKTA dibentuk bersama oleh Save the Children dan 27 lembaga lain, meliputi lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan, dan organisasi keagamaan. Aliansi dipimpin oleh presidium beranggotakan perwakilan lima lembaga, salah satunya Save the Children yang juga menjadi Ketua Presidium. Empat lembaga lain adalah Wahana Visi Indonesia, Perkumpulan Tafena Tabua, Lembaga Perlindungan Anak NTT, dan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor.

Penyusunan kelembagaan aliansi telah dilakukan di Kupang pada Selasa, 26 November 2019. Pertemuan ini juga membahas bidang garapan aliansi dan rencana tindak lanjut aliansi, termasuk penyusunan policy brief, rencana deklarasi, serta rencana roadshow ke lembaga pemerintah dan media.

Menurut Silverus Tasman, Eastern Area Manager Save the Children di Indonesia, aliansi akan melakukan deklarasi keberadaan mereka ke publik pada kuartal pertama 2020. Jelang deklarasi, aliansi akan berkunjung ke media serta melakukan audiensi ke DPR dan pemerintah daerah terkait politik anggaran perlindungan anak di NTT.

Pertemuan-Serial-Aliansi-Penghapusan-Kekerasan-terhadap-Anak-Provinsi-NTT-(2).jpg

Silverus juga menyebut bahwa selama ini, berbagai lembaga telah melakukan upaya mengatasi isu kekerasan terhadap anak. Namun gerakan ini masih parsial. Mereka berharap keberadaan aliansi mampu memperkuat daya dorong advokasi yang sudah berjalan.

Di provinsi NTT, kekerasan terhadap anak masih menjadi masalah besar yang belum terselesaikan. Persoalan ini juga menjadi salah satu poin penting dalam Rencana Jangka Menengah Daerah Provinsi NTT 2018-2023.

Menurut data Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kabupaten Kupang, setidaknya ada 34 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan tercatat sepanjang tahun 2017. Selama Januari hingga Agustus 2018, catatan kekerasan mencapai 29 kasus. Angka ini masih jauh dari fakta karena disinyalir masih banyak  yang belum berani melaporkan kasus kekerasan dalam lingkungan keluarga mereka.

Penulis: Purba Wirastama