Save the Children Jangkau Ribuan Penyintas Banjir Jabodetabek

Kamis 9 Januari 2020

JAKARTA – Sebanyak 61 orang meninggal dan puluhan ribu mengungsi akibat bencana banjir di Jabodetabek pada 1 Januari 2020. Tim tanggap darurat Save the Children segera turun ke sejumlah lokasi terdampak dalam 24 jam pertama dan telah menjangkau ribuan penyintas hingga kini.

Sejak 2 Januari, tim tanggap darurat di Jakarta berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengetahui situasi terbaru di lapangan dan memberi dukungan tambahan. Selain itu, tim juga melakukan kaji cepat kebutuhan (rapid need assesment).

Pada Sabtu, 4 Januari, tim telah mendistribusikan 350 Family Hygiene Kits dan 375 Children Hygiene Kit pada ratusan keluarga, termasuk di antaranya 400 balita di Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Penjaringan adalah satu dari dua kecamatan di Jakarta Utara yang masih terkena dampak banjir hingga 3 Januari. Kelurahan paling terdampak parah adalah Kapuk Muara dengan jumlah penyintas lebih dari dua ribu orang.

ERJKTFL2020-Artikel-2-wm.jpg

Hari berikutnya, sebanyak 600 Family Hygiene Kit dari Save the Children didistribusikan ke kantor Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pada hari itu juga, tim mendistribusikan 10 unit alat kebersihan ke kantor Kelurahan Kedoya Utara dan melakukan aksi bersih-bersih bersama.

Pada Selasa, 7 Januari, tim mendistribusikan School Kit dan Hygiene Kit pada lebih dari 1.200 anak di SD Negeri Kapuk Muara 03 Penjaringan. Hampir seluruh siswa sekolah ini tinggal di kelurahan Kapuk Muara dan rumah mereka ikut terkena  banjir. Banyak anak yang kehilangan perlengkapan sekolah, termasuk seragam dan alat-alat tulis.

"Kotak pensil hanyut, sepatu tinggal sebelah, satunya hanyut enggak tahu ke mana, pulpen juga hilang. Buku cuma terendam, masih bisa dijemur," kata Raisa (12), salah satu murid kelas 6.

ERJKTFL2020-Artikel-6-wm.jpg

Raisa tinggal bersama orangtua dan dua saudara kandungnya. Rumahnya tergenang banjir hingga setinggi lututnya. Selama beberapa hari, ia dan keluarganya mengungsi ke lantai dua rumah neneknya persis di samping rumah mereka.

"Dulu tahun 2012 pernah banjir, tapi enggak setinggi ini," imbuhnya.

ERJKTFL2020-Artikel-9-wm.jpg

Sementara itu di hari yang sama, tim Save the Children mendistribusikan 1.000 Family Hygiene Kit ke empat kelurahan, yaitu Rawa Buaya, Kedaung Kali Angke, serta Kamal dan Semana di Jakarta Barat. Untuk kelurahan Rawa Buaya, tim juga memberikan 200 Shelter Kits.

Menurut Lurah Kedaung Kali Angke Kelli Supriyono, pemukiman mereka tergenang banjir selama empat hari. Kantor kelurahan segera dialihfungsikan menjadi pos pengungsian sejak hari pertama.

"Ketinggian banjir 100 sampai 120 cm, sebatas pinggang (dewasa). Pada tanggal 1 Januari, kami sudah membuka posko pengungsian," jelas Kelli.

Tindakan tim dalam tanggap darurat Save the Children tidak hanya berupa distribusi bantuan. Pada Rabu, 8 Januari, tim dari Save the Children membantu pemerintah dengan memberikan materi tentang "Pengenalan Pendidikan dalam Situasi Darurat dan Kesiapsiagaan Bencana" kepada lebih dari 500 orang, termasuk Kepala PAUD dan Bunda PAUD di Jakarta Selatan.

Selain itu, tim Save the Children juga memberikan pelatihan sistem crowd mapping pada saat terjadi bencana. Pelatihan ini diberikan pada perwakilan puluhan organisasi tanggap darurat di Jakarta lewat kolaborasi dengan BNPB dan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI).

Ke depannya, Save the Children telah menyiapkan beberapa rencana aksi. Selain melakukan distribusi dan pelatihan terkait kesiapsiagaan bencana, tim kami juga akan memberikan layanan dukungan psikososial (Psychosocial Support) di sejumlah kelurahan Jakarta pada 14-17 Januari.


Ditulis oleh Purba Wirastama (Media & Communication Dept.)