Remaja dan Isu Perkawinan Usia Anak

Kamis 17 Januari 2019
Setelah dua bulan berjalan, kegiatan dukungan bagi anak yang dilakukan oleh YSTC mulai menyasar anak usia remaja di Kabupaten Lombok Utara. Hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim menunjukkan bahwa selama ini kegiatan CFS mayoritas diisi oleh anak usia PAUD dan SD. Padahal, anak-anak usia remaja sebagai kelompok yang terdampak dari gempa lalu juga menghadapi persoalan yang sama. Untuk melibatkan mereka tentunya harus ada pendekatan berbeda yang dilakukan.
 
Serangkaian pertemuan sudah dilakukan sejak bulan Oktober lalu. Hal ini dimulai dari pengenalan dan dukungan psikososial. Pertemuan rutin saat ini sudah berjalan satu kali di tiap pekannya. Mereka ada dalam kelompok yang dibentuk berdasarkan keberadaan CFS. Jadi, ada sekitar 20 kelompok remaja. Tiap-tiap kelompok tersebut memiliki fokus kegiatan yang berbeda yang disesuaikan dengan hasil kesepakatan yang terjadi di antara mereka sebagai peserta.
 
Dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan, para remaja mendapat pemahahaman yang berkaitan dengan life skill. Mereka kemudian menentukan apa yang menjadi minat mereka untuk kemudian digunakan sebagai materi pertemuan di minggu selanjutnya. Selain itu, mereka juga dipersiapkan untuk ikut memonitor kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh YSTC, nama kegiatannya adalah monitoring partisipatoris oleh anak.
 
 YSTC Child Protection Specialist, tengah memfasilitasi diskusi Kelas Remaja tentang pernikahan usia dini.

Maraknya isu perkawinan usia anak yang terjadi di wilayah ini juga menjadi topik yang dibicarakan dalam rangkaian pertemuan dengan remaja. Pada kelompok remaja ini, tim YSTC sebagai fasilitator memberikan pemahaman tentang hak-hak anak. Harapannya, mereka bisa mengidentifikasi setiap pelanggaran dan permasalahan anak yang terjadi baik pada diri mereka sendiri ataupun pada teman dan lingkungan mereka.
 
Mereka juga dibekali untuk bisa memberikan dukungan pada teman atau rekan yang mengalami permasalahan. Dukungan itu bisa dalam bentuk bentuk berbagi cerita dan pengalaman, ataupun membantu merujuk ke instansi terkait jika ada yang mengalami tindak kekerasan.
 
Ke depannya, YSTC akan berupaya mendorong hadirnya kelompok-kelompok peduli anak di level desa sebagai sebuah sistem perlindungan hak-hak anak beserta perangkat dan mekanisme kerjanya. Ini tentunya bukan pekerjaan mudah, butuh kepedulian dan keterlibatan berbagai pihak terkait. Tapi akan selalu ada semangat jika itu untuk kepertingan anak.