Program Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah Hadir di Jakarta

Senin 1 Oktober 2018
Kondisi keselamatan jalan di Indonesia masih menjadi masalah yang serius. Jumlah korban jiwa pada tahun 2010 adalah 31.234 dan hingga saat ini Indonesia berada dalam posisi kritis didalam mengendalikan kontrol atas tingkat keamanan yang dialami oleh pengguna jalan raya.

Dari laporan kepolisian lalu lintas, 70% kecelakaan di jalan melibatkan sepeda motor dan 29% melibatkan anak dibawah 15 tahun. Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukan bahwa peningkatan kecelakaan di jalan yang melibatkan anak meningkat dari 26% di tahun 2007 menjadi 48% di tahun 2013, bahkan cedera anak akibat kecelakaan lalu lintas telah menjadi penyebab utama kematian diantara anak-anak berusia 15-24 tahun di Indonesia (11%).

Jakarta merupakan salah satu provinsi yang memiliki jumlah korban fatal akibat kecelakaan lalu lintas, hal ini disebabkan padatnya pengguna jalan raya dan tingkat pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran di masyarakat mengenai masalah serius dari keselamatan lalu lintas merupakan hal yang sangat penting khususnya untuk anak-anak dan remaja.

Secara umum, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas, yaitu kesalahan atau kelalaian manusia, kondisi jalan yang buruk, kurangnya infrastruktur keselamatan jalan, kelaikan kendaraan dan kurangnya peraturan lalu lintas serta lemahnya penegakan hukum.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, cedera akibat kecelakaan lalu lintas adalah jenis insiden yang dapat diantisipasi serta dicegah. Karena anak-anak adalah yang paling rentan terhadap kecelakaan lalu lintas, perlu dilakukan aksi yang signifikan untuk meningkatkan keamanan berlalu lintas guna memastikan keselamatan anak-anak.

Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) menginisiasi Program Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah yang akan diselenggarakan dalam periode 4 tahun untuk menyediakan lingkungan yang lebih aman di sekitar sekolah dan mengurangi resiko mengalami kecelakaan lalu lintas di jalanan pada anak-anak.

Untuk memulai program ini, YSTC memilih 10 sekolah tingkat dasar (SD) dan 10 sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta Utara dan Jakarta Timur sebagai sekolah yang akan mendapatkan program perdana Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah di Jakarta.

Pemilihan sekolah dilakukan secara partisipatif dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas, infrastruktur dan pendapat anak terkait resiko lalu lintas yang ada di sekitar sekolah mereka. YSTC menggandeng Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan Jakarta Timur, Kementerian Perhubungan, dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya untuk bersama-sama mendesain konsep pemilihan sekolah dan pembobotan untuk menentukan sekolah mana yang dinilai memiliki tingkat resiko lalu lintas tinggi. Rapat koordinasi untuk membahas teknis survey ini diselenggarakan pada tanggal 4 September 2018.
Rapat Koordinasi Pemilihan Sekolah Dampingan Program keselematan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, seluruh perwakilan instansi yang terlibat menurunkan anggotanya untuk bersama-sama melakukan survey sekolah di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Surveyor yang mendata sekolah-sekolah berjumlah 19 orang dengan komposisi 4 orang staff YSTC, 1 orang perwakilan Dinas Pendidikan, 4 orang perwakilan Suku Dinas Pendidikan, 4 orang perwakilan Kementrian Perhubungan dan 6 orang perwakilan Ditlantas Polda Metro Jaya. 
Tim survey gabungan mendatangi 32 sekolah di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur
 
Survey kondisi lalu lintas di sekitar sekolah
Diskusi dengan anak terkait kondisi lalu lintas di sekitar sekolah mereka

Penilaian yang dilakukan secara partisipatif ini menitikberatkan pada data sekolah yang dilakukan oleh perwakilan Dinas Pendidikan, kondisi lalu lintas yang dilakukan oleh perwakilan Kepolisian, Infrastruktur yang dilakukan oleh perwakilan Kementrian Perhubungan dan FGD anak yang difasilitasi oleh tim YSTC.

Perhitungan hasil survey dan pengurutan sekolah dengan tingkat resiko tertinggi dilakukan oleh tim Monitoring, Evaluation, Accountability & Learning (MEAL) YSTC sekaligus memutuskan 20 sekolah yang dinilai memiliki tingkat resiko lalu lintas tinggi berdasarkan pertimbangan kuantitatif dan kualitatif dari hasil survey.

Setelah melakukan kegiatan pendataan dan survey, YSTC mengundang seluruh sekolah yang telah didata untuk menunjukan hasil penilaian dan analisis resiko lalu lintas. Setelah diurutkan, berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan maka terpilihlah 20 sekolah dampingan yang akan mendapatkan implementasi program Keselamatan Berlalu Lintas Berbasi Sekolah, yaitu:

Tingkat SD
1. SDN Sungai Bambu 01
2. SDN Kapuk Muara 03
3. SDN Pademangan Barat 07
4. SDN Cilincing 03
5. SDN Semper Barat 01 Pagi
6. SDN Penggilingan 03
7. SDN Pondok Bambu 02
8. SDN Dukuh 01
9. SDN Gedong 03
10. SDN Kebon Pala 01
 
Tingkat SMP
  1. SMPN 152
  2. SMPN 84
  3. SMPN 244
  4. SMPN 30
  5. SMPN 266
  6. SMPN 172
  7. SMPN 252
  8. SMPN 14
  9. SMPN 49
  10. SMPN 106
Perwakilan 20 Sekolah yang terpilih menjadi sekolah dampingan Program Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah

Semoga dengan diselenggarakan program selama 4 tahun ini mampu memberikan perubahan prilaku bagi anak, orang tua, guru dan warga sekolah lainnya untuk mengurangi resiko kecelakaan lalu lintas di lingkungan sekolah. Secara umum, kampanye keselamatan berlalu lintas akan melibatkan berbagai lapisan masyarakat agar prilaku yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas dapat diterapkan dimana saja dalam kehidupan sehari-hari.

Henda Gandamanah – Road Safety Project Coordinator