Perlindungan bagi Anak di Lombok

Kamis 17 Januari 2019
Dalam kondisi bencana biasanya ada sejumlah hak-hak anak yang kerap terabaikan oleh orangtua. Misalkan saja hak untuk tetap mengenyam pendidikan, hak untuk mendapat tempat tinggal yang layak, serta hak atas perlindungan dari kekerasan dan kondisi yang tidak nyaman. Hal ini terjadi karena adanya perubahan yang drastis dalam kehidupan mereka. Rumah, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal yang rusak membuat sistem perlindungan baik dari orangtua maupunlingkungan menjadi kurang berfungsi. Anak-anak berada dalam posisi rawan dan sangat rentan untuk mengalami tindak kekerasan.
 
Hal paling awal terkait anak-anak yang perlu diperhatikan usai bencana adalah bagaimana mereka bisa mendapat rasa aman dan hak-haknya tetap terpenuhi meski dalam situasi bencana. Di masa-mama awal gempa Lombok, YSTC langsung mengidentifikasi titik-titik pengungsian yang banyak dihuni oleh anak-anak. Di lokasi-lokasi pengungsian tersebut, Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) sesegera mungkin menyediakan dukungan dalam bentuk Psychological First Aid (PFA). Dukungan ini bertujuan untuk memastikan agar anak aman, mendengarkan dan melihat kebutuhan mendesak yang dibutuhkan mereka, dan menghubungkan anak ke kegiatan dan program bantuan dalam situasi pasca bencana.
 
Untuk memfasilitasi itu, YSTC membangun tenda Child Friendly Spaces (CFS) atau Ruang Ramah Anak di mana anak-anak nantinya bisa tetap melakukan berbagai hal yang biasa mereka lakukan dalam kondisi normal. Di CFS ini mereka diajak bermain, belajar hal-hal ringan seperti keterampilan menyelamatkan diri jika terjadi gempa susulan, menyanyi, dan kegiatan lain yang mereka senangi. Di kabupaten Lombok Utara, YSTC membangun 20 tenda CFS yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Bayan dan Kayangan. Selain itu, bersama dengan Sakti Peksos Dinas Sosial, YSTC juga membantu memfasilitasi kegiatan CFS Mobile atau CFS Bergerak untuk menjangkau semakin banyak anak-anak yang tinggal di lokasi yang tidak menerima tenda CFS, terutama di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.
Dua fasilitator tengah bermain bersama anak di tenda Child Friendly Space (CFS). YSTC memberikan mereka pelatihan dan dukungan permainan untuk menjalankan kegiatan ini secara rutin.

 
Pada bulan pertama pasca gempa Agustus 2018, semua kegiatan di tenda CFS dilakukan oleh tim YSTC. Aktivitas dilakukan pada sore hari seusai ibadah sholat ashar. Mereka melakukan banyak hal seperti menggambar, bernyanyi, dan bermain bersama. YSTC menyediakan berbagai fasilitas dan alat bermain untuk mendukung kegiatan tersebut. Pada kesempatan itu, tim YSTC juga mengidentifikasi orang-orang setempat yang bersedia dan mampu menjalakan fungsi fasilitator bagi CFS. Mereka mendapat pelatihan agar bisa mengelola kegiatan CFS secara mandiri.
 
Pelatihan kepada para relawan lokal ini berlangsung selama selama dua hari di bulan September 2018. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai guru PAUD dan guru SD yang sebelum gempa ini memang sudah menjadi mitra YSTC melalui program TRANSISI dan INOVASI. Jadi, materi yang diberikan secara umum sudah mereka akrabi sebelumnya. Adapun penambahan yaitu berupa pemahaman tentang situasi bencana dan penyesuaian beberapa materi dengan konteks kebencanaan seperti misalnya tentang bagaimana memberikan dukungan psikososial bagi anak serta menyusun jadwal kegiatan di CFS.
 
Hingga saat ini sudah ada 72 fasilitator yang mendapat pembekalan. Mereka juga sudah melakukan kegiatan di CFS yang ada di lingkungannya masing-masing. Ke-72 orang fasilitator terlatih tersebar di 20 CFS yang ada. Jumlahnya memang tidak sama di setiap CFS karena menyesuaikan dengan jumlah anak yang menjadi peserta. Ada CFS yang memiliki empat fasilitator dan ada yang hanya dua orang. Semakin besar jumlah anak maka akan semakin banyak fasilitator yang dibutuhkan.