Peluncuran Program School For Change

Jumat 28 September 2018
Pertengahan tahun 2018, Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children bersama Pemerintah Kabupaten Kupang berkomitmen untuk memperkuat komitmen keberpihakan pada anak dengan meluncurkan program 'School for Change'. Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak ketika mereka berada di sekolah dan di rumah sekaligus meningkatkan kemampuan literasi mereka.
 
Program School for Change dijalankan di 56 sekolah dasar di 7 kecamatan yaitu Kupang Barat, Nekamese, Kupang Tengah, Kupang Timur, Amabi Oefeto, Amarasi, dan Fatulehu. Menurut Tasman Silverius Muda, Senior Eastern Area Manager dari YSTC, ada empat hal pokok yang hendak dicapai melalui program ini. Pertama, menciptakan sekolah hingga menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar. Kedua, memperkuat sistem perlindungan anak untuk mencegah dan merespon kekerasan pada anak. Ketiga, meningkatkan praktik untuk mendukung kemampuan literasi anak. Sedangkan yang keempat, memperkuat perlindungan anak dan literasi pada level kebijakan pemerintahan.
 
Staf Ahli Bupati Kabupaten Kupang Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Marthinus Tausbele hadir sebagai perwakilan Kabupaten Kupang dalam acara peluncuran program ini. Saat memberi sambutan, Marthinus menekankan pentingnya pendidikan tanpa kekerasan. Atas nama Bupati Kabupaten Kupang, ia menegaskan dukungan pemerintah pada implementasi program ini. Ia juga meminta sekolah dan para kepala desa untuk turut berpartisipasi aktif dalam semangat mengurangi kekerasan baik di rumah maupun di sekolah, sebab menurutnya, "karakter bangsa ini harus dibentuk oleh kasih sayang".  
 YSTC Senior Eastern Area Manager memaparkan renccana program School for Change.

Literasi
Perilaku kekerasan terhadap anak memang patut menjadi perhatian kita. Angka kekerasan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup tinggi. Tahun 2016 lalu, YSTC melalui program Family First menemukan bahwa mayoritas kekerasan tersebut terjadi di rumah dan sekolah. Data ini cukup menyesakkan mengingat sekolah dan rumah semestinya menjadi ruang perlindungan bagi anak. Rumah dan sekolah idealnya adalah tempat di mana anak-anak bisa merasa nyaman dan aman.
 
Selain soal kekerasan, kemampuan akademik siswa juga akan menjadi fokus program School for Change, khususnya yang berhubungan dengan keterampilan literasi di kelas-kelas awal. Keterampilan literasi adalah modal penting bagi anak untuk bisa belajar dan memahami pengetahuan lain. Kemampuan literasi yang baik menjadi pondasi bagi anak untuk bisa belajar secara maksimal.
 
Kita di Indonesia memang tengah menggiatkan pendidikan literasi. Agak menyedihkan mengetahui bahwa minat baca kita tergolong sangat rendah jika dibanding negara-negara lain di dunia, bahkan yang terendah di Asia Tenggara. Temuan ini disampaikan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 melalui 'Most Literate Nations in The World". Fenomena ini bisa jadi karena memang budaya membaca yang belum dikuatkan dari awal.
 
Untuk di Kabupaten Kupang sendiri, pengukuran kemampuan literasi yang dilakukan oleh Save the Children di beberapa sekolah dasar menunjukkan jika 25% siswa kelas II tidak bisa membaca kata yang sering muncul dalam sebuah bacaan. Data lain menunjukkan bahwa 61% siswa tidak bisa menjawab pertanyaan terkait bacaaan yang baru saja mereka baca. Temuan ini menunjukkan betapa perlunya kita memberi perhatian pada keterampilan dasar ini, sebab dia dapat menentukan masa depan anak.
 
Implementasi dan Kemitraan
 
Ada banyak hal yang akan dilakukan oleh program School for Change ini nantinya. Terkait literasi misalnya, akan dilakukan peningkatan kapasitas guru dan sekolah tentang kemampuan literasi. Program ini juga akan melakukan kegiatan-kegiatan terkait literasi baik di sekolah, rumah, maupun komunitas. Sementara, terkait upaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, program yang didanai oleh IKEA Foundation ini akan menyusun, bersama guru dan murid, kode etik dan tata perilaku kelas.
 
Di tingkat komunitas, serangkaian kampanye penghentian kekerasan terhadap anak akan digiatkan di tengah masyarakat. Selain itu akan diupayakan pula hadirnya sebuah sistem dan mekanisme pelaporan jika terjadi tindak kekerasan terhadap anak baik itu di sekolah maupun di masyarakat. Di level desa, program ini akan mendorong hadirnya kebijakan dan penganggaran yang mendukung kegiatan literasi dan berpihak pada upaya penghentian kekerasan terhadap anak.
 
Untuk memperkuat implementasinya nanti, YSTC melalui program School for Change menjalin kemitraan dengan Universitas Cendana (Undana), Kampus terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nantinya Undana akan terlibat dalam hal-hal yang berkaitan dengan riset dan pengkajian yang temuannya bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.
 
Kemitraan ini juga membuka ruang bagi Undana dan YSTC untuk saling mendukung dan mengisi dalam kegiatan masing-masing. YSTC dapat mengambil kesempatan untuk memperkenalkan nilai-nilai keberpihakan terhadap anak, seperti pendidikan tanpa kekerasan atau positif disiplin bagi para calon guru yang tengah menempuh pendidikan di kampus tersebut. Lebih jauh, kemitraan kedua lembaga ini membawa misi penting untuk menghadirkan forum literasi dan forum perlindungan anak di wilayah ini. Forum tersebut nantinya akan bergerak bersama dalam mengupayakan hadirnya berbagai kebijakan yang berpihak pada anak khususnya dalam hal perlindungan dan pendidikan.