Menjaga Asupan di Situasi Darurat

Kamis 17 Januari 2019
Hampir pukul 9 pagi. Sejumlah ibu berkumpul di sebuah rumah di satu sudut jalan Desa Selengan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Beberapa di antara mereka menggendong anak bayi dan balita. Tak jauh, sekelompok ibu lain yang merupakan kader kesehatan setempat terlihat serius mengolah dan memasak makanan di dapur yang sebagian dindingnya sudah rubuh akibat gempa. Mereka semua terlihat bersemangat. Hari itu, mereka berkumpul untuk berbagi cerita dengan staf Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) dan petugas penyuluh dari Puskesmas tentang bagaimana menyediakan makanan yang sehat bagi anak, termasuk memberikan ASI yang benar bagi bayi. Di tengah situasi keprihatinan pasca gempa beberapa bulan lalu, YSTC terus mendorong adanya pemenuhan hak anak dalam mendapatkan asupan makanan yang aman, sehat, dan berkualitas.
 
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari respon bencana YSTC di Kabupaten Lombok Utara, daerah yang luluh lantak karena serentetan gempa besar beberapa bulan lalu. Di sektor kesehatan, YSTC menitikberatkan dukungannya pada bayi dan balita sebab mereka merupakan kelompok yang paling rentan dalam situasi seperti ini. Dukungan dilakukan baik melalui Posyandu ataupun langsung ke komunitas. Fokus dukungan yang diberikan adalah bagaimana menyediakan nutrisi dan makanan bagi anak dan bayi serta mendorong pemberian ASI.

Penyediaan makanan sehat dan berkualitas bagi anak di rumah memang masih belum menjadi perhatian serius di masyarakat kita secara umum. Saat makan, proporsi nasi yang merupakan sumber karbohidrat jauh lebih banyak dari asupan lain seperti protein nabati, protein hewani, ataupun sayuran. Ini jelas tak berimbang. Sayangnya, proporsi makanan seperti ini juga yang kerap diberikan oleh orangtua pada anaknya yang masih balita. Padahal dalam konsep Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), perbandingan untuk makanan ideal dan sehat itu adalah 'sepertiga', yaitu sepertiga nasi, sepertiga lauk, dan sepertiga sayuran serta buah. Bagi masyarakat di sini sebenarnya tidak sulit untuk menyediakan itu. Sayuran, buah, dan aneka ragam pilihan lauk banyak tersedia.

Dalam situasi pasca bencana seperti ini, ada tantangan tersendiri dalam penyediaan makanan bergizi dan berkualitas bagi anak. Kondisi yang belum pulih membuat sebagian masyarakat masih enggan bergerak dan beraktifitas. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tenda-tenda darurat atau hunian sementara. Kebutuhan makanan mereka diperoleh dari donasi yang berupa makanan cepat saji dan juga susu formula bagi bayi. Meski tidak dianjurkan, kenyataannya makanan semacam inilah yang banyak mereka berikan ke anak.

Kementerian Kesehatan sendiri sesungguhnya sudah mewanti-wanti agar distribusi bantuan makanan bagi anak di area bencana diawasi secara ketat. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 sudah mencantumkan poin bahwa donasi makanan bagi anak bayi dan ibu hamil serta menyusui mesti diawasi oleh Dinas Kesehatan setempat melalui Puskemas. Peraturan ini sepertinya belum tersosialisasi secara baik sehingga di lapangan masih banyak kegiatan distribusi makanan bayi dan susu formula yang dilakukan tanpa melibatkan Puskesmas. Beberapa ibu menyusui yang ditemui staf YSTC mengaku setelah menerima bantuan susu formula, ia lebih sering menyajikan itu ke anaknya dibanding memberikan ASI. Mereka merasa sayang jika hasil pemberian tersebut tidak digunakan.

Pemberian susu formula khususnya di lokasi pengungsian memang sangat tidak dianjurkan. Tidak ada jaminan bahwa air yang digunakan untuk membuat susu itu bersih dan steril. Anak-anak yang mengkonsumsi akan menjadi rentan terhadap serangan penyakit. Selain soal kesehatan, membiasakan anak mengkonsumsi susu formula akan menjadi menjadi beban tersendiri bagi orangtua. Saat ini mereka memang masih menerima bantuan dan donasi dari pihak lain. Namun nanti, ketika bantuan itu berhenti, sementara anaknya sudah terlanjur menyukai susu formula tersebut, tentunya para orantua mesti mengeluarkan dana dari koceknya sendiri untuk membeli.
 
Staf Puskesmas bersama tim YSTC tengah mensosialisasikan tata cara pemberian ASI yang tepat.

Para orangtua yang memiliki bayi mesti berkomitmen untuk tetap menyusui anaknya meski dalam situasi bencana. Pada pertemuan itu, para ibu mendapat pengetahuan tentang teknik-teknik bagaimana memberi ASI yang baik dan benar, mulai dari memahami proses keluarnya ASI hingga cara menggendong bayi saat tengah memberikan ASI sehingga baik ibu dan bayi akan merasa nyaman. Staf lapangan YSTC bergantian dengan petugas Puskesmas memberikan pemaparan terkait itu dan menjawab keluhan-keluhan yang disampaikan oleh para ibu.

Para ibu yang hadir mengaku pertemuan semacam ini adalah pengetahuan yang berharga bagi mereka. “Saya sudah dua kali menyusui anak dan apa yang disampaikan di pertemuan ini belum pernah saya dengar sebelumnya. Di Posyandu pun saya belum pernah diberitahu soal ini,” ujar ibu Parmili sembari menggendong anaknya.

Tak hanya bagi ibu yang punya bayi dan balita, informasi yang disampaikan melalui pertemuan ini juga dianggap sangat berharga oleh ibu Ziana. Dia seorang peserta yang saat ini tengah hamil anak pertama.
“Alhamdulillah bisa ikut pertemuan ini dan dapat banyak masukan untuk merawat anak nanti. Insya Allah ke depannya akan lebih siap,” tutur Ibu Ziani.

Kegiatan seperti ini dilaksanakan di empat desa yang terletak di Kecamatan Bayan dan Kayangan. Sebelumnya, para kader kesehatan dari desa-desa tersebut mendapat pelatihan tentang pemberian makanan pada anak dan bayi dalam situasi bencana. Dari setiap desa, diambil empat dusun sebagai percontohan. Mereka diharapkan bisa menyebarkan pemahaman dan pengetahuan tentang nutrisi kepada keluarga lain di tempatnya tinggal.

Usai membahas soal ASI, kegiatan dilanjutkan dengan santap bersama makanan hasil olahan ibu-ibu kader. Menu yang disajikan terdiri dari nasi, sayuran kelor, dan tahu tempe. Seusai pertemuan itu, mereka pulang ke rumahnya masing dengan sekantung sayuran dan lauk yang dapat mereka olah di rumah.