Menjaga Asa Bersekolah

Senin 14 Januari 2019
Idham (9 tahun) masih berada di halaman sekolahnya siang itu meski jam belajar sudah berakhir. Dia bermain di antara bongkahan batu bata yang dulu merupakan bangunan sekolahnya yang roboh karena gempa dahsyat di awal Agustus 2018 lalu. Idham dan teman-temannya kini belajar di sebuah tenda yang didirikan di dalam halaman sekolahnya. Tenda itu sendiri merupakan dukungan dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mitra Save the Children untuk keberlanjutan pendidikan Idham dan teman-temannya.
 
YSTC merupakan bagian dari gerakan untuk memastikan hak anak atas pendidikan di situasi bencana di Kabupaten Lombok Utara tetap terpenuhi. Tenda-tenda berukuran besar didistribusikan dan digunakan sebagai ruang belajar sementara. Total ada 20 tenda yang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Tenda-tenda ini didirikan di halaman sekolah ataupun di lapangan yang menjadi titik kosentrasi pengungsian yang ditinggali banyak anak-anak.
 
Ketersediaan peralatan belajar para siswa juga menjadi perhatian YSTC. Untuk itu, ada paket Back to School (Kembali ke Sekolah) yang dibagikan. Paket Back to School yang dibagikan itu berupa tas sekolah yang di dalamnya berisikan pulpen, pensil, crayon, buku-buku, dan berbagai barang lainnya yang bisa digunakan mereka untuk belajar baik di sekolah maupun di rumah. Ada juga paket Hygiene (Kebersihan) yang terdiri atas sabun, pasta gigi, sikat gigi, gunting kuku, dan handuk. Sampai saat ini ada sekitar 968 paket yang teelah dibagikan di lima sekolah dasar di Kabupten Lombok Utara.
 
Kampanye Kembali ke Sekolah
 
Sebelum itu, YSTC bersama pemerintah setempat dan mitra NGO lain yang bergerak di bidang pendidikan bersama-sama mengkampanyekan semangat untuk kembali ke sekolah. Bagi sebagian orangtua, melepas anaknya untuk pergi dari rumah ataupun lokasi tempat mereka mengungsi merupakan hal yang tidak mudah. Ingatan akan gempa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya membuat mereka merasa berat untuk mengizinkan anaknya pergi. Terlebih, gempa-gempa susulan juga masih kerap terjadi. Hal ini bisa dipahami, namun tentunya akan merugikan kepentingan anak.
 
Kampanye Kembali ke Sekolah dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai pihak terkait. Ada beragam kegiatan yang dilakukan. YSTC sendiri misalnya, memanfaatkan radio lokal untuk menyebarkan semangat pada para orangtua untuk memastikan anak-anak mereka bisa kembali bersekolah. Pada saat yang sama, YSTC bekerja sama dengan pemerintah dan komunitas setempat terus memastikan agar lokasi-lokasi sekolah darurat yang digunakan benar-benar bisa menjamin keselamatan siswa dan guru yang beraktivitas di situ.
 
Keadaan para guru juga menjadi perhatian YSTC dalam respon gempa di Lombok ini. Para guru inilah yang berinteraksi langsung dengan murid. Situasi pasca gema tentunya akan berdampak pada kondisi mengajar mereka. Menurut Bernard Sisalana, Koordinator Pendidikan YSTC di respon Lombok ini, secara umum jumlah guru yang ada usai gempa tidak banyak berubah. Hanya saja, kesiapan mereka untuk mengajar masih membutuhkan perhatian.
 
“Yang menjadi permasalahan dalam menyikapi kondisi ini adalah banyak guru yang belum siap secara psikologis untuk mulai mengajar karena mereka inipun merupakan korban. Banyak guru yang masih terbebani dengan permasalahan-permasalahan seperti tempat tinggal, ketersediaan kebutuhan sehari-hari yang terbatas, hingga perasaan cemas akibat gempa yang masih terus terjadi. Inilah yang membuat para guru belum mampu fokus serta masih membutuhkan dukungan psikososial yang tepat sebelum terlibat dalam proses belajar mengajar di kelas,” sebut Bernard.
 
Selain dukungan psikologis bagi para guru, YSTC bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara juga memberikan pembekalan kepada para guru tentang keterampilan mengajar di situasi pasca bencana. Ada pelatihan terkait metode pembelajaran, seperti bagaimana menggunakan 'model bermain'. Pendekatan ini diharapkan bisa mengurangi tingkat stres baik pada anak didik maupun pada diri mereka sendiri. Selanjutnya mereka juga diberikan pembekalan tentang pemanfaatan material lokal dalam kegiatan mengajar yang diharapkan dapat menjadi jawaban atas keterbatasan fasilitas yang mereka alami usai bencana.
 
Hal lain yang diberikan YSTC dalam pelatihan kepada para guru ini adalah tentang pengurangan risiko bencana, kebersihan diri dan lingkungan, serta literasi. Dalam kegiatan pembelajaran, berbagai komponen tersebut disinergikan dengan topik yang tengah diajarkan.
 
Saat ini sejumlah bangunan sekolah darurat sudah dibangun oleh pemerintah. Kegiatan belajar mengajar sudah pindah dari tenda darurat ke bangunan semi permanen. Namun hal ini belum terlaksana sepenuhnya. Bagi sebagian, seperti Idham dan kawan-kawannya di SDN 6 Sesait, mereka masih tetap belajar di tenda-tenda darurat sembari menunggu giliran sekolah mereka dibangun. Bahkan, ada juga yang memanfaatkan teras masjid untuk kegiatan belajarnya. Keadaan memang tidak mudah bagi mereka karena masih dibutuhkan proses untuk benar-benar pulih seperti sedia kala. Namun yang terpenting adalah bagaimana agar mereka tidak kehilangan satu haripun untuk belajar dan mengenyam pendidikan.