LEWAT SEPAK BOLA, ANAK INDONESIA TEMUI ANAK PENGUNGSI DI YORDANIA

Kamis 14 November 2019
WhatsApp-Image-2019-11-14-at-11-22-32-AM.jpeg
Save the Children di Indonesia dan Arsenal Foundation Arsenal Foundation bekerjasama untuk menggarap program bertajuk “Coaching for Life (COOL) untuk menegaskan pentingnya kebutuhan utama anak-anak yang rentan di Indonesia dan Yordania. Anak-anak dari tujuh Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan anak-anak pengungsi dari Suriah di Kamp Za’atari mendapatkan pelatihan bagaimana sepakbola bisa meningkatkan ketentraman (well-being) anak-anak usia 12-18 tahun.

Tujuh remaja dari Indonesia berusia antara 13 hingga 17 tahun berasal dari Jakarta. Mereka adalah Rolanda, Sagita, Sarah, Zahra, Abdul, Farhan dan Hisyam. Bertolak dari Jakarta tanggal 2 November dan kembali tanggal 7 November. Di ibukota, mereka tinggal di daerah yang rawan kekerasan dan rentan menjadi korban. Pelatihan dari program COOL ini membawa mereka untuk berbagi pengalaman dengan peserta program serupa yang merupakan pengungsi dari konflik menahun di Suriah.

Ketujuh remaja ini dipilih melalui proses yang sepenuhnya ditentukan dan dilaksanakan oleh anak-anak yang aktif di tujuh RPTRA di Jakarta. Sebelumnya, mereka diseleksi dari ratusan anak untuk membentuk forum kecil sebagai wadah peserta COOL untuk mengorganisir latihan lebih baik bersama pengurus RPTRA dan para pelatih yang berpedoman dari modul milik Arsenal. Forum kecil ini total berjumlah 42 orang dimana kemudian menentukan kriteria siapa yang akan berangkat ke Yordania dan mengapa mereka terpilih. Partisipasi anak dalam menentukan dan mengorganisir kegiatan ini menjadi salah satu kunci agar para remaja terpilih ini bisa merasakan manfaatnya di kemudian hari.

Direktur Brand dan Komunikasi Save the Children, Fajar Jasmin menegaskan “Anak-anak yang terlibat di program COOL ini meningkat kemampuannya dalam berkomunikasi, melakukan advokasi dan bagaimana mereka menyuarakan pendapatnya di forum-forum yang pesertanya anak-anak dan juga orang dewasa.”

Di Yordania sendiri, terdapat 1,3 juta pengungsi. Ada 661.114 yang terdaftar di lembaga PBB mengurusi pengungsi, UNHCR. Khusus di kamp Za’atari, 80,146 orang Suriah berdiam di sini dan 36% di antaranya adalah anak-anak. Para remaja Indonesia ini akan bertemu dengan sejumlah anak yang juga terlibat dalam program COOL di sana.
Save the Children sendiri melakukan penelitian yang paling komprehensif dan paling besar tentang konflik Suriah ini. Riset berjudul “Invisible Wound” ini melihat dampak perang pada anak dari sisi kesehatan mental dan ketenteraman (well-being) mereka.

Evie Woro Yulianti, Field Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik Jakarta Raya, melihat program COOL “sebagai upaya mengajak anak-anak untuk menyiapkan diri dan bertahan dalam situasi yang tidak ideal untuk mereka dalam menghadapi masa depannya nanti. Sepak bola menjadi salah satu pilar dalam membentuk ketangguhan pada diri anak.”

Empat orang staf Save the Children Indonesia mendampingi tujuh remaja ini selama berada di Yordania. Tidak hanya di sana, keempat staf ini mendampingi proses selama program COOL berlangsung hingga akhir tahun 2020. (RE)