Laporan Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah di Jakarta

Jumat 11 Januari 2019
Program SELAMAT (Sosialisasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas) dengan dukungan dari SOMPO Japan Nippon Koa meluncurkan laporan penelitian terbaru melalui baseline study keselamatan berlalu lintas berbasis sekolah yang dilakukan pada bulan September – Desember 2018 di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Penelitian ini telah dipaparkan dihadapan perwakilan Kementerian Perhubungan, Ditlantas Polda Metro Jaya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Dinas PPAPP DKI Jakarta dan organisasi masyarakat sipil seperti Road Safety Association (RSA) dan LaLintas. Secara garis besar, terdapat beberapa temuan yang dapat dibagi menjadi beberapa aspek terkait keselamatan berlalu lintas berbasis sekolah, diantaranya adalah aspek infrastruktur lalu lintas, aspek pengetahuan, dan aspek prilaku dari warga sekolah.
 
Dilihat dari aspek infrastruktur dan keselamatan jalan, secara umum sekolah-sekolah di Jakarta terletak di kawasan komersil dimana kondisi jalan raya selalu sibuk dan ramai. Jakarta Utara memiliki resiko yang lebih besar karena kondisi lalu lintas yang terdiri dari kendaraan besar, seperti truk kontainer, akibat perannya yang penting sebagai pusat industri dan kegiatan pelabuhan. Kondisi lalu lintas di Jakarta timur juga memiliki resikonya sendiri akibat banyaknya kendaraan komuter roda dua dan empat. Dari segi infrastruktur sekolah, isu yang sering ditemukan adalah mengenai ketersediaan zona pengantaran, rambu lalu lintas, dan trotoar.

Banyak sekolah yang tidak memiliki zona pengantara khusus untuk antar/jemput siswa. Beberapa sekolah memiliki zona yang tidak resmi, sementara sekolah lainnya tidak memiliki sama sekali yang mengakibatkan orang tua mengantar atau menjemput anaknya di pinggir jalan raya. Beberapa sekolah juga tidak memiliki trotoar yang memadai. Hal ini terjadi akibat banyaknya pedagang kaki lima yang menempatinya. Perbaikan dapat dilakukan pada trotoar yang sudah rusak untuk meningkatkan keamanan pejalan kaki. Sisi positifnya adalah hampir semua sekolah memiliki pengawas (satpam) untuk menjaga warga sekolah ketika melakukan aktivitas berlalu lintas di area sekolah.
Dari aspek pengetahuan keselamatan jalan, secara umum, mayoritas warga sekolah di kedua kota administratif memiliki pengetahuan dasar mengenai keselamatan lalu lintas, termasuk usia minimum berkendara, penggunaan helm, tempat pemberhentian kendaraan umum, rambu jalan, dan apa yang harus dilakukan ketika terlibat di keadaan keselamatan genting.
Namun, masih terdapat beberapa poin yang mencemaskan:
  • Jumlah penumpang motor. Survei mengungkapkan mayoritas murid, guru, dan orang tua berpikir bahwa penumpang motor boleh lebih dari 1 orang, berdasarkan praktek umum di masyarakat.
  • Cara turun dari kendaraan umum yang benar. Survei membuktikan bahwa banyak murid beserta beberapa guru dan orang tua berpikir bahwa kaki kanan adalah kaki yang seharusnya digunakan ketika turun kendaraan umum. Kenyataanya, kaki kiri adalah kaki yang tepat. Hal tersebut jarang diajarkan atau dipraktekkan di kehidupan sehari-hari, dan akibatnya tidak banyak yang mengetahui.
  • Kekurangan informasi tentang ZoSS (Zona Selamat Sekolah). Meskipun banyak orang tua sadar untuk mengurangi kecepatan kendaraan mereka ketika masuk zona sekolah, dan ketertiban menggunakan zona pengantaran tinggi, msih banyak yang belum mengetahui tentang ZoSS. Hal ini juga berlaku untuk guru-guru dan kepala sekolah, yang menunjukkan sebuah celah besar.
  • Tidak banyak orang tua yang tidak tahu usia minimum berkendara, sayangnya hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk orang tua yang mengizinkan anaknya berkendara.
Dari aspek sikap dan perilaku keselamatan di jalan, studi menunjukkan bahwa murid di Jakarta Utara dan Timur sudah mencoba untuk mempraktekkan kebiasaan berlalu lintas yang aman, termasuk aspek usia minimum berkendara, penggunaan helm, tempat berhenti kendaraan umum, dan keamanan berjalan kaki. 
Namun, masih terdapat beberapa poin yang mencemaskan:
  • Beberapa murid menunjukkan sikap melanggar hukum dengan berkendara dibawah usia minimum. Hal ini dapat dikaitkan ke tingkat pengetahuan murid dan orang tua, tetapi lebih pentingnya, dapat dikaitkan juga ke orang tua yang mengizinkan anaknya berkendara. Beberapa orang tua bahkan menjadi penumpang diatas motor dan menyuruh anaknya berkendara ke sekolah, dimana saat sampai sekolah, orang tua dapat mengendarai motornya pulang. Poin ini sangat penting karena memiliki dampak yang serius ke anak.
  • Meskipun kebanyakan murid memiliki pengetahuan yang memadai terkait keselamatan di transportasi umum, pengetahuan tersebut tidak dipraktekkan. Mereka harus mengerti bahwa turun kendaraan umum dengan kaki kiri dapat menghindari kecelakaan, dan untuk turun kendaraan umum di tempat pemberhentian yang seharusnya.
  • Meskipun banyak murid sadar akan kewajiban penggunaan helm saat naik motor, termasuk angkutan online, banyak murid yang masih tidak melakukan (berdasarkan observasi langsung). Dalam arti ini, sangat penting untuk mengisi kelowongan ilmu terkait penggunaan helm. Orang tua juga harus mengingatkan anak mereka akan kewajiban tersebut, mungkin dengan cara menyimpan helm dengan ukuran sesuai anak.
  • Banyak murid yang sudah mempraktekkan keselamatan dalam berjalan kaki dengan cara menggunakan zebra cross dan jembatan penyeberangan orang (JPO) ketika menyeberang jalan, dan juga mengingatkan teman mereka untuk melakukan hal yang sama. Hanya sedikit (10%) murid yang tidak menggunakan keduanya ketika menyeberang, dan hal ini perlu diatasi. Di samping itu, murid juga harus Memperbaiki perilaku mereka ketika menyeberang jalan karena masih banyak yang belum mempraktekkan 4T.

Pada kesempatan yang sama, Program SELAMAT melakukan penandatanganan MoU dengan 20 sekolah dampingan di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Kerjasama ini bertujuan untuk berkolaborasi dalam menjalankan kegiatan keselamatan berlalu lintas berbasis sekolah yang akan dilaksanakan hingga tahun 2022.

Di dalam penyelenggaraannya, berbagai kerjasama akan dilakukan dengan institusi terkait kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang dapat mengurangi resiko kecelakaan pada anak di jalan raya, khususnya di lingkungan sekolah. Berbagai kegiatan kampanye kreatif untuk mempromosikan keselamatan berlalu lintas pun akan dilakukan melalui kolaborasi bersama anak-anak dan komunitas anak muda, organisasi masyarakat sipil dan juga pegiat media sosial di Jakarta.