Kembali Pulang, Kembali ke Keluarga

Sabtu 25 Mei 2019
Bandung, 25 Mei 2019 – Lebih dari setengah populasi warga yang tinggal di kota-kota besar akan kembali ke keluarga saat mudik lebaran untuk bisa kembali kepada keluarga mereka.  9 dari 10 anak yang tinggal di Panti Asuhan juga memiliki harapan yang sama untuk bisa kembali tinggal di keluarga. Hal ini dikarenakan lebih dari 90% anak yang berada di panti asuhan setidaknya masih memiliki salah satu orang tua.
 
WhatsApp-Image-2019-05-26-at-7-24-13-AM(1).jpeg

“Save the Children percaya bahwa keluarga merupakan tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh dan berkembang, hal ini dibuktikan dari beberapa penelitian kami bahwa anak-anak yang berada di dalam pengasuhan keluarga meskipun berada di dalam keluarga yang mengalami kondisi kesulitan ekonomi bisa mendapatkan kasih sayang, perlindungan dan perhatian yang tidak bisa tergantikan dibandingkan lembaga pengasuhan yang terbaik sekalipun”, ujar Didiek Eko Yuana, Central Area Senior Manager Save the Children saat ditemui dalam Kegiatan Kampanye “Kembali Pulang, Kembali ke Keluarga” di Gedung Da’wah Muhamadiyah.
WhatsApp-Image-2019-05-26-at-7-24-13-AM(2).jpeg
 
Di tempat yang sama, Peri Sopian, Kepala LKSA Kuncup Harapan mengungkapkan “Anak-anak biasanya berada di dalam panti asuhan karena harapan dari orang tua mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan, ada harapan besar untuk kehidupan anak yang lebih baik dari orang tua ketika menitipkan anak-anak di panti asuhan, walaupun memisahkan anak dengan keluarga untuk mendapatkan pendidikan ataupun kehidupan yang lebih baik seharusnya merupakan sebuah pilihan yang tidak perlu dilakukan”.

Semua anak memiliki hak untuk diasuh oleh orang tuanya. Bersama dengan orang tua, anak akan mendapatkan pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan perlindungan. Peri juga mengungkapkan “Tidak bisa dipungkiri, sebaik apapun LKSA, kasih sayang dari orang tua adalah hal yang paling utama. Anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman bagi mereka”

Hal serupa diungkapkan Nur (bukan nama sebenarnya). Saat ini ia berusa 16 tahun, ia sudah tinggal di LKSA lebih dari 3 tahun. Bagi Nur dengan tinggal di Panti Asuhan ia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi Nur juga mengungkapkan “Mungkin akan lebih baik jika tinggal bersama dengan keluarga, karena tidak ada anak yang tidak ingin tinggal dengan keluarganya”.

Keterpisahan anak dengan keluarganya dirasakan berat tidak hanya oleh anak tetapi juga oleh pihak keluarga. Hal ini dialami oleh SA (35), yang juga merasakan manfaat dari reuniikasi atau kembalinya anak pada keluarga dengan mengungkapkan, “Mohon maaf sekali kepada anak saya, dulu kami terpaksa menitipkan dia ke Panti, tetapi sejak dia sudah bisa kembali tinggal ke rumah, kami begitu bahagia, dan saya begitu semangat untuk menjaga stabilitas keluarga, agar kami tidak perlu terpisah karena hal-hal yang tidak perlu”

 
Tentang Program Family First (The Body Shop)
Diperkirakan 500.000 anak menghabiskan masa kanak-kanak mereka di 8000 lembaga pengasuhan anak di seluruh Indonesia. Lebih dari 2,15 juta anak di bawah 15 tahun tidak tinggal bersama orang tua mereka. Dari 88% ini sedang diasuh oleh keluarga besar mereka. Dimana 90% dari anak-anak tersebut setidaknya masih memiliki satu orang tua yang tinggal. Para orang tua berjuang dalam kemiskinan, sehingga mereka menghadapi kesulitan untuk membersarkan anak-anak mereka. Orang tua percaya bahwa menempatkan anak-anak dalam lembaga pengasuhan dapat memberikan mereka masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, terkadang ketika anak-anak berada di dalam lembaga pengasuhan tidak ada kontrol dan kasih saying terhadap perkembangan mereka sehingga menempatkan mereka dalam posisi rentan akan kekerasan dan terabaikan. Di Indonesia, anak-anak berada di lembaga pengasuhan karena faktor-faktor seperti kemiskinan, orang tua tunggal, lahir di luar institusi pernikahan maupun karena terjadi konflik ataupun situasi bencana. Selain itu, adanya perekrutan aktif anak-anak oleh beberapa lembaga pengasuhan anak di komunitas saat tahun akademik sekolah menjadi faktor penggerak keterpisahan keluarga dan penggunaan lembaga pengasuhan anak. Project ini mendukung siganature program Save the Children di Indonesia yaitu program Family First untuk mengubah pengasuhan anak yang hanya berbasis kelembagaan (panti) ke arah pengasuhan berbasis keluarga, dengan memastikan semua anak meimiliki pengasuhan yang layak dari orang tuanya atau pengasuh utamanya

 
Penelitian Save the Children (“Someone That Matters” : The Quality of Care in Childcare Institutions in Indonesia, 2007)