Indonesia Joining Forces: Akhiri Kekerasan pada Anak di Sekolah!

Senin 25 November 2019
WhatsApp-Image-2019-11-25-at-3-37-40-PM.jpeg

Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak. Lingkungan sekolah yang aman akan mendorong anak untuk ikut berpartisipasi dalam proses belajar. Rasa aman menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sehingga anak tidak merasa gelisah dalam melaksanakan aktivitasnya, termasuk belajar di sekolah.

Isu kekerasan pada anak menjadi kampanye bersama yang dilakukan Indonesia Joining Forces (IJF). Enam NGO kemanusiaan yang berfokus pada hak anak yang terdiri dari, ChildFund International di Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia, SOS Children’s Villages Indonesia, Save the Children di Indonesia, Terre des Hommes, dan Wahana Visi Indonesia, bergabung dalam Indonesia Joining Force (IJF) to End Violence Against Children (EVAC).

“IJF ingin mendorong berbagai pihak, termasuk juga media, untuk meningkatkan kesadaran terkait isu kekerasan pada anak, khususnya hukuman fisik di sekolah. Mari sama-sama ciptakan sekolah sebagai lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak-anak belajar dan beraktivitas,” ujar Laura Hukom, Project Manager Indonesia Joining Forces dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (25/11).

Baseline study tahun 2019 yang digagas oleh Indonesia Joining Forces menemukan fakta bahwa hanya 16,8% siswa yang menyatakan bahwa mereka merasa aman di sekolah. Sisanya menyebutkan bahwa mereka tidak merasa aman bahkan merasa sangat tidak aman. Toilet dan kantin merupakan area sekolah yang paling sering menjadi lokasi terjadinya kekerasan di sekolah. Data International Centre for Reseach of Women dan Yayasan Plan International Indonesia juga mendukung temuan IJF, dimana 84% anak-anak mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik, emosi dan seksual di sekolah

Pada fase pertama kegiatan ini, IJF bersepakat untuk fokus pada tema utama untuk mengakhiri semua bentuk kekerasan terhadap anak-anak di sekolah dengan mengedepankan partisipasi anak. Salah satunya yaitu dengan memperluas masalah hukuman fisik (corporal punishment) sebagai salah satu bentuk kekerasan, dan fokus pada kekerasan di sekolah.

Mikiko Otani, Anggota UN Convention on the Rights of the Child (UNCRC) yang turut hadir dalam konferensi pers mengemukakan bahwa “Kami mendorong pemerintah Indonesia agar segera memastikan pengiriman laporan implementasi sesuai waktu yang sudah ditentukan. Dan mendorong hadirnya kebijakan dan program yang efektif mendukung sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak”

Lebih jauh lagi, Laura mengungkapkan bahwa IJF ingin mendorong adanya komitmen perlindungan anak dan pengembangan budaya tanpa kekerasan di lingkungan sekolah. “Setiap satuan pendidikan sudah seharusnya bisa menerapkan prosedur operasi standar pencegahan tindak kekerasan dengan mengacu pada peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan no. 82 tahun 2015”. Berbagai sumber data yang dihimpun oleh Indonesia Joining Forces menunjukkan bahwa aksi kekerasan di sekolah termasuk praktik hukuman fisik harus segera dihentikan.

Selina Patta Sumbung, CEO Save the Children di Indonesia, sangat mengapresiasi usaha pemerintah dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman. Hal ini salah satunya tampak lewat keluarnya Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Namun, upaya bersama ini sebenarnya bisa diperkuat dengan melibatkan anak-anak dalam proses pengambilan keputusan.

"Salah satu tujuan koalisi ini adalah meningkatkan partisipasi anak dalam setiap pembuatan keputusan, baik di tingkat sekolah maupun pemerintah, terkait upaya-upaya dalam mewujudkan sekolah sebagai ruang belajar yang aman. Kita harus lebih mendengarkan anak-anak karena ini menyangkut kehidupan mereka," tutup Selina