Donate Your Lunch Untuk Gerakan 1000 Anak Membaca

Jumat 26 Mei 2017

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Puluhan siswa sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) Al-Wathoniyah 43, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara bergegas pulang dan bersiap-siap mengikuti kegiatan tambahan.

Setiap hari Sabtu setelah pulang sekolah, siswa MI Al-Wathoniyah 43 kerap mengikuti kegiatan pos baca di rumah Ibu Mia, salah satu masyarakat di sana. Di pos baca itu, puluhan anak dengan wajah riang mengikuti pelajaran dengan panduan modul bergambar. Terkadang mereka menyanyi dan bermain bersama. Kegiatan itu selalu berakhir dengan menyenangkan

Susilawati, siswi kelas II MI Al-Wathoniyah 43 adalah salah satu anak yang selalu hadir mengikuti kegiatan di pos baca. Ibunya, Sutimah juga selalu bersemangat saat menemani Susi belajar di sana.  Sutimah merasa sangat bersyukur dengan adanya pos baca dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik ini, walaupun kegiatannya hanya berjalan 1 s.d 2 jam tapi sangat membantu Susi untuk bisa membaca. Sutimah sangat terbantu, terlebih karena dirinya juga memiliki keterbatasan untuk mengajari secara langsung putrinya.
Sutimah menuturkan bahwa anak tunggalnya itu kini menjadi lebih gemar membaca buku, meskipun kemampuan membacanya belum terlalu lancar.

Di pos baca, anak-anak tidak hanya belajar tapi juga bermain.

Di pos baca ini, kata Sutimah, bukan hanya anaknya saja yang belajar membaca, dirinya pun banyak belajar. Ia ikut menyimak setiap materi yang ada di pos baca karena Ia juga ingin bisa membaca seperti layaknya orang dewasa lainnya.

Di pos baca juga terdapat kumpulan buku yang dapat dipinjamkan kepada anak – anak yang mengikuti pos baca. Susi dan Ibunya sering meminjam buku tersebut untuk dipelajari di rumah.  “Biasanya kalau malam, ibu selalu tanya, apa yang dibaca tadi siang? Saya ceritakan lagi ke ibu tentang buku yang saya baca, soalnya ibu gak bisa baca,”ujar Susi.

Kisah Susi dan ibunya merupakan gambaran bagaimana tingkat literasi di Indonesia saat ini. Kemampuan membaca masyarakat di Indonesia memang masih jauh dari apa yang diharapkan.

Hasi kajian Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, menunjukkan tingkat pemahaman pelajar di Indonesia atas materi bacaan menempati urutan ke-64 dari 65 negara yang dikaji.
Literasi tak hanya soal buta aksara. Tapi juga menyangkut kemampuam memahami bacaan dan menulis. Keterampilan tertinggi dan terpenting dalam membaca adalah memahami isi bacaan. Keterampilan tersebut  dapat menambah pengetahuan sang anak dan berpengaruh terhadap prestasinya.   

Untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak, Yayasan Sayangi Tunas Cilik telah menginisiasi pendirian pos baca di 12 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta Utara. Selain itu, kami juga memberikan pelatihan bagi 80 pengelola RPTRA sehingga mereka dapat mendampingi anak-anak yang sedang membaca buku.

Kami ingin menciptakan lingkungan kaya literasi yang lebih luas lagi sehingga semakin banyak anak yang dapat merasakan manfaatnya. Ayo bergabung bersama kami untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia. Mari bergabung dalam GERAKAN 1.000 ANAK MEMBACA melalui kegiatan pos baca di seluruh Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di DKI Jakarta, dengan mendonasikan makan siang Anda.
 
Segeralah berbuat nyata untuk membangun anak bangsa demi negeri tercinta.
Donasikan makan siangmu. Klik #DonateYourLunch