Dari Penyintas menjadi Relawan

Rabu 2 Januari 2019
02 Januari 2019 - Tanpa kenal lelah ia mengendarai motornya, mencari data dari satu titik kecamatan ke kecamatan lainnya. Setelah selesai mencari data, ia datang ke titik Ruang Ramah Anak yang telah dibangun oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Disana ia menemani anak-anak bermain, agar anak-anak tetap mendapatkan hak-hak nya meski dalam situasi darurat. Ia terus mengendarai motornya tanpa khawatir, dengan semangatnya yang begitu membara untuk membantu para pengungsi, siapa sangka bahwa ia juga merupakan korban tsunami.

Malam itu, 22 Desember 2018 pukul 21.30 WIB, Saepul Rahman (20) sedang mengantar saudaranya ke Beach Club Tanjung Lesung, “Malam itu ada acara di Beach Club, tapi saya memutuskan tidak ikut masuk. Setelah mengantar saudara saya hanya duduk-duduk di dermaga” ungkap pria yang biasa dipanggil Epul ini. Malam itu, langit memang sangat cerah, bulan purnama terang begitu bulat dan sempurna, di temani angin laut Epul menikmati suasana malam hari dari dermaga.

“Saya tidak melihat laut, tetapi saya tiba-tiba melihat beberapa orang berlarian. Tidak sampai sepuluh detik mungkin, ombak datang menghempas” ujar Epul. Ia menceritakan ia terombang-ambing mengikuti hempasan ombak sampai akhirnya bertemu tim SAR sekitar pukul 02.00 pagi di dekat danau. “Saya berusaha untuk tetap dalam kondisi sadar, walaupun entah berapa banyak air laut yang saya minum. Saya sempat berfikir mungkin saya akan meninggal ketika saya sempat melihat cahaya terang, namun ternyata saya masih diberikan kesempatan untuk bisa hidup”. Setelah ditemukan tim SAR, Epul langsung diantar pulang ke rumahnya.

Beristirahat sebentar di pagi hari pukul 06.00 pagi Epul sudah kembali ke Beach Club Tanjung Lesung mencari saudara-saudaranya yang malam itu berada di Beach Club. Epul kemudian mendapati saudara dan temannya yang pergi ke Beach Club dengannya dalam kondisi yang meninggal dunia.

“Mungkin karena saya mengalami langsung, jadi saya merasa saya harus membantu dalam kondisi tanggap darurat ini”, ungkap Epul ketika ditanya mengapa ia tidak mengungsi pasca Tsunami terjadi. Ia juga menambahkan “Beberapa orang yang mengungsi karena khawatir akan Tsunami susulan, tetapi saya lebih khawatir dengan kondisi para korban yang bertahan disini, kondisi anak-anak yang kehilangan tempat bermainnya” ungkap Epul yang sehari-hari berprofesi sebagai Guru Penjaskes di Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD).

Epul berharap, semua orang bisa kembali cepat bangkit dan aktivitas di Kabupaten Pandeglang bisa kembali berjalan. “Sekarang saya sendiri menjadi lebih semangat untuk melakukan kegiatan, saya tidak sabar mewujudkan mimpi-mimpi saya. Seperti membuat gerakan karinding bersama anak-anak”, ujar Epul dengan mata yang berbinar.

Selesai bercerita, Epul kembali lagi bermain bersama anak-anak di Kecamatan Cigeulis. Ia memberikan semangat kepada anak-anak untuk tetap berani dan tetap ceria. Epul, sosok anak muda yang cepat sekali bangkit dari situasi trauma yang dia hadapi telah memberikan harapan baru bagi kebangkitn Banten pasca Tsunami Selat Sunda. Epul tanpa khawatir menunjukan bagaimana semangat anak-anak muda untuk bisa berkontribusi bagi daerahnya dalam kondisi apapun.