Anak-anak Terkena Dampak Gempa dan Tsunami Palu. Longsor dan Pemadaman Hambat Bantuan.

Senin 1 Oktober 2018

1 Oktober 2018 - Ratusan orang masih hilang setelah gempa bumi dan tsunami berkekuatan 7,4 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018. Berbagai organisasi kemanusiaan sedang berjuang untuk memberikan bantuan kepada masyarakat di wilayah-wilayah yang terkena dampak paling berat. Kabar hingga saat ini, terdapat 832 korban meninggal, 540 orang luka berat, dan 16.372 pengungsi.

Listrik masih padam di daerah sekitar Palu, ibukota Sulawesi Tengah, namun saat ini  BNPB dan PLN sedang berusaha memulihkan pasokan listrik di kota Palu dalam tiga hari. Sementara tanah longsor masih memblokir jalan-jalan utama. Infrastruktur vital lainnya termasuk bandara di Palu rusak parah.

“Akses menjadi salah satu masalah utama dalam respon kemanusiaan untuk krisis di Palu. Meski kami masih belum tahu skala penuh dari krisis ini, kami yakin skalanya sangat besar, dengan kerusakan besar yang terjadi di sejumlah area. Bangunan-bangunan besar ambruk; tempat tinggal pesisir dapat dipastikan telah hancur. Ratusan orang meninggal dan luka-luka, kami berharap krisis ini dapat segera pulih, ”kata Senior Branding and Communication Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Fajar Jasmin  dari Jakarta.

“Badan-badan bantuan dan otoritas lokal sedang berjuang untuk menjangkau beberapa wilayah di sekitar Palu dan Donggala, yang menurut kami menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan besar dan potensi kehilangan nyawa dalam skala besar”

Yayasan Sayangi Tunas Cilik memperkirakan ratusan bahkan ribuan anak kemungkinan besar akan terkena dampak secara signifikan berdasarkan penghitungan data populasi dan perhitungan dampak yang dilakukan. Fajar menyebutkan, tanpa mengesampingkan korban lain, dukungan dan perawatan ekstra perlu diberikan kepada anak-anak. Telah ditemukan beberapa laporan awal tentang anak-anak yang terpisah dari keluarga dan kondisi ini tentu sangat memprihatinkan.

“Anak-anak telah mengalami peristiwa yang mengejutkan sekaligus menyedihkan, dan berpotensi menimbulkan trauma. Beban emosional anak-anak menjadi jauh lebih buruk karena datangnya gempa susulan kuat yang terus terjadi. Anak-anak mungkin telah terpisah dari keluarga mereka dan / atau kehilangan teman atau anggota keluarga dan melihat rumah dan harta benda mereka hancur. Tidak diragukan mereka pasti bertanya-tanya kapan kehidupan akan kembali normal, ”kata Fajar.

“Sangat penting untuk memberikan dukungan dan perhatian ekstra kepada anak-anak dalam beberapa hari, minggu, dan bulan mendatang. Kami perlu memastikan anak-anak dipersatukan kembali dengan keluarganya serta memastikan pemulihan emosional bagi anak-anak. Dukungan kepada anak-anak menjadi salah satu bagian penting dari respons kemanusiaan ini. Hal ini tidak bisa dilupakan.”

 

Tim staf kemanusiaan dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save the Children saat ini sedang dalam perjalanan ke wilayah yang terkena dampak terburuk. Tim humanitarian berangkat dengan kapal sekitar 800 km utara dari Makassar di Sulawesi selatan karena keterbatasan akses di darat.

“Kami memiliki persediaan barang-barang bantuan yang siap untuk didistribusikan, termasuk terpal plastik dan tali untuk perlindungan sementara, peralatan kebersihan dan jerigen, serta perlengkapan pendidikan untuk membantu mengembalikan anak-anak ke sekolah secepat mungkin. Namun, respons ini akan menjadi tantangan yang cukup besar karena saat ini kami masih merespons di Lombok, yang dilanda gempa berkekuatan 6,9 pada bulan Agustus, serta serangkaian gempa susulan yang kuat.

-----
Yayasan Sayangi Tunas Cilik adalah yayasan nasional yang didirikan oleh warga negara Indonesia sebagai mitra dari Save the Children International untuk menjalankan berbagai program yang terkait dengan pemberdayaan hak anak di Indonesia. YSTC disahkan oleh Kementerian Hukum & HAM pada tanggal 21 Mei 2014 dan mulai beroperasi penuh menjalankan berbagai program kerja dan penggalangan dana sejak Mei 2015.  Di tahun 2017, YSTC telah bekerja di 11 provinsi, 40 kabupaten/kota, 316 kecamatan dan 857 desa, dan telah berdampak langsung bagi 147.580 anak dan 82.886 orang dewasa, di seluruh Indonesia. Kunjungi laman situs kami di www.stc.or.id  untuk info lebih lanjut.
 
Contact Person:
Fandi Yusuf (Communication Coordinator) : +62 8118193976
Tomy Rado (Digital Content Coordinator) +62 8118582978