60 persen sekolah di Sulawasi Tengah masih rusak setelah setahun gempa dan tsunami.

Jumat 27 September 2019
Setahun setelah gempa berkekuatan 7.5 skala Richter yang diikuti dengan tsunami di Sulawesi Tengah, diperkirakan 67 persen sekolah yang berada di 3 kabupaten dimana Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save the Children bekerja masih dalam kondisi rusak. Selama setahun berjalan, 434 sekolah telah diperbaiki dari 1,299 sekolah yang rusak akibat gempa, tsunami, likuifaksi dan tanah longsor.
 
Dari 865 sekolah yang masih rusak di kota Palu, kabupaten Sigi dan Donggala, 473 sekolah – lebih dari setengahnya – terkena dampak dan masih tidak aman untuk digunakan sehingga anak-anak belajar di ruang-ruang kelas sementara dan guru-guru sering menggabungkan beberapa kelas dalam satu ruang karena kekurangan tempat.
 
Dari berbagai keterbatasan yang ada, pemulihan kembali di Sulawesi Tengah yang luar biasa, didorong oleh ketahanan dan kemauan dengan semboyan #PASIGALABANGKIT dari masyarakat mendorong dibukanya kembali usaha-usaha bisnis, perbaikan rumah penduduk dan sekolah sementara kembali dalam proses belajar mengajar untuk ribuan anak-anak. Di sisi lain, more than 160,000 people remain displaced and many remote communities are just one landslide away from being cut off entirely from the outside world, with no access to vital public services.
lebih dari 160.000 orang masih tinggal di hunian sementara dan banyak warga di daerah terpencil rawan terkena longsor dan terputus dengan dunia luar dengan akses yang sangat minim atas layanan publik penting.
 
Putri, anak perempuan berumur 12 tahun, belajar di ruang kelas sementara yang dibangun oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save the Children setelah sekolahnya ditelan bumi akibat likuifaksi di Petobo. Putri selamat dari bencana likuifaksi yang tragis itu. Ia sekarang tinggal dengan orang tuanya dan adik laki-laki di hunian sementara Petobo yang dibangun pemerintah.
 
Putri bercerita kepada Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save the Children,
“Rumah dan sekolah saya terkena dampak dari likuifaksi. Saya ingat, waktu terjadi gempa, saya dan sepupu lagi di atas motor, kami lihat pohon kelapa mulai berjalan, tanah bergerak dan menjadi lumpur. Saya ingin menangis saat itu tetapi tidak bisa karena begitu takut. Gelombang lumpur mulai mendekat, saya lari sekencang-kencangnya menjauhi. Saya lihat rumah kami telah ditelan bumi sama halnya dengan sekolah kami. Akhirnya saya melihat bibi yang sedang menangis dekat rumah kami. Saya sangat ketakutan dengan gelombang lumpur yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya.
 
Dika, anak laki-laki berumur 11 tahun tinggal di pantai barat 100km arah utara dari kota Palu, tempat yang menjadi pusat gempa 28 September 2018. Gempa merusak sekolah Dika sehingga tidak aman untuk digunakan. Setahun setelah gempa, sekolahnya masih dalam kondisi yang menyedihkan.
 
Dika bercerita kepada Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save the Children,
“Saya sangat sedih melihat keberadaan sekolah setelah dihantam gempa. Kami harus belajar di tenda yang sangat panas dan bocor di saat hujan. Saat ini kami mempunyai ruang belajar yang baru tetapi saya merindukan sekolah yang lama karena di sekolah itu lebih nyaman. Sekolah lama kami sangat adem, bersih dan luas untuk kami belajar dan bermain. Saya berharap bisa kembali ke sekolah yang lama.”
 
Dino Satrio, Field Program Operational Director Emergency Response dari Yayasan Sayangi
“Anak-anak masih trauma dengan apa yang mereka alami tahun lalu. Banyak dari mereka kehilangan rumah, sekolah dan barang pribadi dan juga kehilangan orang-orang terdekat mereka. Anak-anak masih takut untuk kembali ke sekolah mereka yang rusak.
 
Sangatlah penting untuk membangun ruang kelas yang tahan gempa sehingga anak-anak dapat kembali melakukan aktifitas belajar dan bermain di sekolah yang aman. Kita juga harus mempersiapkan orang tua, guru-guru dan anak sekolah untuk tanggap terhadap bencana di kemudian hari karena Indonesia terletak di wilayah rawan bencana yang sewaktu-waktu bencana itu bisa terjadi.
 
Pembangunan kembali setelah bencana gempa membutuhkan waktu yang lama, kita mempunyai waktu yang panjang, walaupun upaya terbaik yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia, komunitas lokal dan NGO. Setelah satu tahun kami prioritaskan pembangunan kembali bukan saja gedung-gedung tapi juga komunitas terutama anak-anak yang sangat membutuhkan dukungan emosi dalam menghadapi trauma yang mereka alami.”
 
Ansyar Sutiadi, Kepala Dinas Pendikikan Kotamadya Palu bercerita,
“Prioritas utama kami adalah memperbaiki sekolah yang masih rusak sehingga anak-anak dapat kembali belajar di ruang kelas permanen. Kami juga ingin melatih masyarakat agar mereka tanggap bencana sehingga mereka terlatih untuk menyelamatkan diri dan harta benda mereka. Bagian kami sebagai Pemerintah Kota adalah memastikan pembangunan sekolah kembali mengikuti standar pembangunan kembali yang lebih aman dari bencana. Sayangnya, kami terkendala di dana yang tersedia. Kami sangat membutuhkan tambahan 1.7 juta USD  untuk dapat kembali membangun sekolah di Kota Palu dan penggalangan dana ini sangat berat.
 
#SulawesiOneYearOn