20 Guru Dilatih Menjadi Fasilitator Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah

Minggu 10 Maret 2019
Program SELAMAT (Sosialisasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas) menyelenggarakan pelatihan guru sebagai fasilitator untuk memperkuat kapasitas sekolah dalam meningkatkan keselamatan berlalu lintas di lingkungannya.


Kegiatan ini sekaligus mengenalkan modul Program SELAMAT kepada para guru yang akan digunakan di sekolah-sekolah dampingan. Pelatihan ini juga dihadiri oleh perwakilan Ditlantas Polda Metro Jaya dan perwakilan Kementrian Perhubungan sebagai narasumber sekaligus memberikan wawasan terkait kondisi lalu lintas di DKI Jakarta.

Para guru diajak mempraktekan setiap aktivitas yang nantinya akan diajarkan pada peserta didik di sekolah berdasarkan modul dan bagaimana cara menyajikannya dengan kreatif. Materi dari modul yang digunakan antara lain mencakup Kerentanan dan Hak Anak Saat Berlalu Lintas, Wawasan Lalu Lintas, Keselamatan Lalu Lintas untuk Anak dan Penggerak Teman Sebaya sebagai cikal bakal penguatan fasilitator sebaya.

Setiap sekolah memiliki kondisi lalu lintas dan infrastruktur yang berbeda sehingga para guru harus mampu mengidentifikasi resiko-resiko tersebut. Salah satunya dengan berlatih menganalisa kondisi lalu lintas di sekitar sekolah mereka dan menerapkan HVCA (Hazard, Vulnerable, Capacity Assessment) untuk mengenali risiko berlalu lintas.

Program SELAMAT akan mendampingi 20 sekolah di Jakarta Utara dan Jakarta Timur yang dinilai memiliki resiko lalu lintas yang tinggi berdasarkan rekomendasi dari Suku Dinas Pendidikan setempat, Ditlantas Polda Metro Jaya dan Kementrian Perhubungan. Kegiatan di sekolah akan dibantu oleh para guru yang berperan sebagai fasilitator dan menggerakan kampanye keselamatan berlalu lintas di level sekolah. Program ini akan berjalan hingga tahun 2022 untuk menambah pengetahuan dan merubah prilaku salah warga sekolah di dalam berlalu lintas.

Diharapkan dengan berperannya perwakilan guru di setiap sekolah, angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan siswa didik akan berkurang dan kewaspadaan warga sekolah akan terus meningkat. Hal ini sejalan dengan keinginan Save the Children dalam mengurangi angka kematian anak yang seharusnya dapat dicegah.