Kembali ke Keluarga: Mikrokosmos Penanggulangan Bencana

Jumat 7 Februari 2020
Oleh Victor Rembeth

"Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga."  – Lirik lagu serial Keluarga Cemara

Ketika sebuah krisis terjadi, yang paling merasakan adalah bagian terkecil atau mikorokosmos dari komunitas apapun di bumi ini, yaitu keluarga. Demikian juga berbagai dampak dari bencana, mungkin hanya diungkap sebagai data kerugian ataupun kerusakan dalam laporan yang sifatnya angka belaka. Namun bagi keluarga, kehilangan kepemilikan, apalagi anggota keluarga, bukanlah sekadar angka, tetapi dampak memilukan dari kejadian bencana. Anggota keluargalah yang paling merasakan kehilangan, kendati berbagai upaya mengurangi penderitaan sudah diupayakan oleh komunitas lokal, nasional, bahkan internasional semaksimal mungkin.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pertama di republik ini, Syamsul Maarif, berulangkali menekankan bahwa bencana harus dilihat dari level terkecil, yaitu satu nyawa, dan atau kerugian yang dialami oleh komunitas terkecil dalam strata sosial kita, yaitu keluarga. Pengalaman dalam melakukan kegiatan penanggulangan bencana telah memberikan pembelajaran, bahwa keluarga tidak bisa dianggap sebagai bagian yang diabaikan. Semua tingkatan kebijakan dan implementasi yang dilakukan secara nasional, daerah, bahkan internasional tidak akan bisa menggantikan titik tekan paling strategis, yaitu keluarga. Dari keluarga, seharusnya hadir upaya pengurangan risiko bencana.

Keluarga di tanah air tercinta, Indonesia, notabene menjadi unsur terpenting dalam masyarakat secara sosial dan budaya. Apapun latar belakang suku, agama, ras, dan golongan, tak akan ada satupun pihak yang dapat menggantikan peran keluarga dalam membangun masyarakat dan bangsa Indonesia. Agama dan keyakinan apapun di tengah bangsa ini meyakini bahwa keluarga, sebagai institusi pertama yang diciptakan oleh Tuhan, adalah unsur terpenting dalam membangun generasi bangsa yang menjadi manfaat bagi semua. Hal itu dibuktikan dengan ritual hari-hari raya keagamaan yang sangat kental dengan pergerakan "kembali ke keluarga".

Karena itu, keluarga dilihat bukan saja sebagai kelompok rentan yang bisa terdampak bencana, tetapi pada sisi lain, diyakini bisa melahirkan ketangguhan dalam mengurangi risiko bencana di negeri rawan bencana ini. Ayah, ibu, dan anak dapat menjadi elemen yang melahirkan kekuatan untuk dapat menghadapi berbagai ancaman bencana di negeri ini. Berbagai catatan dalam melakukan respon tanggap darurat bencana menunjukkan bahwa keluarga adalah "first responder" yang bukan saja efektif, tetapi mengenal kondisi lapangan dengan baik dan benar. Bahkan di keluarga, upaya psikososial terbaik bisa dilakukan.

Dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana oleh BNPB, ketangguhan keluarga dalam menghadapi berbagai risiko bencana telah dilihat sebagai prioritas yang harus diperkuat.

Sekitar 204 juta masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan bencana. Jika dalam satu keluarga terdapat empat orang, ada sekitar 51 juta keluarga tinggal di daerah tersebut. Jika dalam program-program sebelumnya, BNPB lebih memperkuat aparat pemerintah di daerah dan desa, sasaran mereka mulai tahun 2020 adalah keluarga di daerah rawan bencana. Upaya ini dianggap sangat penting dan karena itu, bukan saja mengandalkan sumber daya pemerintah pusat, daerah, dan desa, tetapi juga melibatkan semua pemangku kepentingan penanggulangan bencana.

Semua pihak sudah seyogyanya dilibatkan untuk aktif berpartisipasi. Para kepala keluarga, bapak, ibu, dan bahkan orangtua tunggal harus memahami risiko bencana di sekitar tempat tinggal mereka agar tingkat keterpaparan anggota keluarga terhadap risiko bencana bisa dikurangi.

Anak-anak tentu tidak bisa ditinggalkan dan menjadi pihak yang seakan tidak tahu apa-apa. Anak-anak adalah pihak rentan, tetapi memiliki kapasitas menjadi pahlawan ketangguhan menghadapi bencana. Pembelajaran tentang kebencanaan bukan saja ditularkan oleh orang tua di keluarga, tetapi juga di sekolah, di mana bencana bisa saja terjadi saat jam belajar. Anak-anak bisa menjadi "agent of change" untuk menghadirkan keluarga, sekolah, dan masyarakat tangguh bencana.

Kembali ke keluarga adalah ide brilian BNPB, yang bukan saja mengadopsi budaya dan nilai luhur bangsa Indonesia – yang menekankan perkuatan di titik paling prioritas, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab negara untuk meghadirkan masyarakat tangguh dalam menghadapi bencana secara apik.

Adalah sebuah inovasi manis oleh negara (BNPB), upaya penguatan ketangguhan keluarga dijadikan nomor satu. Kecil, tetapi efektif dan menjadi unsur utama ketangguhan. Bukan berlebihan bila dikatakan, bahwa pengelolaan bencana dalam komunitas mikrokosmos, kita dikembalikan kepada jati diri kemanusiaan yang sejati. Apapun ancaman dan bencana yang dihadapi, tak ada lembaga yang bisa menyaingi indahnya kebersamaan dalam keluarga.

Untuk itulah, program Keluarga Tangguh Bencana atau KATANA perlu dijadikan laboratorium penguatan masyarakat dan bangsa Indonesia. Menurut Deputi Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan, "Program KATANA merupakan bagian ikhtiar kita untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia."

Dia selanjutnya mengatakan, "Dalam pelaksanaannya, penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan membutuhkan mitra, baik itu dari komunitas, akademisi, lembaga usaha, dan media. Kita semua, tidak terkecuali, sebisa mungkin mengerahkan sumber daya yang kita miliki, baik sebagai individu, masyarakat, lembaga usaha, pemerintah, dan tentu saja keluarga, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang semakin tangguh dalam menghadapi bencana."

Marilah kita "kembali ke keluarga" – laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak, dalam penanggulangan bencana. Selamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Jadikan kepala keluarga dan orang tua bisa memberikan yang terbaik agar tidak lagi terjadi kerugian dan korban jiwa yang seharusnya bisa diatasi bila keluarga dijadikan tangguh menghadapi bencana.

Dengan KATANA, mari kita berpengetahuan, mari juga kita sadar, dan pada ujungnya, kita bisa berbudaya yang tepat untuk mengurangi risiko bencana. Keluarga Indonesia Tangguh memastikan anak-anak Indonesia siap untuk selamat lewat hadirnya orang tua – yang juga menjadi alat hadirnya rasa aman bagi semua.

Ayo jaga harta paling berharga, perkuat istana paling indah, dan lantunkan puisi paling bermakna, agar mutiara keluarga tetap hadir dalam ancaman bencana apapun. Bersama kita hadirkan KATANA, kembali ke keluarga untuk hadirkan Indonesia Tangguh.

–––
Victor Rembeth
Direktur Proyek Pengurangan Risiko Bencana
Save The Children di Indonesia

Opini ini sebelumnya telah terbit di kolom Indonesiana.id