Kekerasan Anak di Masa Pandemi, Urusan Siapa?

Kekerasan dan Eksploitasi Anak Urusan Siapa?

Jakarta - Sejumlah data menyebutkan bahwa kekerasan dan eksploitasi anak kerap terjadi dan semakin meningkat jumlahnya di masa pandemi ini. Berdasarkan data data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Januari-June 2020), menyebutkan bahwa sebanyak 3.000 anak menjadi korban kekerasan di rumah selama pandemi. Padahal bukankah seharusnya rumah adalah tempat teraman bagi anak untuk mendapatkan perlindungan? Kemudian pelaku kekerasan dan eksploitasi sering dilakukan oleh orang-orang terdekat anak.

Apa yang sebenarnya mempengaruhi kekerasan anak di rumah dan bagaimana tindakan tau respon yang bisa dilakukan sebagai publik dan bagaimana peran pemerintah dalam menangani kasus tersebut?
Semua pertanyaan besar di atas telah dirangkum melalui kampanye #PulihBersama Save the Children Indonesia episode 4 dengan tema ''Kekerasan dan Eksploitasi Anak di Masa Pandemi'' melalui infografis, suara anak, dongeng anak, webinar dan talkshow.
 
Webinar 4

Pada sesi webinar kampanye ini, menurut Ibu Kanya Asisten Deputi Perlindungan Anak dari kekerasan and Eksploitasi KPPA RI menyampaikan banyak faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kekerasan anak. Apa saja? berikut ulasannya.

Faktor risiko terjadinya kekerasan anak:
  1. Kurangnya pemahaman tentang kebutuhan anak, perkembangan anak, keterampilan, kemampuan parenting. Hal ini menjadi semakin sulit mengingat dalam masa pandemi ini banyak hal yang perlu dilakukan penyesuaian termasuk dalam penyesuaian pengasuhan anak.
  2. Rendahnya pendidikan. Pendidikan juga mempengaruhi kualitas pengasuhan anak di rumah. Jika orang tua/pengasuh memiliki pendidikan atau pengetahuan yang cukup dalam pengasuhan anak yang optimal, maka risiko-risiko kekerasan terhadap anak akan berkurang.
  3. Penghasilan rendah. Pada masa pandemi ini banyak orang tua yang kehilangan penghasilan bahkan mungkin kehilangan pekerjaan, padahal kebutuhan anak dan keluaga tetap berjalan. Situasi ini dapat mendorong terjadinya kekerasan anak dan eksploitasi anak untuk bekerja supaya dapat membantu perekonomian keluarga. 
 
Webinar 4B

Bagaimana cara merespon dan menindak kekerasan anak?

Kasus kekerasan anak semakin hari semakin bekembang dan rumit. Tentu perlu pengetahuan yang cukup tentang kiat-kita penanganan jika melihat kekerasan anak terjadi di lingkungan sekitar. Tata Sudrajat selaku Vice Director Program Impact and Policy Save the Children mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi pelopor dan pelapor jika melihat atau bahkan mengalami kekerasan anak di rumah maupun di area publik. Selain itu, kerja sama dengan kepolisian juga sangat penting dan kepolisian juga sangat aware dan terbuka dalam menangani kasus kekerasan anak, hal tersebut disamapaikan oleh bapak Asep dari Polda Metro Jaya. 

Untuk itu, urusan kasus kekerasan anak adalah urusan semua pihak yang meliputi orang tua atau keluarga sebagai orang terdekat dengan anak, pemerintah, masyarakat, guru, sekolah, lembaga sosial, dan komunitas lainnya. Dalam situasi pandemi saat ini, setiap anak harus mendapatkan perlindungan sesuai dengan tema Hari Anak Nasional Tahun ini yang jatuh pada 23 Juli 2020 adalah ''Anak Terlindungi, Indonesia Maju''. Lindungi anak Indonesia dengan cara berdonasi melalui Save the Chidren Indonesia di sini.  Udah tahu jingle Hari Anak Nasional 2020 belum? Dengarkan melalui video di bawah ini yuk!
 

Ditulis oleh: Dorpaima Lumban Gaol (Communications Dept)