Anak Dengan Disabilitas Berisiko Lebih Besar di Masa Pandemi, Kita Bisa Apa?

Anak Dengan Disabilitas Berisiko Lebih Besar di Masa Pandemi, Kita Bisa Apa?

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan bahwa 3.3% anak umur 5-17 tahun mengalami disabilitas. Proporsi terbanyak berada di umur 15-17 tahun sebagai kelompok usia tua bagi kategori anak-anak, dan laki-laki memilki proporsi lebih besar dibanding dengan perempuan. Kondisi ini tentu tidak mudah bagi anak-anak dengan disabilitas untuk menjalani kehidupannya dengan selayaknya sebagai anak-anak.

Dalam situasi pandemi saat ini, tantangan menjadi semakin besar dimana keterbatasan ruang gerak dan kebutuhan akan pendampingan yang cukup extra bagi anak-anak dengan disabilitas untuk tercegah dari infeksi COVID-19. Sejalan dengan itu, data menunjukkan bahwa selama pandemi ini 70% anak dengan disabilitas belum memahami protokol kesehatan terkait pandemi COVID-19. Save the Children merujuk pada data dari Kajian Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas Respons COVID-19 pada April 2020. 

Presentase diatas merupakan angka yang cukup besar dan sudah seharusnya kita perhatikan. Ditambah pula dengan keterbatasan-keterbatasan lain yang dimiliki oleh anak disabilitas yang kerap bergantung pada orang tua maupun pendamping dalam memenuhi kebutuhannya seperti mobilitas, gerak, maupun komunikasi. 

Jika kita menelisik dari sisi pendidikan, menurut data Pusdatin Kemendikbud dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, bahwa 67.97% anak dengan disabilitas sulit mengikuti pelajaran online. Anak-anak itu butuh pendekatan dan pendampingan khusus untuk dapat tetap belajar selama pandemi. 

Dengan kondisi dan fakta di atas, apa yang dapat kita lakukan untuk memberikan dukungan dan memastikan perlindungan bagi anak-anak disabilitas secara khusus dalam pandemi ini?
  • Meningkatkan Pola Pengasuhan Anak
Semua anak disabilitas maupun non-disabilitas pada dasarnya sangat rentan terpapar COVID-19. Namun, anak dengan disabilitas memiliki risiko yang lebih besar. Untuk itu, pola pengasuhan anak menjadi sangat penting untuk disesuaikan dengan kebutuhan anak saat ini. Contoh prakstisnya adalah dengan memberikan rasa empati dan kasih sayang yang lebih intens dari biasanya untuk meredam situasi sulit saat ini, secara verbal maupun fisik dengan harapan anak akan merasa lebih aman dan secara emosional juga akan lebih tenang. 
  • Membangun Komunikasi 
Komunikasi menjadi salah satu hal penting antara anak dan orang tua ataupun pendamping. Ketika berkomunikasi dengan anak secara khusus bagi anak dengan disabilitas, orang dewasa/orang tua/pendamping dapat mensejajarkan tinggi tubuh dengan tinggi anak ketika berbicara, melakukan kontak mata, memberikan ruang dna waktu bagi anak untuk berpikir dan menyampaikan pendapatnya serta mencoba mendengarkannya dengan baik. Hal ini akan meningkatkan hubungan kedekatan antara orang tua dan anak disabilitas dalam membangun komunikasi yang lebih baik.
  • Lingkungan yang Inklusif
Anak dengan disabilitas membutuhkan lingkungan yang aman dan inklusif bagi mereka. Untuk mewujudkan hal ini, dibutuhkan peran lintas sektor dan masyarakat publik agar menyadari bahwa anak-anak dengan disabilitas memerlukan bantuan kita dan sebagai orang dengan non-disabilitas juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka dalam ikatan kemanusiaan. Dalam hal ini, peran pemerintah juga sangat diperlukan dalam pendampingan tentang apa yang dapat dilakukan oleh orang tua, pekerja sosial dan secara khusus dalam penyediaan APD serta dukungan psikososial, pemulihan anak yang terpapar COVID-19 dan intervensi-intervensi lainnya.

Perlindungan bagi anak dengan disabilitas dalam masa pandemi ini merupakan tugas yang harus kita lakukan secara bersama-sama. Dimulai dari peranan orang tua dalam pengasuhan, peran masyarakat dalam membangun lingkungan yang inklusif, pekerja sosial, lembaga non-pemerintah dan yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari pemerintah setempat juga pemerintah pusat yang terkait. 

Pembahasan Risiko Anak dengan Disabilitas ini kami rangkum pada kampanye #PulihBersama dalam webinar, suara anak, dongeng, talkshow, live consultation. Klik tautan untuk menyaksikan kembali. 

Ditulis oleh: Dorpaima Lumban Gaol (Communications Dept)