Bersama Lawan Corona

“Saya sangat takut dengan virus ini. Sempat terlintas di benak saya, bila saya tertular virus, bagaimana nasib kedua anak saya...” kata Ibu Lutsia. Sebelum pandemi terjadi, Ibu Lutsia biasa bekerja sebagai pemaras (pemangkas) cengkeh dengan upah Rp 50.000 per hari di Desa Manimbaya, Donggala, Sulawesi Tengah. Namun saat ini ia tidak lagi bisa bekerja karena pandemi.

Selama pandemi ini, sehari-hari Lutsia hanya mampu memasak satu belek (kaleng) beras untuk dijadikan bubur, tanpa tambahan sayur ataupun lauk pauk lainnya. Itulah yang ia dan kedua anaknya santap tiap hari, termasuk bayinya yang masih berusia sembilan bulan.

Ini adalah masa-masa kritis yang dihadapi oleh anak di setiap menitnya



Dari segala macam dampak yang ditimbulkan baik dalam aspek ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Anak-anak menjadi kelompok rentan yang dapat terancam kualitas hidupnya. Save the Children berkomitmen memberikan respon untuk membantu terus hidupkan hak-hak anak dan keluarganya.



Sahabat, yuk berikan menit berhargamu untuk membantu dan menyelamatkan masa depan anak!

Donasi kamu akan disalurkan untuk program Save the Children yang bekerja untuk memastikan anak-anak Indonesia memiliki awal mula yang baik, terlindungi, dan terpenuhi hak-haknya.

Dengan berdonasi, Sahabat juga telah berkontribusi untuk program Save the Children demi memenuhi kebutuhan hak-hak anak Indonesia.