Awaru

Donasi pendidikan | Bantu Awaru
bantu-awaru1(1).jpg

Berhenti Sekolah


Tak seperti anak-anak seusianya, Awaru lebih banyak menghabiskan waktunya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Makassar. Sudah 2 bulan Ia berhenti sekolah. Meski sekolah tempatnya belajar jaraknya hanya beberapa meter dari rumah, Awaru enggan berangkat.


Teman-teman Awaru yang juga pemulung selalu baik dengan Awaru, tetapi yang lainnya selalu mengejeknya - Ibu Awaru.


Predikat pemulung membuat Awaru sulit bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Tak jarang Ia diejek "bau sampah". Oleh karena itulah Awaru tidak punya banyak teman dan lebih sering menyendiri saat di sekolah.


Harus Kembali Ke Sekolah!


Jika bisa memilih, Awaru pasti tidak ingin dilahirkan sebagai anak pemulung. Ia juga ingin bisa belajar dan bermain dengan layak, sama seperti anak-anak lainnya.


Nasib memang tidak bisa dipilih, tapi bisa diperjuangkan. Meski dibesarkan di bukit sampah, Awaru punya mimpi besar, dan semuanya tak mungkin dicapai jika Awaru tidak kembali ke sekolah.


Melalui Program Bring and Give Hope Outside of Trash (BRIGHT) yang diinisiasi Save The Children, anak-anak seperti Awaru diperjuangkan masa depannya. Di Pusat Kegiatan Anak yang berlokasi di tiga kecamatan yaitu Manggala, Tamangapa dan Biring Romang, ratusan pemulung cilik bermain dan belajar selayaknya anak-anak lakukan di umur mereka. Selain itu, ada pula pelatihan wirausaha dan pengelolaan finansial bagi orang tua, pengembangan untuk pemuda, serta perlindungan dan penjaminan seluruh hak-hak anak di sana.


Awaru bukan satu-satunya anak yang mengalami stigma buruk karena terpaksa bekerja sebagai pemulung. Masih ada 400 anak lagi di Tamangapa Makassar yang harus diperjuangkan masa depannya.
Yuk, dukung hak pendidikan pemulung cilik Makassar dan anak-anak Indonesia lainnya dengan donasi sekarang!


bantu-awaru2(1).jpg

Total donasi sejauh ini:

Rp 932.043,- terkumpul dari Rp 350.000.000

Share this campaign: